M.L.M


 Multi Level Movement – Aksi Lokal yang MultiLokal

kemarin, di undang jadi Narasumber Seminar dan Aksi Lingkungan (30 Nov 2007) di Acara KONKORDA PMII (pergerakan mahasiswa islam indonesia) Jawa Timur. Bertempat di pondok MIA (ma’hadul Ilmu dan Amal) Kab. Tulungagung. mengesankan, ketika berpacu dengan waktu. meski tidak terlalu suka mengalami semacam ini. pagi hari masih di konfirm sama salah satu panitia kalau saya harus mengisi sesi tanggal 30 November pk. 19.00 wib. jadi rencana pk 12.30 saya berangkat. eh tiba2 pukul 10.30 di telp kalao sesi saya dimajukan. kontan langusng kebut-kebutan di jalan untuk mencari bus di Terminal Purabaya (bungurasih, biasa saya dan teman2 dekat menyebutnya).

sampai Tulungagung tepat pk. 15.15 langsung ke lokasi acara. Eh, tidak tahunya masih acara protokoler yang “menjemukan”. puanjangg……. dan tetap saja membuat otak depan dihajar berjam-jam, hingga lelah.  selanjutnya acara Seminar dimulai, masing2 narasumber diberi waktu 10-15 menit menyampaikan gagasannya. karena tema yan di pesan oleh panita adalah IMPRATIF ETIS GERAKAN PEMUDA UNTUK KESELAMATAN BANGSA.  yang sungguh memaksa saya untuk membuka kembali kumpulan teks di kamus popular.

impratif itu adalah (perintah yang sudah tidak bisa ditolak). Saya tawarkan REvisioning terhadap “image Movement” kaum muda saat memilih dunianya hari ini. sumpah pemuda memang menjadi Par Excellence gerakan kaum muda dan saya coba mengambilnya menjadi topik. bahwa banyak yang memandang peristiwa di 28 Oktober 1928 ini adalah dari pers[ektif sosio politik yang bernuansa heroik, patriotik dan progressive Revolusioneer. tetapi saya menawarkan untuk mengenali peristiwa sejarah ini dari kekuatan “ke unikan” masing2 pribadi. Anda mereka masih hidup saya ingin bertanya kepada satu persatu, baik kepada Soekarno, Hatta, WR Soepratman, Semaun, RM AdhiSoeryo dan Pemuda-pemuda lain yang waktu itu menjadi bagian langsung peristiwa sejarah luar biasa.

saya menyebutnya mereka yang menjadi pelaku adalah manusia2 muda futuristik yang mampu mengimpikan-mengimajinasikan  masa depan. jelas adanya. bahwa saat itu 1928 Indonesia (mau republik atau Serikat, ato NKRI) itu memang tidak ada. Dan apa yang dilakukan oleh para pemuda ini jelas di tertawakan oleh manusia sejamannya, khususnya para “kaum mapan”, antek kolonial, kapitalis birokrat dan para Demang, Bupati serta penguasa yang tunduk patuh pada imperialis.

Mereka “kaum muda 1928” mengimpikan adanya Indonesia Raya yang diyakini bakal mewujud jika kita bisa mengimpikannya. Jangankan sistem pemerintahan macam apa, sepertinya Konstitusi dan kontrak sosial politik pun tidak mengemuka disaat itu. tetapi Indonesia yang berdaulat, merdeka dan mampu mengatur dirinya sendiri bisa di wujudkan. persis apa yang disampaikan oleh bung Hatta, “apa yang menyebabkan keterjajahan menjadi bertahan adalah bukan karena imperialis ini kuat modal dan senjatanya, tetapi lebih karena ketidakpercayaan diri orang2 negeri itu sendiri”. inilah yang dilawan oleh para kaum muda progressive 1928, berupa citra diri kaum yang berkarakter dan merengkuh mentalitas dari impian masa depan mereka melangkah menurut impiannya. jadi inilah revisioning dimana bergerak bukan hanya berangkat dari pertentangan “kontradiksi” tetapi memerlukan keyakinan atas kejadian macam apa yang mau anda rubah dengan mencipta “takdir sendiri”.

bukankah tidak cukup belajar hanya dari sejarah sosial politik dengan segala kecenderungan sosial yang terjadi pada jaman itu. sebab mencipta masa depan memang tidak bisa dengan menengok ke belakang saja. dan sayangnya banyak orang memahami sejarah adalah semata masa lalu, bukan masa depan. jadi sekaranglah saatnya kita mulai mencipta sejarah masa depan kita sendiri. ya semacam history of Imagination, kenapa tidak???!

maka dalam tawaran impratif saya menantang peserta konferda dengan beberapa pertanyaan. Beranikah Anda mewujudkan  apa yang menjadikan kampung2 kita menjadi selamat dan sejahtera dimasa depan? jika berani maka andalah sang pembawa alternatif gerakan masa kini yang bukan sekedar “anti Globalisasi”. sebab kita memang sedang mewujudkan dunia baru dari gerakan lokal yang multilokal. ketahanan pangan sebuah kampung seberang, belum tentu sama apa yang dihasilkan dengan kampung lainnya. begitu juga dengan energy alterntif yang menerangi di kampung kabupaten Mojokerto Jawa Timur, belum tentu sama dengan di Purworejo Jawa Tengah. Pemanas Air di Kampung madiun dengan sinar matahari, belum tentu sama dengan Desa Pesanggarahan dan Desa Seruk Kota Batu yang mengandalkan Biogas dari Kotoran Sapi.

jadi kapan kita berjumpa lagi untuk berbagi kisah sukses, bahwa kampung yang multi kampung meredesain pra syarat apa yang membuatnya menjadi selamat dan sejahtera dimasa depan menjadi pengetahuan kita bersama? sebab pengalaman memang menjadi puncaknya pengetahuan.

ipoel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s