TIADA JALAN BERTABUR BUNGA


Optimisme Baru

Kemarin menemani pelaku sejarah yang mendokumentasikan sejarah hidup dan kehidupannya dengan berkarya. Berkesenian dalam buih dan kasih itulah yang diajarkannya dalam lembaga kesenian rakyat pada 40 tahun lebih yang lalu. Ditangkap, ditahan, dikirim ke markas tentara, di pindah ke penjara Kalisosok Surabaya, lalu dipindah lagi ke Nusakambangan hingga terakhir ditempatkan di Pulau Buru.

Ya pulau proyek “indoktrinasi” dan menjadi rumah kaca para tahanan politik yang ditahan tanpa proses pengadilan apapun. 

Belajar pada manusia senja bernama Harsoyo yang berusia 72 tahun ini, banyak hal yang bisa saya petik. Terutama ketika sore kemarin menemaninya bertemu dengan Pimpinan Redaksi Harian Koran SURYA dan seorang ahli peneliti sejarah media (sejarawan media). Penulis buku dibalik dapur TEMPO (majalah) Prof Jannet Steele dari George Washington University. Hampir 3 jam kami berdialog. Pak Harsoyo demikian saya memanggilnya, dengan penuh jiwa besar dan canda tawa menjawab pertanyaan demi pertanyaan dan bercerita perjalanannya. 

Sebuah hal yang sulit dipercaya, diperlakukan pada jamannya dan kehidupan pulau Buru. Ketika di tanya oleh Jannete, apakah anda tidak dendam? Jawabannya TIDAK. Ya, jawaban ini pernah saya dengar langsung berkali-kali sebelum dialog kali ini ketika dia ditanya hal yang sama oleh orang lain. Sebuah jawaban yang selalu mengundang pertanyaan lanjutan, bagi si penanya. Karena rasanya seperti hal yang tidak mungkin ditengah ”ketidakadilan” saat itu. Tetapi dia mencoba mendudukkan bahwa para petugas, penjaga bawahan hanyalah melaksanakan tugas dari para Komandan dan atasannya. Semua tindakan dia sama sekali bukan atas kemauannya (begitu dia memberi alasan).

Puluhan lukisan kehidupan pulau buru dia rekam. Banyak sketsa orisinil di kertas lapuk yang warnanya sudah menguning dan kalihatan usang, masih menyimpan aneka situasi dan apa yang dia alami bersama kawan-kawannya saat itu di Pulau Buru. Menarik, kertas-kertas ini di dapatnya ketika itu adalah hasil barter dengan penduduk setempat dengan sebutir telus untuk sebuah buku kertas kecil. Ya memang dia di buru memelihara bebek dan mengelola sawah ”menjadi penekun” seluas dua hektar disana.

Ketegaran dan semangat hidup yang menyala. Prinsip besar yang berkali-kali dia sampaikan ”bagi saya tidak ada hak milik dalam hidup” berada dalam kolektifitas benar-benar bersemangat ketika dia mengucapkannya. bMakna terdalam yang diucapkan dan di tulisnya dalam salah satu tema besar karya ciptanya adalah. Kehidupan saat itu adalah ibarat hidup yang ”TIADA JALAN BERTABUR BUNGA”.

Tidak ada yang terlalu membahagiakan dan tidak jelas kapan berakhirnya. Karena hanya upacara pengantin dan kematian yang bertabur bunga. Sementara jalan berkerikil, berkelok dan sunyi, bahkan sangat sepi dilaluinya dengan penuh kepasrahan. Terima kasih pak Harsoyo yang telah berbagi tentang bagaimana menertawakan dan menjadikan keindahan setiap jalan kehidupan… terus berkarya, melukis, menulis dan mendokumentasikan masa lalu, hari ini dan masa depan.

“di ruang redaksi SURYA”

ipoel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s