Minyak Habis, Eksploitasi-Komersialisasi Gas Berikutnya


 Bisnis Bahan Bakar Gas

 Akan Menggeser Minyak

 

            Mulai 1 Oktober 2005  pemerintah melalui Perpres 55/2005 telah menetapkan harga bahan bakar dengan lonjakan yang cukup tinggi,  BBM naik sampai 120%.  Tentu saja ini memicu kenaikan harga barang-barang pokok dan kebutuhan lainnya, serta membawa efek domino disektor lain, seperti terjadinya ancaman PHK massal kaum buruh. Bahan bakar yang di komersialisasikan, terdiri dari produk  BBM dan non BBM. Produk BBM terdiri atas: JP-5, avgas, avtur, bensin, premium, minyak tanah, minyak solar, minyak diesel, dan minyak bakar serta bahan bakar khusus (BBK) yang mencakup bensin super tanpa timbal (super-TT), premix 94, dan bensin biru 2 langkah (BB2L).

Jumlah ketersediaan energi bahan bakar Indonesia memang mengkhawatirkan, terutama ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM).  Hal ini terkait ketersediaan cadangan  sumberdaya minyak Indonesia sejak tahun 1995 sudah semakin menipis. Data tahun 2002 menunjukkan cadangan minyak bumi sekitar 5 miliar barel dan dengan tingkat produksi minyak saat ini sekitar 500 juta barel, cadangan tersebut akan habis dalam 15 tahun mendatang (Data JATAM 2003). Artinya sumberdaya minyak ini tidak lagi menjadi fokus eksploitasi dan akan segera memasuki era senja.

            Gejolak kenaikan harga bahan bakar selain BBM ternyata juga terjadi pada bahan bakar gas. Seperti LPG (liquid petrollium gas) misalnya, dalam setiap satu tabung berbobot 15 Kg dijual dengan harga Rp 58.000,- setelah kenaikan per 1 oktober 2005 bisa mencapai 75.000,- (Kompas, 8/10/2005). Sudah tidak bisa di bantah sepertinya kalau komersialisasi bahan bakar untuk 20-25 tahun lagi bisnis bahan bakar gas merupakan bisnis potensial yang akan menggeser posisi bisnis BBM. Hal ini bisa di pantau dengan meningkatnya jumlah produksi dari pemakai Kompor Gas LPG yang di jual di pasaran. Juga mulai digunakannya Bahan Bakar Gas (BBG) untuk kendaraan bermotor, seperti yang dilakukan oleh perusahaan jasa transportasi umum Taksi Zebra di Surabaya. Pabrik-pabrik pun sudah mulai menggunakan BBG, meskipun hampir 920 Pabrik di Jawa Timur belum mendapat suplai Gas (Kompas Jatim, 10/8/2005). Dan Pembangkit listrik juga sudah memakai gas, seperti yang dilakukan PLTGU (pembangkit listrik tenaga gas dan uap) Gresik yang menjadi salah satu penopang  sistem interkoneksi listrik Jawa Bali.

Saat ini sedang dibangun infrastruktur jaringan transmisi pipa gas yang  di bangun di beberapa wilayah indonesia dan di tawarkannya 20 wilayah kerja baru blok lapangan migas kepada parusahaan pertambangan asing. Wilayah jaringan transmisi gas bumi terpadu meliputi Sumatera Selatan ke Jawa Barat (480 Km), adalah tahapan dari proyeksi transmisi gas seluruh pulau Jawa sebagai wilayah industrialisasi yang di huni oleh 60% penduduk Indonesia, meskipun luasnya hanya 7% luas seluruh Indonesia.

Infrastruktur Pipa Transmisi gas itu merupakan rencana eksploitasi dari jumlah cadangan terbukti gas bumi sekitar 90 triliun standart kaki kubik (TSCF). dengan tingkat produksi tahun 2002 sebesar 3 TCF maka cadangan tersebut akan habis dalam 30 tahun. Bahkan tahun 2005 ini Total cadangan gas bumi sebesar 176,59 (TSCF), terdiri dari 90,30 TSCF cadangan terbukti dan 86,29 TSCF cadangan potensial. Dari jumlah tersebut dipakai untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri 45%, sementara 55% di ekspor (Menteri ESDM, Kompas 10 Agustus 2005). Sedangkan stasiun pengisian bahan bakar Gas yang telah dibangun sebanyak 28 unit, dengan kapasitas 408.020 LSP, yang beroperasi 14 unit (Sumber : Kompas 10/8/2005). Jelas kebijakan ini mendorong investasi asing masuk pada sektor hulu dan hilir industri gas bumi di Indonesia. Nampak jelas di sini sebuah peralihan penguasaan sumberdaya energi fosil dari rejim hidrokarbon minyak bumi ke rejim hidrokarbon gas bumi.

Bukti konkrit peralihan dan potensi bisnis gas yang bisa dilihat di wilayah Propinsi Jawa Timur  adalah di temukannya blok lapangan migas yang meliputi beberapa wilayah Kabupaten seperti Gresik, Madura, Tuban, Bojonegoro dan Sidoarjo. Untuk Kabupaten Gresik saat ini investor migas Amerada Hess “Amerika-Canada” sedang memasuki tahapan rencana kegiatan pengembangan lapangan minyak dan gas di blok Ujungpangkah. Lokasi lapangan migas blok pangkah ini berada di lepas pantai, sekitar 3-5 KM sebelah Timur Laut daerah Ujungpangkah. Dengan kapasitas maksimum produksi minyak dari lapangan ini adalah 25.000 BOPD (Barrel Oil per Day = Barel miyak perhari). Sedangkan produksi gas adalah 100 MMSCFD (Million Standart Cubic feet per Day = juta kaki kubik perhari). Jelas jumlah cadangan minyaknya jauh lebih kecil dibandingkan dengan cadangan potensi terbukti gas di blok pangkah ini. Jika candangan gas dalam satu hari saja 100 juta kaki kubik, maka ketika di ekspolitasi akan ketemu 36.500.000.000 kaki kubik per tahun. Dan jika harga LPG di pasaran saat ini mencapai Rp. 5000/Kg dengan hitungan Rp 75.000 untuk setiap tabung gas LPG 15 Kg.  Maka Amerada Hess dalam satu tahun dari penjualan LPG saja bisa meraup keuntungan omzet  diatas Rp 182.500.000.000.000,- per tahun. Padahal ini belum di hitung untuk jangka waktu berapa lama eksploitasi yang akan dilakukan, kalau misalnya 20 tahun  maka hasil yang akan mereka raup adalah sebesar Rp. 3.650.000.000.000.000,-

Dengan potensi kekayaan dan cadangan sumber daya alam bahan bakar, ternyata ke depan itu bukan menjadi milik rakyat Indonesia. Hal ini dikarenakan kebijakan restrukturisasi migas yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia mendorong bisnis migas Indonesia menjadi bisnis pasar terbuka. Telah diatur jelas dalam UU Migas No.22/2001 tentang migas. Yang di dalamnya membawa agenda pasar bebas yang sarat komersialisasi dan privatisasi sektor Migas.

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s