Narasumber Dialog Interaktif di J TV Surabaya, Menyoal Bencana Banjir dan Longsor di Kab. Jember dan Ancaman Wilayah Lainnya di Jatim (11 Januari 2006)
Tahun 2006 baru dimulai, tanggal 2 dinihari di Jember disambut dengan banjir longsor yang mengungsikan 8000 lebih jiwa. Ratusan orang kehilangan tempat tinggal, ribuan hektar sawah gagal panen, 112 orang meninggal dunia seketika. Karena kejadian tepat di hari sabtu, minggu pun suasan kantor-kantor pemerintah pada tutup.
Manamejen bencana yang buruk, membuat penganan tidak bias cepat dan menyeluruh sebagai tindakan tanggap darurat. Meskipun bencana memang tidak hanya tanggap darurat, tetapi butuh tindakan pemulihan pasca bencana dan yang terpenting adalah pencegahanya. Seperti halnya aids, tidak hanya bisa dibiarkan, dia butuh diurus tetapi yang terpenting adalah pencegahannya.
kemarin, 11 Januari 2006. Aku di undang oleh J-TV, tv milik Jawa Pos Groups. Pengalaman pertama kali di tahun ini dapat undangan jadi narasumber sekaligus pengalaman pertama masuk studio J-TV di gedung graha pena Jl.Ahmad Yani No.88 di Surabaya. Di panel dengan pakar dari ITS yang sangat akademis dan menghilangkan kepekaan pada korban. Bahwa ini adalah bencana alamiah akibat struktur tanah androsol gunung Argopuro yang merupakan bebatuan ”muda” yang mudah rapuh. Iya semoga, ini bukan teks book memandang lingkungan yang memang rusak disana.
J-TV yang setiap sore ada siaran berita ”berboso jowo ngoko”, katanya khas suroboyoan memang cukup membuat warga Jawa Timur kesengsem. Sayangnya pengalamanku mengalahkan kebesaran Jawa Pos Group yang punya Tiras Koran terbesar di Indosenia dan punya banyak tbloid, hingga membuat TV ini. Sebabnya sederhana Studio TV yang didalamnya menyala lampu ribuan watt untuk menerangi saat live dialog, tentu butuh suasana penyejuk. Sayangnya pengalaman tak terlupakan terjadi pada kami yang lagi sialog. AC di ruangan studio mati, pantes saja keringat mengalir desar sebesar butiran jagung. Sang penyiar dan kepala produser dengan rendah hati minta maaf…)**
Bencana banjir longsor Jember di dialogkan ”membedah bencana Jember”, di dalam studio narasumber dan pemandu dialog banjir keringat juga karena seperti di oven. Untungnya keluar ruangan studio kami tidak jadi ”roti kukus” hehehe……