alam tidak pernah berbohong. dia membawa pesan dalam bahasanya yang diberikan untuk kelangsungan kehidupan. itulah ungkapan singkat dari syair berjudul bulan biru. ini merupakan oleh-oleh saya dari dialog dengan sahabat yang gemar mengamati alam (belajar pada alam semesta) itu tepatnya.
kemarin saya berkunjung kepada beberapa kawan di kota malang dan sempat mampir ke Kota Batu. lalu bertemu sahabat saya Gus Udin. dia adalah tokoh lokal di batu yang gemar melakukan gerakan lingkungan, budaya dan keagamaan berdasarkan tafsir-tafsir yang diarahkan untuk keseimbangan kehidupan. baik untuk antar manusia maupun manusia dengan alam.
sepenggal kata tentang “ngaji” bulan biru. adalah lontaran yang muncul waktu panggung “pertaubatan nasional” yang di bingkai dengan eprtunjukan tokoh “petruk taubat”. ya tokoh punakawan dalam kisah wayang purwa yang aslinya dewa tapi menjelma menjadi rakyat jelata. tapi di tengah perjalannya peturk sempat jadi raja.
apa kaitannya petruk, bulan biru dan tatanan saat ini? “begitu tanya saya”. bahwa saya sempat “mengamati bulan dalam beberapa waktu. dan yang menarik skr di lingakran bulan itu ada cahaya berwarna kebiru-biruan”, demikian Gus Udin berkisah. saya simak dengan penuh perhatian dan saya tanya lagi “memangnya kenapa kalau di aura bulan itu skr ada warna birunya?”
“dunia sedang berubah. banyak peristiwa banjir dan luapan air laut benar-benar sedang meluas di berbagai wilayah benua bumi. bahwa permukaan air laut memang meningkat dan luasan lautan makin luas saja, mengingat banyak daratan yang tergerus olehnya. maka ini akan berpotensi pada kelangsungan ketersediaan air, ketahanan sistem irigasi untuk pangan dan seterusnya.
menarik. saya menangkap pesan bahwa ini penjelasan lain dari “rumus-rumus” dan analisis tentang pemanasan global dan perubahan iklim dalam pendekatan yang lain. bahwa curah hujan meningkat, sepanjang 2009-2010 juga kalender seperti “musim hujan kembar” alias hujan terus menerus.
diam-diam saya amaati menjelang subuh keadaan bulan yang tinggal seperempat kemarin malam. dan memang ada warna lain selain warna bulan yang konon khas kuning saja itu. bahwa ada cincin ”kebiru-biruan” tapi saya masih belum bisa memastikan sebenarnya itu pantulan apa dan akan membawa rekasi dan efek apa pada kelanjutan sistem kehidupan di bumi.
pesan menarik dari temuan bulan biru ini bagi saya adalah, bagaimana alam selalu membawa tanda-tanda dan menjelaskan sesuatu. dan inilah yang dilakukan oleh para ahli astronomi, ahli falakh dan para kaum filsuf untuk belajar mengeja dunia dari bahasa alam semesta. begitu pun para petani di jawa dan china serta arab, banyak belajar pada bagaiman bulan dijadikan salahsatu pendekatan untuk belajar menemukan sistem bercocok tanam dan menghitung putaran bumi yang pada akhirnya menghasilkan kalender harian.
seankan ingin menegaskan bahwa kita perlu untuk senantiasa berserasi dengan alam, maka semua bahasa “tanda-tandanya” penting dijadikan peringatan. baik itu akan membawa kebaikan maupun perubahan yang masih penuh misteri. nyatanya aura bulan biru itu sekarang jelas adanya. silahkan amati ketika bulan sedang penuh dan purnama, ikuti perubahannya tiap bulan.
selain merasakan betapa indahnya sang bulan, sebenarnya ini juga tips (resep) jaman orang-orang dahulu, untuk merasakan putaran dunia yang dirasa sangat cepat. maka dengan mendongakkan kepala keatas dan menikmati bintang-bulan, ada sesuatu yang lain. selamat mencoba!
