Manifesto I S I

Manifesto I S I


“MERAYAKAN PROSES MENCIPTAKAN”

Yayasan ISI

Yayasan ISI

ISI adalah Yayasan Inovasi Sosial Indonesia yang percaya bahwa belajar itu proses mencipta. Mengapa proses mencipta? Karna kami percaya bahwa Perubahan dan Proses ibarat kata adalah kembar identik, ada perubahan ada proses dan sebaliknya. Maka sebagai perayaan terjadinya perubahan di lingkup Inovasi Sosial bisa dikerjakan dengan “merayakan proses menciptakan” oleh para pelaku inovasi sosial.

Karena ISI percaya bahwa tiap manusia hidup bisa seperti gelas isi air separo. Separo mengandung air, separonya berisi udara. Bisa saja air dalam gelas tiap orang itu adalah air putih, air kopi, cat berwarna, sari buah dan yang lainnya. Dan separo udaranya adalah semangat hidup, cita-cita, vis misi yang selalu memiliki minat, hobi, pengalaman, gairah dan suara jiwanya yang tidak sama dengan orang lain.

Karena ISI percaya tiap orang bisa menjadi pelaku perubahan. Bahwa tiap orang yang memiliki suara jiwa untuk menjadi bagian dari kebaikan. Maka senantiasa melihat setiap orang berkelimpahan dengan kekuatan dan kecerdasan yang membedakan adalah nilai penting dalam memaknai proses terjadinya perubahan.

Karena kami percaya, dengan ketrampilan personal dan ketrampilan sosial, maka setiap individu yang terlibat dalam suatu program pembangunan sosial bisa semakin memperkuat terwujudnya visi dan misi yang sedang dikerjakan bersama kelompoknya. Maka secara terus menerus berinvestasi sosial, mengelola dan memperluas jaringan, mendoumentasikan dan merefleksikan pengalaman belajar dari praktek terbaik akan menyediakan produk pengetahuan yang berlimpah bagi para pelaku perubahan.

Dan kami percaya bahwa kemiskinan gagasan/ide inilah yang menjadi salah satu sumber mandegnya berbagai perkembangan sosial. Termasuk yang berkaitan dengan pendidikan, lingkungan hidup, ekonomi, kesehatan, teknologi, seni dan budaya serta lainnya. Maka menghidupkan kembali impian bersama dan imajinasi pada situasi terbaik yang diinginkan bisa dengan formula STMJyang berarti sederhana (bisa di bayangkan cara mengerjakan dan hasilnya), terukur (berbatas waktu dan jumlah capaian), mudah (bisa dikerjakan dengan berbagi minat dan peran, termasuk skema pembiayaan), jelas (siapa yang mengerjakan dan dimana wilayah-lokasinya).

Inilah jejak kehidupan yang ISI dambakan. Ketika setiap orang memilih peran terbaiknya, membagi kekuatan nya dan terus-menerus saling berbagi dan saling sinau. Maka impian lahirnya jejaring masyarakat sosial yang mampu mengubah ketegangan sosial menjadi ketegangan kreatif bisa menjadi inspirasi bagi masa depan masyarakat dunia dalam merayakan proses menciptakan.

14 oktober 2014.
Yayasan Inovasi Sosial Indonesia ;
“membantu Indonesia makin berisi”

Iklan
Sabun Pensil Kertas

Sabun Pensil Kertas


Solomon Northup. seorang korban penculikan yang pada tahun 1841 di USA waktu itu masih terjadi jaman kegelapan dalam perbudakannya. berjuang menuntut sistem perbudakan dan penculikannya. kalah di pengadilan, kemudian menerbitkan buku “Tweleve Years A Slave”.

buku inilah kemudian menginspirasi sutradara Steve Mcqueen memvisualkannya dalam layar lebar yang sejak mendengar musiknya suasana syahdu dan menyayat-nyayat perasaan. sisi gelap amerika dengan segala rangkaian penguasaan manusia atas manusia. yang menurut para pemilik budak hasil jual belinya dari sesama penjual budak. melihat film ini saya teringat akan kisah perubdakan di jazirah arab yang filmnya pernah saya tonton. seperti yang di ksiahkan dalam pribadi billal bin rabbah. bagaimana abad 600 masehi itu di jazirah arab juga berlangsung sistem kegelapan [begitu kisah yang sejak masih madrasah ibtidaiyah] dulu diceritakan oleh para guru sekolah.

kisah pada film ini dimulai dari sebuah keluarga Solomon Northup yang piawai memainkan biola dan hidup tentram berubah dalam waktu semalam. ketika Solomon menerima tawaran dua orang yang mengaku sebagai pesulap ulung untuk main kolaborasi dalam pertunjukan sulapnya. dengan ketrampilan musikalnya pada biola di tawari gaji 1 dollar perhari dan tambahan 3 dolla r per minggu dengan kontrak selam sebulan.

usai menerima tawarannya. solomon bersama dua orang yang mengajaknya baru 3 hari kemudian dia paham kalau dia diculik dan di jebak usai jamuan makan ketika di tuangi anggur hingga membuatnya mabok. dan besoknya dia sudah dalam posisi kaki serta tangan di rantai di sebuah ruangan pengap.

darik satu tuan ke tuan lainnya. dari perkebunan satu ke perkebunan lainnya. perjalanan panjang dan berbagai kisah kekerasan dialaminya. di beberapa adegan saya sendiri tak kuasa untuk tidak memalingkan muka ketika penyiksaan para orang2 yang diperbudak oleh para tuan dan nyonya ini menerima ukuman apapun. tidak hanya penyiksaaan karena memanen kapas yang terlalu sedikit dari target harian. tapi untuk yang perempuan juga harus siap melayani tuannya untuk dibangunkan tengah malam agar bisa memuaskan nafsu sexnya.

ditengah film ada peristiwa ketika solomon tergerak pikirannya untuk menuliskan surat kepada keluarga dan temanya. pada saat mendapat kesempatan mengambilkan paket2 kebutuhan nyonyanya di toko langganan untuk mendapatkan benag, kertas dan alat perlengkapan rumah. di tengah jalan dia menyelipkan satu kertas yang diambilnya untuk menuliskan suratnya.

harga satu kertas ini terlalu mahal. ketika di perjalanan dia mencoba untuk berbelok dari jalan biasanya. ternyata menjumpai dua orang yang berkulit yang sama dengannya sedang bersiap menghadapi akhir dari nafas hidupnya. sudah berada dalam tangan di ikat dan di lehernya dikalungkan tali yang siap ditarik oleh para penghukumnya [entah salah apa]. sambil mendengar erangan dan adegan ini saya tidak kuasa untuk menatap layar.

sedih. ngeri. sekaligus mengajak belajar. dialog2 satir penuh kedalaman makna dari rasa putus asa dan mengelola harapan antara solomon dengan patsey [budak perempuan] yang dengan memelas meminta agar satu permintaannya untuk menjadi harapan terbaiknya bisa dilakukan oleh solomon agar dia membantu patsey untuk mengakiri hidupnya dengan meneggelamkan di danau.

ahhh….. betapa di film ini selain penguasaan manusia atas manusia. juga digambarkan bahwa para tuan dan nyonya itu bukan lagi percaya yang berkulit hitam di hadapannya adalah manusia. tetapi mereka menyebutnya sebagi property [peralatan] yang bisa di perlakukan semaunya.

seperti itulah ketika suatu pagi patsey ditemukan tidak berangkat ke kebun dan baru siang dia kembali. sontak ketika sejak diketahui tidak ada tuduhannya adalah melarikan diri. dengan tuduhan ini maka kalimat apapun menghadirkan cambukan hingga kulit punggung mengelupas. padahal yang sebenarnya adalah “saya tidak lari. tapi saya sedang memelas kepada nyonya di sebelah blok sebelah sana [perkebunan terdekat dari blok tempat dia perbudak] untuk mendapatkan ini. hal ini ku lakukan karena aku sudah tidak tahan dengan bau badanku sendiri”. begitulah patsey memberikan pejelasan singkat. begitulah mahalnya harga sebutior sabun yang di dapatkan patsey. seratus cambukan untuk sebutir sabun demi melawan bau badannya.

selain sabun. pensil kertas huruf dan kata yang bisa dibaca serta dituliskan dalam seseorang sedang menjadi manusia kehilangan kebebasan [diperbudak] maka itu merupakan sebuah dosa dan bersiaplah menghadapi hukuman. sebab bisa membaca dan menulis itu adalah kutukan bagi seorang [maaf; negro], begitu digambarkan dalam film ini sebagai kesalahan besar.

perjuangan solomon northup ini adalah kisah nyata dari buku yang di tulisnya sendiri. hingga dimana dia mati, kapan tanggalnya dan di kuburkan dimana dalam perjalanannya kemudian tidak ada yang pernah tahu. hal itu setelah dia bebas dari perbudakan karena pertolongan seorang tuan yang pernah dia ikuti, berhasil dia kirimi surat berkat bantuan salah satu rekannya bernama Bass yang dari kanada yang juga di perbudak oleh tuan terakhirnya. usai membantu solomon sepertinya si bass juga hilang dari muka bumi.

setelah bebas karena solomon berhasil berkirim surat [tentu berkat pensil dan tinta dari buah arbey]. dia kembali pada keluarganya. setelahnya dia dalam kisah nyatanya dia bergabung dengan gerakan obolisi untuk perjuangan kebebasan dari perbudakan. banyak melakukan ceramah dan pembebasan budak di kereta api bawah tanah pad ajamannya. itulah yang dituliskan dalam barisan tulisan di layar begitu film ini selesai.

Anda mau lihat utuhnya dan mengenali kekejaman abad kegelapan di AS pada tahun2 1841-1900an. ini layak menjadi referensi. maka bener2 sejarah memang ketika seorang obama yang skr bisa menjadi presiden di AS. bahwa keadilan memang tidak pernah jatuh dari langit. tetapi selalu melalui proses perjuangan dan didalamnya mengundang resiko serta pengorbanan.

tepian bendungan,
12 Juni 2014.

Layang Layang Peradaban


(​menerbangkan harapan)

kata kunci : sejarah asal muasal, unsur magis, jejak sosial budaya, strategi pertahanan dan alat bantu perkembangan ilmu pengetahuan. 
Layang-layang sudah lama dikenal sebagai permainan tradisional anak-anak di seluruh Indonesia dan dunia. Kata layang sendiri kalau di bahasa Jawa kromo adalah tingkatan sebutan untuk surat – serat – layang – nawala. Layangan (bermain layang-layang), layang, melayang (mengudara). Bermain di udara. Bersahabat dengan angin. 

Mainan ini mudah dibuat. Bahan dasarnya adalah kertas, potongan bambu kecil, dan lem. Untuk memainkannya, layang-layang diterbangkan ke angkasa dengan segulung benang gelasan yang bisa ditarik-ulur. Di angkasa layang-layang diadu. Siapa yang terlebih dulu memutuskan benang lawan, dialah pemenangnya.

Layang-layang terbang ke angkasa berkat gaya-gaya aerodinamika dari gerakan relatifnya terhadap angin. Angin relatif itu ditimbulkan oleh aliran udara alamiah atau tarikan layang-layang lewat benang penghubung.

Karena populernya, bentuk layang-layang menjadi salah satu bagian dari bangun datar ilmu matematika.
Layang-layang sering dibuat dalam berbagai bentuk dan ukuran. Yang umum dikenal memiliki panjang diagonal 20 cm – 40 cm. Namun dalam perkembangannya, bentuk layang-layang tidak selalu segiempat. Sesuai kreativitas seseorang, layang-layang juga dibuat berbentuk lingkaran, segienam, bahkan hewan, dan sebagainya dilengkapi gambar dan warna yang semarak.

Biasanya, layang-layang seperti itu merupakan daya tarik pariwisata atau benda cendera mata.
Sejak 1970-an, bentuk layang-layang selalu dimodifikasi para seniman. Ukurannya pun tidak lagi kecil tetapi sangat besar, yakni dalam bilangan meter.

Bahkan tidak jarang dibuat dalam bentuk tiga dimensi sehingga harus dimainkan oleh beberapa orang sekaligus menggunakan tali tambang sebagai pengganti benang.
Namun layang-layang demikian tidak untuk diadu, dalam arti sampai memutuskan tali lawan. Layang-layang seperti itu biasanya dimainkan oleh orang-orang dewasa dan dilombakan dalam suatu festival.

Di Indonesia lomba dan festival layang-layang bertaraf internasional sudah merupakan agenda tetap di sejumlah daerah, seperti Pangandaran dan Bali. Layang-layang festival dinilai berdasarkan bentuk, komposisi warna, keelokan gerak, bunyi gaungan, dan lama mengudara.

Magis
Uniknya, di berbagai daerah layang-layang dikenal sebagai benda magis religius. Di Bali, misalnya, masyarakat masih mengenal layang-layang untuk melindungi singgasana para dewa.

Dewa Layang-layang di Bali adalah Rare Angon. Dewa itu selalu diberi sesaji dan disembah sebelum layang-layang diterbangkan. Layang-layang yang telah disucikan itu merupakan benda sakral dan disyaratkan tidak boleh menyentuh tanah. Bila hal itu tidak diindahkan, konon akan terjadi kemalangan.

Layang-layang hias dan layangan Daun  (foto: museum-layang.com)
Lain lagi di Sumatera Barat. Masyarakat masih percaya pada layang-layang bertuah yang bisa memikat anak gadis. Namanya layang-layang hias dangung-dangung.
Di Pulau Jawa ada layang-layang yang digunakan untuk mengusir serangga dan burung liar di ladang sawah. Di beberapa daerah, layang-layang dimainkan sebagai bagian dari ritual tertentu. Biasanya terkait dengan proses budidaya pertanian. 

Layang-layang paling sederhana terbuat dari helai daun yang diberi kerangka dari bambu dan diikat dengan serat rotan. Layang-layang semacam ini masih dapat dijumpai di Sulawesi tenggara dan beberapa wilayah yg lain.
Di Jawa Barat, Lampung, dan beberapa tempat di Indonesia ditemukan layang-layang yang dipakai sebagai alat bantu memancing. Layang-layang ini terbuat dari anyaman daun sejenis anggrek tertentu, dan dihubungkan dengan mata kail. Di Pangandaran dan beberapa tempat lain, layang-layang dipasangi jerat untuk menangkap kalong atau kelelawar.

Lukisan gua
Entah sejak kapan layang-layang dikenal di Indonesia. Belum ada sumber sejarah yang menyebutnya secara pasti. Beberapa rangkaian relief cerita pada candi sekilas hanya menampilkan layang-layang berupa bagian dari tumbuhan yang diterbangkan dengan seutas tali.
Penemuan sebuah lukisan gua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, pada awal abad ke-21 yang memberikan kesan orang bermain layang-layang, menimbulkan spekulasi bahwa tradisi layang-layang sudah lama muncul di Nusantara.

Di Nusantara banyak ditemukan bentuk-bentuk primitif layang-layang yang terbuat dari daun-daunan. Di kawasan Nusantara sendiri catatan pertama mengenai layang-layang adalah dari Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) dari abad ke-17, yang menceritakan suatu festival layang-layang yang diikuti oleh seorang pembesar kerajaan.
Menurut sumber lain, layang-layang pertama kali dikenal sekitar 3.000 tahun yang lalu di China. Di negara itu layang-layang disebut ”rajawali kertas”. Dari sana, layang-layang mulai disebarluaskan ke negara Asia lain seperti Korea, Jepang, Malaysia dan India. Pendapat lain mengatakan, layang-layang ditemukan pada abad ke-5 SM oleh ilmuwan Yunani dari Tarentum.
Ada kisah menarik tentang layang-layang China. Pada masa pemerintahan Dinasti Han (200 SM-200 M), militer China menempelkan potongan batang bambu pada layang-layang mereka. Saat layang-layang melintasi pasukan musuh, angin yang menerobos rongga bambu mengeluarkan bunyi siulan. Barangkali karena jumlahnya banyak, siulannya menjadi gemuruh. Cukup untuk membuat musuh panik dan lintang pukang melarikan diri.
Dalam bahasa Inggris, layang-layang dikenal dengan sebutan kite. Nama kite itu diambil dari nama burung pemangsa yang anggun dan lemah gemulai kepak sayapnya saat terbang.
Di Asia, layang-layang kerap kali berkaitan dengan upacara keagamaan atau kepentingan agama. Banyak layang-layang dari China dibuat berwujud naga dari cerita rakyat. Bentuk tradisional lainnya adalah burung, kupu-kupu, bahkan kelabang. Di Malaysia, menerbangkan layang-layang di atas rumah pada malam hari dipercaya dapat menjauhkan roh jahat.
Kecuali sebagai permainan, pada abad pertengahan China pernah membuat layang-layang untuk tujuan militer, antara lain untuk mengintai musuh dan mengukur jarak keberadaan musuh. Di Korea, ritual menerbangkan layang-layang yang ditulisi nama dan tanggal lahir seorang bayi selalu dilaksanakan setiap tahun. Tradisi itu dimaksudkan agar si anak selamat sampai hari tua.
Layang-layang menyebar hingga ke Selandia Baru. Bentuk layang-layang di Eropa mulai berkembang pada abad pertengahan (1100 – 1500). Salah satunya dikembangakan dengan panji-panji militer serupa kantung penangkap angin. Baru tahun 1500-an muncul bentuk jajaran genjang, yang kemudian menjadi populer di Eropa.

Jepang
Meskipun sudah tergolong negara maju, ternyata masyarakat dan pemerintah Jepang paling getol memopulerkan layang-layang. Di sana layang-layang bukan sekadar permainan, tetapi menjadi karya seni bermutu tinggi.
Sejak lama banyak sekolah di Jepang mengajarkan kerajinan layang-layang kepada para murid sebagai bagian dari ekstrakurikuler mereka. Karena itu era layang-layang mengalami kebangkitan. Tidak heran setiap tahun layang-layang dibuat dalam desain yang baru dan orisinal meskipun dengan dasar-dasar motif tradisional.
Langkah inovatif lainnya adalah melestarikan seniman pembuat layang-layang tradisional, yakni dengan memberikan subsidi dan tunjangan kepada mereka. Sampai kini terlihat dampak positifnya bahwa permainan dan kerajinan membuat layang-layang tak pernah (akan) mati.
Di Jepang layang-layang mulai dikenal pada zaman Heian (794-1185). Pada masa itu layang-layang sering digunakan sebagai alat komunikasi pembawa pesan rahasia di istana. Karena harus melewati parit-parit besar, maka layang-layang dinilai mampu menjalankan misi itu. Masa keemasan pembuatan layang-layang terjadi pada zaman Edo (1630-1868). Namun waktu itu karena harga kertas sangat mahal, hanya kalangan bangsawan yang mampu menerbangkan layang-layang.
Berkembangnya seni cetak cukilan kayu dan penggunaan warna dalam seni cetak tradisional Jepang, membawa perubahan baru pada layang-layang. Teknik-teknik seni itu mulai diterapkan pada layang-layang sehingga warna-warna yang dihasilkan sangat indah.
Setiap 5 Mei permainan layang-layang di Jepang menjadi acara tahunan yang semarak sebagai festival anak laki-laki. Pada hari itu para orang tua beramai-ramai menuliskan nama bayi mereka pada layang-layang yang dihiasi gambar prajurit legendaris atau pahlawan dalam cerita anak-anak.

Hal itu dimaksudkan agar anaknya tumbuh sehat dan kuat. Motif lain yang disukai adalah kura-kura dan burung bangau (lambang panjang umur) dan ikan gurame (lambang keuletan). Semakin tinggi layang-layang terbang, konon nasib seseorang semakin baik.
Menurut penilaian para pakar pariwisata, festival 5 Mei merupakan pesta layang-layang terbesar di dunia. Lebih dari seribu layang-layang berpartisipasi selama tiga hari penyelenggaraan. Sekitar lima juta pengunjung tercatat menyaksikan festival tersebut, termasuk wisatawan mancanegara.
Meskipun kini tanah lapang di Jepang semakin sempit, bahkan anak-anak keranjingan berbagai jenis games modern, ternyata permainan tradisional layang-layang masih tetap hidup.
Di Indonesia, kecuali seniman-seniman Bali, jarang sekali yang mau menekuni seni membuat layang-layang. Padahal, Indonesia memiliki aneka ragam budaya yang memesona, jauh lebih banyak daripada budaya di Jepang.

Ya, kita memang selalu terlampau sering dan berulanh mengabaikan warisan mahakarya budaya masa lalu. Mungkin kita akan menyesal di kemudian hari karena tidak melestarikan layang-layang yang menunjukkan kualitas peradaban sebuah bangsa bermain. 

Alat Bantu Ilmu Pengetahuan
Selain di Asia, layang-layang juga sudah merambah Eropa. Di sana model layang-layang selalu dikembangkan. Karena bahan kertas dan plastik dianggap kurang kuat, mereka membuat layang-layang dari bahan fibreglass.

Bahan ini memang cukup ringan dan kuat. Bentuknya pun dipermodern, seperti bentuk geometris lengkap dengan gambar-gambar memikat. Selain itu mereka membuat layang-layang dari kain layar dan bahan-bahan sintetis sebagaimana yang dikembangkan oleh perusahaan kimia raksasa Du Pont.
Di Jerman layang-layang mendapat tempat tersendiri dalam bidang olahraga. Penggemar layang-layang di sana sudah menjadi komunitas yang aktif dan peduli. Secara periodik mereka merancang dan menemukan bentuk layang-layang yang unik dan semarak. Di Jerman layang-layang disebut “drache” (naga), yakni hewan mitologi yang amat populer di China.
Banyak ilmuwan Eropa terangsang daya pikirnya oleh layang-layang. Pada 1749 ilmuwan Skotlandia, Alexander Wilson, menggunakan beberapa rangkaian layang-layang untuk mengukur temperatur udara pada ketinggian yang berbeda. Benjamin Franklin, berhasil meneliti unsur listrik karena jasa layang-layang. Pada 1752 dia menaikkan layang-layang di saat hari hujan badai. Pada layang-layang tersebut digantungkan sebuah kunci. Ternyata ketika petir menyambar, terlihat loncatan api listrik dari kunci tersebut. Itulah dasar alat penangkal petir yang sekarang banyak digunakan orang.
Pada abad ke-19, Sir George Cayley menguji coba prinsip terbang dengan layang-layang bersayap. George Pocook dengan publikasinya “Seni mengarungi udara dengan bantuan layang-layang” membuat gempar dunia ilmu pengetahuan.

Alexander Graham Bell, penemu telepon, pada awalnya bereksperimen dengan layang-layangnya untuk mengetahui gelombang suara lewat udara. Francis Melvin Rogallo, mendapatkan gagasan temuan pesawat terbang layangnya dari layang-layang.
Di Belanda layang-layang buatan Gerard van der Loo banyak membantu kegiatan SAR laut. Ketika helikopter tidak bisa bertahan lama di udara dan perahu penyelamat tidak bisa mendekati kapal karam, maka layang-layang besar yang diterbangkan di atas geladak kapal berfungsi sebagai alat bantu awak kapal untuk meluncur ke kapal penolong.
Perusahaan minyak Inggris, British Petroleum, pernah membuat eksperimen luar biasa dengan layang-layang. Kapal tanker perusahaannya waktu menempuh perjalanan jauh, ditarik dengan layang-layang. Setelah dikalkulasi ternyata perusahaan itu berhasil menghemat energi sekitar sepuluh persen dari jumlah energi yang biasa dihabiskannya.
Manfaat praktis layang-layang pun cukup banyak. Di antaranya tahun 1847, membantu merentang kawat melintasi sungai Niagara antara AS dan Kanada, untuk membangun jembatan gantung pertama.

Sedangkan tahun 1800 hingga awal 1900-an, meteorolog memanfaatkan layang-layang kotak yang dilengkapi alat pengukur cuaca. Khusus pada militer, selama “Perang Dunia II” (1939-1945) sekoci penyelamat dilengkapi layang-layang berantena radio untuk mengirim pesan SOS.
Layang-layang juga menjadi ilham bagi terciptanya balon udara dan pesawat terbang yang paling sederhana. Begitulah, sebenarnya kalau kita kreatif, benda-benda yang dianggap sepele mampu menjadi alat bantu ilmu pengetahuan, bukan sekadar permainan anak-anak.

Tertua
Layang-layang yang terdokumentasi diketahui memiliki beragam bentuk unik. Ada layang-layang yang terbuat dari daun. Ada layang-layang berukuran demikian besar sehingga untuk menaikkannya harus dilakukan oleh beberapa orang. Ada juga layang-layang yang amat kecil, terbuat dari kain sutera buatan China.
Menurut dasarnya layang-layang dikelompokan menjadi lima jenis. Yang tertua, rata berbentuk jajaran genjang. Jenis ini memerlukan ekor untuk menimbulkan tahanan dan merpertahankan tegaknya arah terbang. Makin kencang angin, harus makin panjang pula ekornya. Panjang ekor paling tidak tujuh kali diagonal.
Sedangkan lengkung pada layang-layang sengaja dibuat untuk menciptakan sudut terhadap arah angin, sehingga layang-layang dapat terbang stabil tanpa bantuan ekor. Layang-layang melengkung ini dipatenkan pada 1891 oleh William A. Eddy asal Amerika.
Layang-layang kotak berbentuk tiga dimensi ditemukan oleh Lawrence Hargrave dari Australia tahun 1893. Untuk menerbangkannya perlu angin yang cukup kuat dan stabil. Lain lagi dengan dengan layang-layang delta hasil temuan Francis M. Rogallo dari AS tahun 1941 yang bisa diterbangkan dengan angin sepoi-sepoi.

Nenek moyang alat terbang layang ini bentuknya berupa dua permukaan segitiga yang bertemu di satu sisi dengan membentuk sudut. Pada garis pertemuan ini dipasang sirip vertikal di sebelah bawahnya. Sirip sekaligus lunas penyeimbang ini berfungsi sebagai kekang kendali yang langsung tersambung dengan benang.
Sedangkan layang-layang flexible ditemukan oleh Domina C. Jalbert dari AS tahun 1963. Jenis ini tanpa rangka, sehingga tiap bagian disambung dengan cara dijahit atau dilem sampai bentuk bisa melayang. Salah satunya parafoil kain yang serupa parasut.
Di Inggris layang-layang hanya boleh mencapai ketinggian 60 M, minimal 5 km di luar wilayah bandara.
Layang-layang kotak berperan penting dalam pengembangan pesawat, karena Orville dan Wilbur Wright menggunakan jenis ini untuk menguji teori mereka tentang pemelintiran sayap, sebelum akhirnya berhasil menemukan pesawat terbang pertama tahun 1903.

Sumber:
museum-layang.com

id.wikipedia.org

Ensiklopedia Indonesia

Bermain Anjir


Apa A N J I R  itu menurutmu?


Di Desa Seloliman kec trawas kab mojokerto ketemu mainan namanya ANJIR. sabit di lemparkan ke arah pohon pisang. Yg nancep bisa dpt rumput satu ikat. Sebaliknya yang gagal nancep setor seikat ke tempat taruhan. 
Anjir disini telah menjadi permainan tradisional anak2 gembala dikala menghabiskan waktunya dg benda yg tiap hari dipakai merumput. Selain seni permainan ujung (adu sabetan galah/bambu). Demikian pak (bopo) misman menuturkan.
Mendengar kata ANJIR … ah saya jadi inget tentang yg di Bulukerto Bumiaji Kota Batu.  Sebuah demokrasi lokal yang khas dan bisa menjadi hak veto arus bawah. Ketika ada sesuatu yg penting dan genting.
Maka semua orang warga desa. Bisa menjadi setata tanpa melihat lagi posisi jabatan, strata dan segala macam sekat ketika berANJIR atai mengANJIR di momen ANJIR.
semac rembug desa dan referendum ala Desa. Ini hanya terjadi untuk forum semacam goro-goro kalau di kisah pewayangan. Di mana sebuah forum penting dan genting dimaknai sebagai jalan mengambil keputusan secara massal. Tidak ada ketua dan yang paling berpengaruh di forum tersebut.
Arus suara massal yang akan menentukan. selain kelihaiam kemampuan olah kata dan adi argumen di hadapan massa dalam rangka membahas yang disebut penting dan genting (mendesak sangat).
Jika di cari sejarahnya. Apakah ini lebih tua dari konsep2 demokrasi dan cara mengambil keputusan. Yang di awali dengan mengutamakan kekuatan dialog. Seni bertanya dan menjawab. Lalu tahap mengambil keputusan. 
Lalu bagaimana dengan cara menghadirkan orang banyak ke forum anjir. Kalau jaman dulu cukup bunyikan kentongan (titir) dan teriak anjiiir-anjiiir bersahut-sahutan. Maka warga sdh tau kemana dan dimana lokasi berkumpulnya.
Kalau era sekarang. Tentu makin mifah fan bisa dg speaker, kabar onlen, rafio, bahkan tetep efektif juga jika bawa megaphone dan spekaer lalu brrkeliling desa. Untuk mengabatkan segera dilakukannya forum Anjir di desa Bulukerto. 
Umbul gemulo dan kisah perjuangan poro sedulur tentu tidak terlepas dari tahapan ini yang kemudian menguatkan tahap selanjutnya dalam kisah pembangkangan sosial. Juga demo dan terus berjuang menyelamatkan sumber umbul gemulo dari cengkeraman kekuatan pemodal dan keserakahan.
Salam anjir

Kupat Lepet Silang Sejarahnya


*SEJARAH KETUPAT*

Setiap kekuatan seni dan pesan simbolik selalu bisa muncul kapan saja dan dimana saja. Apalagi yang membuat adalah kalangan prlaku sejarah sosial yang berpengaruh di jamannya.

Keberadaan konteks sanepo (pesan berkias dan tersamarkan) menjadi tema besar khususnya di jawa. Begitu juga di suku bangsa lainnya. Simbol2 dan penggunaan media bahan2 apa adanya yg ada di skitar kita. Selalu bisa menjadi bentuk dan makna baru dengam kekuatan metaforis. Disinilah keluasan dan kedalaman sedang meminta perannya. Todak cukup hanya pikiran tapi batin dan olah rasa yang terlatih akan menghantarkan pada kekuatan di balik apa yang tampak (tersirat).

 Adalah Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa. Konon peristiwa ini terjadidi era  setelah bbrp taun kejadian penghakiman kepada sang Guru dan Sang syaih lemah abang di hadapan majelis. 
Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu bakda Lebaran dan bakda Kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran.
*Arti Kata Ketupat.*
Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau KUPAT merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.

Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.

Laku papat artinya empat tindakan.
*Ngaku Lepat.*
Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang jawa.

Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.
*Laku Papat.*
1. Lebaran.

2. Luberan.

3. Leburan.

4. Laburan.
*Lebaran.*

Sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. 
*Luberan.*

Meluber atau melimpah, ajakan bersedekah untuk kaum miskin.

Pengeluaran zakat fitrah.
*Leburan.*

Sudah habis dan lebur. Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.
*Laburan.*

Berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding.

Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.
*FILOSOFI KUPAT – LEPET*
*KUPAT*

Kenapa mesti dibungkus janur? 

Janur, diambil dari bahasa Arab ” Ja’a nur ” (telah datang cahaya ). 

Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia.

Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki.

Kenapa? karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja’a nur). 
*LEPET*

Lepet = silep kang rapet.

Mangga dipun silep ingkang rapet, mari kita kubur/tutup yang rapat.

Jadi setelah ngaku lepat, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.
Betapa besar peran para wali dalam memperkenalkan agama. Juga betapa besarbperan kekuatan seni metafora dalam mengisi ruang-ruang penyampaian ilmu dan pengetahuan….
Sumber: di sarikan dari berbagai sumber.

Dirgahayu Taman Siswa


Menjelang Satu Abad Taman Siswa.

Ki Hadjar Dewantara adalah pribadi tangguh yang bervisi besar. Setelah mengandi pada sekolah bernama Adidharma selama setahun. 

Akhirnya dia mendirikan organisasi Taman Siswa. Tepat pada hari ini (3 juli 1922 – 3 juli 2017). Berdirinya organisasi ini menjadikan tonggak bagi perkembangan pendidikan di Indonesia. 

Untuk memahami lebih dalam mengenai sejarah berdirinya organisasi Taman Siswa di bawah ini akan kami uraikan mengenai Sejarah Taman Siswa.
Berdirinya Taman Siswa

Taman siswa didirikan pada tahun 1922 tepatnya pada tanggal 03 Juli. Pendirian organisasi ini dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan terhadap sistem pendidikan yang berlaku pada masa tersebut, yakni pendidikan oleh pemerintahan belanda yang pada saat itu menguasai Indonesia. 

Memarginalkan rakyat Indonesia dengan sistem kasta membuat anak bangsa tidak dapat merasakan bangku sekolah secara merata. Bayangkan saja mereka yang boleh mengenyam pendidikan hanya para anak bangsawan, konglomerat, dan kalangan keluarga raja, padahal keseluruhan rakyat Indonesia sangat membutuhkan pendidikan guna memerdekakan Indonesia dari penjajahan sekaligus mewujudkan kesejahteraan.
Pendiri Taman Siswa

Adalah R.M. Soewani Soeryaningrat (Ki Hajar Dewantoro) sosok bangsawan yang menjadi pencetus organisasi pendidikan pertama di Indonesia yang jasanya masih dapat kita rasakan hingga saat ini. Sosok Ki Hajar Dewantara yang mengawali kariernya sebagai seorang wartawan memang terkenal sebagai bangsawan yang memiliki pemikiran jauh ke depan terlebih setelah beliau terjun dalam dunia politik. Kegiatannya sebagai seorang penulis yang memiliki kebudayaan tinggi membuat beliau termotivasi untuk mengenyam pendidikan di Belanda.

Pada tahun 1919 sepulangnya beliau dari Belanda, bersama rekan-rekannya mengadakan pertemuan di halaman rumah beliau yang kini didirikan sebagai pendopo Taman Siswa (jogja). Dalam sarasehan yang telah berlangsung rutin tiap malam selasa kliwon ini tercetus gagasan mengenai pendidikan di Indonesia. Berikutnya Ki Hajar Dewantara ditunjuk sebagai pimpinan divisi pendidikan bagi anak-anak dan remaja, sementara rekannya yakni Ki Ageng Suryomentaram ditunjuk sebagai pimpinan divisi pendidikan yang menangani pendidikan usia dewasa. Akhirnya pada tanggal 3 bulan juli tahun 1922, Ki Hajar Dewantara bersama Soestatmo, Pronowidigdo, dan rekan lainnya memproklamirkan berdirinya Perguruan Nasional Taman Siswa yang berada di Jogjakarta.

Tujuan Didirikannya Taman Siswa

    Semboyan Taman Siswa, Sejarah Berdirinya Organisasi Taman Siswa
Menjadi satu-satunya tonggak pendidikan bangsa pada waktu itu Taman Siswa memiliki tujuan untuk mewujudkan manusia Indonesia yang merdeka lahiriah dan batiniah.

Salah satu misi untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah dengan mengenalkan pendidikan kepada masyarakat. Tidak heran jika dalam mewujudkan misi tersebut Taman Siswa berkembang pada satuan pendidikan mulai dari Taman Indriya (sekelas Taman kanak-kanan), hingga Perguruan Tinggi Sarjanawiyata Taman Siswa. Yang dimaksud dengan “merdeka lahiriah dan batiniah”  dalam tujuan utama Taman Siswa yakni tidak dijajah secara fisik, politik maupun ekonomi dan mampu mengendalikan kondisi (keadaan diri dan bangsanya).

Berikutnya yang patut Anda ketahui mengenai organisasi ini adalah pesan-pesan bijak dari berdirinya Taman Siswa. 

Semboyan Taman Siswa

Prinsip dasar yang menjadi semboyan Taman siswa untuk menjadi seorang guru adalah:

• Ing Ngarsa Sung Tulada yang artinya di depan memberi teladan (contoh)

• Ing Madya Mangun Karsa yang artinya di tengah membangun prakarsa (semangat) dan

• Tut Wuri Handayani yang artinya dari belakang mendukung (memberi dukungan)

Ketiga prinsip di atas merupakan semboyan Taman Siswa.
Asas Pendirian Taman Siswa

Taman Siswa menjadikan bukti kecerdasan intelektual dan kecekatan Ki Hajar Dewantara serta rekan-rekannya, hal ini terwujud dalam pondasi pendirian taman siswa yakni Asas. Asas Taman siswa berisikan tujuh pasal sebagaimana tertera di bawah ini:
Pasal Pertama

Bahwa setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sendiri, dengan terbitnya persatuan dalam peri kehidupan umum.
Pasal Kedua

Bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah dalam arti lahir dan batin dapat memerdekakan diri.

Pasal Ketiga

Bahwa pengajaran harus berdasarkan pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri.

Pasal Keempat

Bahwa pengajaran harus tersebar luar sampai dapat menjangkau seluruh rakyat.

Pasal Kelima

Bahwa untuk mengajar kemerdekaan hidup yang sepenuhnya lahir maupun batin hendaklah diusahakan dengan kekuatan sendiri, dan menolak bantuan dari siapapun yang mengikat, baik lahir maupun batin.
Pasal Keenam

Bahwa setiap konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak harus membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan.

Pasal Ketujuh

Bahwa dalam mendidik anak-anak perlu ada keikhlasan lahir dan batin mengorbankan segala kepentingan pribadi demi keselamatan dan kebahagiaan anak-anak.
Ketujuh pasal di atas merupakan landasan utama perjuangan organisasi Taman Siswa dalam mewujudkan cita-citanya.
Dengan memahami dan mengetahui sejarah berdirinya organisasi Taman Siswa termasuk semboyan Taman Siswa semoga kita termotivasi untuk senantiasa berjuang guna mewujudkan cita-cita para pendahulu kita yang sangat mulia. 
Selain prinsip-prinsip dasar diatas. Ki Hadjar juga mengenalkan spirit Among yang dipilih sejak berdirinya. Bahwa para pamong (guru pendidik) adalah panutan-penuntun-pemberi arahan yang bertumpu pada kekuatan terbaik para siswanya yang mnjadikan jiwa merdeka. 

Pun dengan candra sengkala yang berbunyi “lawan sastra ngesti aji”. Klo tidak salah berarti bahwa tiap-tiap pribadi yang berilmu akan dimuliakan derajatnya selama mau terus memerdekakan jiwanya dalam belajar.
Selamat berdirgahayu Taman Siswa,

Maturnuwun dan alfaatehah buat Sang penghubah lagu Internationale dengan sajak-sajak yang lebih khas situasi Indonesia pada masa terjajah. 

KATA-KATA MUTIARA, SEMBOYAN DAN PERLAMBANGAN TAMAN SISWA 

Dalam rangka memperjuangkan kelestarian dan pengem­bangan kebudayaan nasional Indonesia dan dalam rangka mewujudkan masyarakat tertib damai yang merdeka, mandiri, salam dan bahagia, maka di Tamansiswa banyak kata-kata mutiara, semboyan dan perlambang. Kata-kata mutiara, semboyan, dan perlambang itu merupakan himbauan dan sebagai pengganti perintah dan larangan.
Di bawah ini beberapa kata-kata mutiara, semboyan, dan perlambang yang biasa dipakai di Tamansiswa.
    Berdirinya Tamansiswa tanggal, 3 Juli 1922 di tandai dengan candrasengkala (gambaran waktu) : “LAWAN SASTRA NGESTI MULYA” yang dalam bahasa Indonesia berarti DENGAN ILMU MENCAPAI KEBAHAGIAAN. Lawan Sastra Ngesti Mulya mengandung arti bahwa :

    a. Siapa yang ingin bahagia hidupnya harus menguasa; ilmu tentang hidup dan kehidupan (kecakapan hidup).b. Lawan = 2, Sastra = 5, Ngesti = 8, Mulya = 1. Lawan Sastra Ngesti Mulya = 1852 yaitu tahun Saka berdirinya Tamansiswa. Pada tahun Masehi jatuh tahun 1922.

    Berdirinya Persatuan Tamansiswa ditandai dengan candra sengkala “SUCI TATA NGESTI TUNGGAL” artinya :

    a. Dengan kesucian hati (ikhlas, rela berkorban) dan dengan ketertiban lahir (swadisiplin) dicapai kesatuan persatuan dan kesempurnaan. Siapapun yang ingin bersatu / sempurna, harus ikhlas / rela berkorban melepaskan kepentingan pribadinya dan disiplin mengikuti ketentuan bersama.b. Suci – 4, Tata = 5, Ngesti = 8, Tunggal = 1. Suci Tata Ngesti Tunggal – tahun 1854 Saka atau tahun 1923 Masehi.
     

    Pada waktu pertama kali didirikan Tamansiswa terdapat dua reaksi masyarakat, ada yang setuju dan ada yang mencela. Menghadapi kedua masalah itu Ki Hadjar Dewantara tidak marah. Beliau mengatakan : “Yang setuju silakan membantu, yang tidak setuju tidak perlu mengganggu”.  Kata-kata mutiara ini dapat dijadikan pedoman dalam berjuang. Bila mendapat kritik tidak perlu marah, risau, atau sejenisnya Kita harus selalu salam dan bahagia walau dalam keadaan apapun.

    Ngreti, Ngrasa, Nglakoni (TRINGA) adalah semboyan orang belajar.

    Ngreti = memahami dengan akal / pikiran / koqnitif.
        Ngreti = memahami dengan akal / pikiran / koqnitif.

        Ngrasa – menghayati dengan perasaan / afektif.

        Nglakoni = mengamalkan dengan perbuatan / psikomotor Ilmu yang dipelajari akan bermanfaat bila sudah diamalkan (ilmu iku kasiyate kanthi laku).
     

    Mamayu hayuning sarira, mamayu hayuning bangsa, mamayu hayuning manungsa (TRIHAYU)

    Adalah cita-cita hidup manusia yaitu membahagiakan diri pribadi, bangsa sendiri, dan umat manusia sedunia Dalam pembukaan UUD-1945 disebut dengan kalimat Meningkatkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut mewujudkan ketertiban dunia. 

Melalui cita-cita itu maka orang Indonesia tidak dapat menerima paham individualisme, liberalisme, komunisme, dan kapitalisme. Kita lebih cocok menggunakan paham Pancasila.

    Pendidikan diselenggarakan dengan mengharmoniskan tiga pusat pendidikan , yaitu : Keluarga – Sekolah/Perguruan – Masyarakat (TRIPUSAT). TRIPUSAT / TRISENTRA Pendidikan itu diterapkan oleh bangsa Indonesia menjadi:

         Pendidikan Berbasis Masyarakat yang artinya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara orang tua dan masyarakat, dilaksanakan oleh Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.

         Pendidikan diselenggarakan sepanjang hayat (Life Long Education)

        Wujudnya adalah pendidikan informal (pendidikan keluarga), pendidikan formal (pendidikan sekolah), dan pendidikan non formal (pendidikan di masyarakat).

    Perjuangan Tamansiswa dilakukan secara TR1KO yaitu : kooperatif (kerjasama sebagai mitra), konsultatif (konsultasi), dan korektif (saling mengingatkan)

    Pengembangan kebudayaan nasional dilakukan secara TR1KON yaitu:

        Kontinyu teras menerus secara berkesinambungan mengena kan kebudayaan asli, yaitu puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan daerah.

        Konvergen, yaitu memadukan kebudayaan bangsa sendiri dengan kebudayaan asing yang dipandang perlu untuk memajukan bangsa secara selektif (sejauh tidak bertentangan dengan nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia) dan adaptatif (menyatu secara asimilasi)

         Konsentris, artinya menyatu dengan kebudayaan dunia (globalisasi) dengan tetap mempertahankan ciri khas kebu¬dayaan bangsa sendiri, (berkepribadian nasional)

    Pemimpin yang demokratis harus melaksanakan TRILOGI Kepemimpinan yaitu:

    membimbing dengan keteladanan (Ing ngarsa sung tuladha)
    membina dengan membangun kemauan (Ing madya mangun karsa)
    memerdekakan untuk berkreativitas dengan tetap memberi kekuatan (Tutwuri Handayani).
    Norma kepemimpinan demokratis adalah : TRI PANTANGAN yaitu:

    Semboyan orang berjuang :

    RAWE – RAWE RANTAS, MALANG – MALANG PUTUNG artinya : siap menghadapi segala ancaman , tantangan, hambatan, dan gangguan baik dari dalam maupun dari luar.
    Rawe-rawe rantas artinya segala tali – temali (penghalang) diputuskan.
    Malang-malang putung artinya segala benda penghalang (kayu, besi, pagar) dipatahkan.

    Semboyan menghadapi masalah adalah NENG, NING, NUNG, NANG artinya.:

    Semboyan memperjuangkan tanah air adalah : SENYARI BUMI SEDUMUK BATHUK DEN LAKONI TAKER PATI

    artinya : Biar selebar telunjuk di dahi, atau selebar ibu jari, tanah airku, kupertahankan sampai titik darah penghabisan.

    Semboyan hidup mandiri : OPOR BEBEK MATENG SAKA AWAKE DHEWEK. Artinya kita harus mampu membiayai hidup dari hasil pendapatan sendiri secara halal dan wajar, seperti sayur itik yang masak / matang karena minyaknya sendiri.

    Semboyan hidup makarya (senang bekerja, senang berikhtiar) adalah. TIRULAH HIDUP CECAK.
Orang bekerja dan berikhtiar harus kreatif, ulet, tekun, dan terampil, yakni hidup mandiri yang tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Seperti hidupnya cecak, agar dapat makan nyamuk ia mendekati lampu di mana nyamuk berkerumun, sabar menunggu sampai nyamuknya mendekat (ulet dan tekun) dan terampil meng­gunakan lidahnya agar sekali julur nyamuk itu harus kena.
Sumber : PENDIDIKAN KETAMANSISWAAAN JILID I Disusun oleh Ki Soenarno Hadiwijoyo Hal.82-87

Ananging Ni


Apa yg sudah kamu pahami dan pelajari dari huruf – bahasa belanda ni?” tanya ibu yang diminta jd selir bupati Japara pada putrinya Kartini. 

“Kebebasan bu” jawab kartini singkat. Lalu di tanya lagi sama ibunya “apa yg tidak ada dalam huruf dan bahasa belanda itu Ni?”. Sambil berpikir lama akhirnya “tidak tau Bu”
“Bhakti Ni. Itu yg tdk diajarkan oleh huruf dan bahasa belanda”. Lalu muncullah bayangan lama saat kartini kecil diajari membaca huruf Ha yg di pangkur kemudian huruf Na yg di suku dan huruf La yg di pangku. Maka bisa di baca Trinil. 
“Mereka tidak mengenal dan tidak akan paham makna di pangku Ni”.

Demikian bagian pilem yang paling kuat pesannya pilem kartini adalah di jaman kolonialisme Belanda.
Cerita diatas adalah dialog Ibu dan anak yang di perankan bunda Christine Hakim sama dik Dian Sastro ini nyaris sprti sdg tidak syuting filem. Untuk ini saya bangga bisa menyaksikan akting beliau yg kesekian. selain jd cut nya dien yang juga dahsyat aktingnya bunda christine.
Dialog di tepian telaga yg membahas Bhaktu dan hubungan Ibu dan Anak ini bikin saya meleleh kali kedua. Selain saat Ni memulai menggoreskan kapur di papan tulis ketik mengenalkan huruf A.
Entah melihat goresan kapur yg di slow motion itu seperti menggores bathin bangsa yg pernah sebegini dalamnya menjadi pintar perempuanx adalah suatu dosa.
“Pak kyai.. Adakah kisah dalam alquran yg menyatakan peran ilmu adalah sangat penting?” demikian Ni bertanya. Lalu pak kyai menjelaskan kedudukan surat Iqra. Kemudian diperjelas lah sama Ni.
“Apakah di surat itu dijelaskan membaca itu hanya untuk laki-laki dan tidak boleh untuk perempuan?” dengan tersenyum pak kyai ini menjawab mempelajari ilmu adalah ibadahnya kaum laki dan perempuan.
“Remeng.. Remeng… Raditya kingkin….” lamat-lamat tembang suluk pesisiran ini mengalun menyertai malam demi malam tiga gadis pingitan pendopo Japara.

 
Pada satu sisi film karini besutan hanung yg ini mengambil sisi lain yg menujukkan kuwalitas risetnya. Pun bagaimana Ni perduli pada situasi perempuan di jamannya. Juga dilakukan dg wawancara dan dialog yg berisi penjelasan2 perlunya perempuan belajar, berilmu dan menentukan apa yg ingin di dalaminya.
Saat dia menggali data umur berapa dikawinkan? Kenapa pemahat kayu dan pengukir itu di jaman itu tdk beranu melukis wayang karena takut kuwalat. Tapi stelah dijelaskan. Akhirnya banyak pesanan yg mengalir.
Dari sekian banyak kata dialog dan adegan. Saat kartini menjawab lamaran bupati rembang. Adalah bagaimana dia mau menunjukkan telah berilmu dan menginginkan kebebsan menenetukan nasibnya.
“Kula nuwun Rama.. Saya menerima lamaran kang mas bupati rembang. ANANGING (tapi). Saya mengajukan syarat”
“Katakan apa yg menjadi syaratmu Ni..” dg singkat ramanya menjawab.
Kaping setunggal “saat di pelaminan saya tdk mau mebasuh telapak kaki suami saya. Kaping kalih… Ah saya lupa. Tapi “kaping tigo saya mau dia menjamin saya boleh membuka kelas belajar dan mengajar di pendopo rembang”.
Lalu kaping sekawan “saya mau yu Ngasirah di pindah ke griyo depan bukan di griya belakang”
Itulah bbrp adegan asiek dan kuat. Selain bbrp kejadian bagmna putri pendopo ini bermainya adalah ngerumpi dg panjat tangga kayubdan di tembok pembatas wilayah dalem pendopo. Selain bermain cublek2 suweng yg juga dimainkan oleh kartini, kardinah dan rukmini.
Menjadi tergambar kuat sieh satu diantara yg lain konteks sistem sosial yg berlaku. Ini pilem berhasil menggambarkan hubungan mesra ningrat jawa dg belanda.
Lalu melahirkan pencerahan kartini yg banyak belajar dr buku2 belanda yg di tinggal kakaknya raden Sosrokartono yg fenomenal itu. Juga besaar saat dia membaca buku hylda dan karya stela (feminist).
Dari situlah kartini bersurat dg kakaknyaRM Sosrokartono. Yg juga berperan menjdi faktor pemicu otodidak kartini bisa menulis artikel yg terbit di jurnal antropologi dan bahasa yg diterbitkan kerajaan belanda.
Ananging …. Oeee ciyuuuzs amatt. Saya saraknken buat yg belum nonton. Saya sarujuk buat menyiapkan slayer, saputangan dan bedak buat yg suka bermake up.

Karena betapa anak2 perempuan dan remaja yg di lepas dari bhakti kasih ibunya. Memang mengundang haru dan banyak mengaduk-aduk emosi tanpa ampun.
Seperti pamitnya kartini saat berangkat menerima pinangan bupati Rembang yg menghampiri bu Ngasirah (ibunya). “Kula pamiet nggieh….”
Dengan linangan airmata dan kalimat terbata. menjadi penutup film kartini. 
Saya lirik si alent sibuk dg kue keringnya.

Semeentra bundanya di sebelahnya terlihat sembab.
Sambil menunggu hujan reda, jemari tergoda menuliskan apa yg barusan di liatbsbg cara kami belajar sejarah. Dg menikmati filem besutan hanung B. 

Bahwa perjuangan kartini untuk menjadi setara mendapatkan hak atas pendidikan dijamannya. Memang tidak mudah. 

Betapa libgkaran sosial pendopo ningrat. Sejak di kekerabatan. Himpitan dan tekanan sistem hegemoni bekerja sampai pd struktur yg paling kecil.

Tapi itulah kartini. Yang sudah pengin dipanggil cukup kartini saja. Karena menulis bagi perempuan di jamannya benar2 tidak mudah. Memgingatkan kekejaman julia butterfly yg di peru apa nikaragua. Bahwa perempuan tidak boleh sekolah.

Lalu fiperjuangkan boleh kuliah. Tapi tidak boleh mengambil jurusan hukum karena bisa digunakan untuk membela para marginal.

Tapi itulah perempuan2 tangguh yg selalu dilahirkan oleh jaman. Untuk menjadi terang. Ananging ni jika boleh dapat ilham di jaman kini.

Habis gelap terbitlah terang. Ananging ni habis terang lalu apa? Dan inilah warisan sekaligus tantangan bagaimana jowa kartini yg pembelajar layak mendapat tempat di hati para pembaharu.

Selamat merayakan keabadian dalam meretas karya2 berkebaikan…. 

Guru Partikelir Bercerita


​Perkenalan yang berdampak


Pagi ini jam 05.00 bersama si silver meluncur ke Trowulan. Hari pertama si guru partikelir masuk kelas dan berkenalan dg para siswa kelas 1 SMA Majapahit Mojokerto. 
seperti acara konser cerah yg dimana-mana itu. Bagi saya semua peristiwa manggung adalah istimewa. Begitu jug zemua orang yg hadir di ruangan kelas adalah spesial.
Setelah mengenalkan diri secara singkat. Saya langsung ajak seluruh pelajar remaja ini bermain. Ya bermain sambil belajar dan mengasah kemampuan bercerita. Lalu saya tanya apa yg diraskaan dan apa yg jadi cita2 setiap orang seusai msreka bercerita.
Saya ditantang oleh pengelol yayasan yg menaungi skolah SMA MAJAPAHIT 1 di desa sentono rejo. Untuk mendampingi dan menantang para murid belajar membuat KARYA ILMIAH REMAJA.
Bagi saya ini tantangan menarik. Hari ini ketika biasanya ikut berada di jalanan memperingati hari tani (24 sept 2016). Tadi pagi dan skr baru selesai di ruang kelas perkenalan.
Menjadi guru magang. Sekaligus sdg melakoni jadi guru partikelir itu kece. Bagaimana saya harus belajar bahasa remaja yg beranjak dewasa ini mengenal, mengetahui, memahami, mengerti dan bisa memaknai kenapa berkarya ilmiah itu penting? 
Secara sederhana saya tidak menyiapkan kurikulum khusus untuk menemani paramuda kelas 1 SMA. Tapi alur dan prinsip belajar yg asiek, memudahkan, menggembirakan dan berdampak adalah alurnya.
Secara tahapan saya menyiapkan tiga tahapan dalam satu semester. Bahwa ada tahap mengenalkan aneka ragam karya ilmiah. Begitu juga dengan tema dan topiknya. 
Ditahap mengenal ini. Peristiwa mengalami akan banyak saya gunakan. Termasuk ini tadi untuk minggu depan kami menjalin kontrak belajar untuk empat kelompok bersedia membawa karya ilmiah sbg referensi. Lalu membuat satu karya di tulis tangan level kelompok ttg tema yang berkaitan dengan masa depan remaja.
Pada tahap kedua saya akan fokus pada bagaimana belajar dari melakukan dan memahami rasa suka pada berkarya. Lalu bagaimana tujuan tahap ini makin diarahkan pada menyukai berkarya. Sehingg materi, metode, prosesny adalah membuat menyukai berkarya itu asiek dan menyenangkan.
Nah baru tahap ketiga adalah memperbanyak latihan berkarya dan menciptakan pasar ide serta gagasan imajiner. Selanjutnya akan di peras untuk menemukan ide prioritas buat dikerjakan dg terukur.
Saya bersyukur usai sesi 90 menit ini tadi ada sekitar 5 siswa yg langsung bergairah usai suasana dalam kelas. Saya ajak duduk dibruang perpustakaan. Lalu mulailah mereka mengajukan pertanyaan2 segar “pak, bagaimana dulu jenengan belajarnya? Apa saja yg dipelajari” demikian Amanah bertanya.
“Lalu gimana pak caranya agar bisa seperti panjenenegan. Saat tadi menyimak cara menyampaikan. Saya langsung pengin jadi seperti jenengan”. Demikian Tantri yg bercita2 jadi dokter ini dg jujur mengungkapkan isi hatinya. “Ouh…. Terimakasih buat apresiasinya yaa tantri”. Sahut saya singkat.
Kristina tidak mau pasif “pak kenapa hanya 90 menit? Sebaiknya dibuat kelas ekskul yg bapak ajar ini lebih lama. Ayooo pak masuk kelas lagi”. Dengan wajah serius dia mengajukan permintaannya.
Putri yg sejak di kelas sangat aktif juga bertanya dan sorot matanya yg tajam. Selalu punya gagasan segar diajukan. “Pak anggota kelompok saya itu semua orang2 sulit diajak belajar. Ada yg sebukan masuk seminggu saja. Lalu satunya tdk mau ngomong. Gimana saya bisa berdiskusi kelompok?”
Apa yg disampaikan putri ini menarik. Betapa kelas ini beragam dan benar2 unik. “Coba di alami dulu ptosesnya put. Semua calon pemimpin itu memang diuji tuk pinter momong. Demikian juga kamu bersama kelompok. Pasti nanti ada pelajaran menarik.”
“Iya tapi sulit pak.” secara cepat dia menyambar kalimat saya. “Naah disitu pelajarannya. Saat semakin sulit. Karena kalau nga ada sulitnya kita cenderung tidak belajar hal baru”
Wulan yg memilih duduk dibawah sendirian saat yang lain bersemangat ngobrol di kursi dan mengelilingi meja. Lebih banyak menyimak dan memperhatikan saat yg lain ngobrol.
Terimakasih hidup…. Terimakasih pelajaran hidup. Saya masih diperjumpakan peristiwa berbagi dengan paramuda calon pemimpin di jalan kehidupannya masing-masing.
Minggu depan pasti lebih seru pemirsaa. Saat si guru partikelir ini nanti akan menggunakan alat bantu belajar yg di desain memudahkan proses belajar.
Salam kebaikan
Trowulan, 24 Sept 2016

Tanah Air Angin Batu

Tanah Air Angin Batu


Mahakarya Budaya

Membumi
Tapi bisa menangkap angin
Mengukir batu
bersahabat dengan air
Berhenti berpikir
Belajar merasa
Setia pada aturan main
Permainan

Melibatkan bukan jd penonton
Memanfaatkan daun biji-biji
Mewarna diri dengan lumpur
Berlari berhitung
Menyanyi memadukan irama

Gembira bersama sahabat
Kalah dan menang bukan tujuan
Mencipta dunia kecil penuh keriangan

Berceloteh
Mengucap doa
Sebelum mulai
Melakoni peran
Bukan menghukum

Menjadi peduli bukan diminta
Selesai ya mulai lagi
Dimulai lagi dengan doa
Hompimpah alaihom gambreng!

Terimakasih
Pencipta permainan anak desa
Yang mendunia
Mewujud
Tapi para penciptanya
Tidak ingin terkenal
Juga bebas dari ingin dikenal
Permainan tradisional
Menjadi terkenal
Oleh ketidakterkenalan itu sendiri

Pelanjut
Pelestari
Pemain
Pelaku
Tidak perlu wasit
Menerima
Memahami
Peran masing-masing
Belajar tanggungjawab
Mengelola diri

Bersikap
Berperilaku
Fairplay
Menjadi
Kebiasaan
Yang mencari celah
Justru tersingkir

Ada budi
Lahir daya
Ada pakerti
Berbunga mulia
Ada sikap
Berbuah karakter

Hom
pimpah
Alaihom
Gambreng

Mainlah tapi
Tidak main-main
Kembali serius
Bermain

Sebelah bendungan seusai hujan
Sabtu, 24 sept 2016

Juru kunci kamajo