ini sebuah puisi indah yang menginspirasi saya ketika menonton sebuah film bagus yang berjudul Akeelah And The Bee. film ini mengisahkan tentang seorang remaja yang bisa melampuai kekuatan yang dia sendiri semula tidak menyadarinya.
kemapuan mengeja dengan mengenali bahasa melalui pendekatan “ibu bahasa”, bukanĀ pendekatan menghafal tetapi mengenali akar bahasa. itulah yang diajarkan sang mentor yang luar biasa kepadanya. juga bagaimana mengetahui kecendurangan budaya “mental model” gaya belajar tiap orang yang membedakan. ternyata ketika ditemukan dan dikembangkan bisa sangat membantu kemapuan seseorang meningkatkan kapasitas dirinya.
saat belajar mengeja dan mengenali kekuatan dirinya itulah puisi yang terpampang di dinding kerja sang mentor diminta untuk dibacanya. berikut puisinya yang ditulis oleh Marianne Williamson:
Kembali pada CINTA
Ketakutan kita yg paling dalam bukanlah ketidakmampuan
Ketakutan kita yg paling dalam adalah bahwa kita sedemikian kuat tanpa batas
Cahaya, bukan kegelapan, yg paling kita takuti.
Kita bertanya pada diri sendiri,
Siapakah saya hingga bisa menyebut diri cerdas, cantik, gagah, berbakat,
dan luarbiasa?
Sesungguhnya, siapakah kau?
hingga tidak menjadi semua itu?
Kau adalah kuasa Tuhan
Mengambil peran kecil tak akan berguna bagi dunia.
Tidak ada yang memukau dengan mengerdilkan diri
hanya demi orang lain merasa nyaman disampingmu.
Kita diciptakan untuk bersinar, sebagaimana anak-anak.
Kita dilahirkan untuk mewujudkan kemuliaan Tuhan yang ada
di dalam kita…
kemampuan ini tidak hanya ada pada beberapa orang;
tetapi ada di dalam setiap orang.
Dan ketika kita memancarkan cahaya kita sendiri,
secara tak sadar kita membebaskan orang lain
untuk melakukan hal yang sama
Ketika kita bebas dari ketakutan kita sendiri,
kehadiran kita seketika akan membebaskan orang lain.