bencana jadi proyek?


Narasumber Dialog interaktif ”live” Berita Jawa Timur di TVRI Surabaya, Penanganan Bencana Banjir dan Longsor di Kab. Jember (20 Januari 2006).

Dialog adalah learning perjumpaanku dengan tugas dan tanggungjawab di beri mandate di Eksekutif Daerah WALHI Jawa Timur. Sore ini di undang oleh TVRI Jatim tentang penanganan bencana longsor banjir di Jember. Sebagai narasumber bukanlah hal membosankan, tetapi lebih tepat takut menjadi rutinitas belaka. Kali ini di panel dengan Prof  Tjuk K.Sukiadi sebagai wakil dari pemerintah Provinsi Jatim. Menurutnya penanganan bencana tidak terlepas dengan butuhnya dana pemulihan.

 

Pemulihan dana memang penting, tetapi mengelola kegiatan dan pertangungjawabannya juga penting. Maka tidak bisa dibenarkan oleh apapun jika bencana kemudian menjadi pendekatan proyek, yang ternyata padat modal. Bukan memenmpatkan korban sebagai subyek yang hidup. Sehingga penting melibatkan korban secara langsung untuk mengenali bencana sebagai sebagai akibat salah urus lingkungan yang tidak terlekakkan, ketika telah terjadi longsor dan bnjirnya penting melibatkan mereka dalam memenuhi yang tidak hanya kebutuhan fisiknya saja (sandang-pangan-papan). Tetapi bagaimana pendidikan, pemenuhan air bersih, kesehatan saat mereka di tenda-tenda pengungsian dan menemukan kembali optimisme hidup pasca bencana sangatlah penting.

 

Modal sosial masyarakat untuk menggalang solidaritas mengahadapi bencana kenapa jarang digerakkan? Banyak orang datang ke lokasi bencana, malah dengan berbaju rapi sambil mejeng di reruntuhan rumah yang dihantam bebatuan dan potongan pohon. Iya, inilah potret lain ketika ada orang kecelakaan di jalan. Dimana lebih banyak yang menonton daripada menolongnya.

 

Banyaknya sumbangan yang mengalir tanpa pemerintah, disayangkan oleh panelis profesor ini. Kenapa tidak dijadikan reflektif, apa yang membuat masyarakat mengambil jalan sendiri untuk menyalurkan bantuan logistiknya. Iya sebab mereka hampir tidak percaya kepada lembaga pemerintah kalau bantuannya dapat menjangkau korban langsung. Seperti halnya di kantor kecamatan panti, yang terdapat ribuan nasi bungkus yang akhirnya harus basi. Dan kedatangan Presiden Yudhoyono ke lokasi dengan menggunakan protokoler telah menghabiskan miliaran rupiah yang mestinya bisa digunakan untuk membantu korban.

 

Memang pemerintahan yang berwatak semi feodal ini, masih saja menganggap dirinya priyayi, apalagi para bawahannya yang lebih senang mempersiapkan laporan sebelum sang Bos datang daripada melakukan tindakan tanggap darurat secara menyeluruh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s