Memancing Tujuan


kemarin hari jumat (6/6/08), di pucang siang hari penuh kegembiraan bertemu dengan para “pustaka berjalan”. sobat lama tak jumpa yang memilih aktivitasnya di tanah kasultanan Ngayogyakarta, si Biank. tiba-tiba nongol di pucang saat ku asyik mengetik. tak lama kemudian pustaka “cerita dan humor” berjalan nongol juga Si Haris Doel Kiem. masih dengan kacamata tebal dan senyum khasnya.

Biank masih dengan semangat analisisnya pada situasi kini dan kecenderungan cara kerja LSM yang mirip dokter bedah, P3K dan aneka model cara penanganan yang harus tahap demi tahap hingga sering anggap tidak penting mengenali kompleksitas dan ketidakpastian atas kekinian. ya maka sesuai standart operasional Prosedur jadi jawabannya. terima kasih sudah berbagi, kataku.

Lalu haris memberikan sebuah cerita tentang tujuan dan sarana hidup. cerita ini buatku penuh energy. sebab pas banget dengan buku lama yang baru saya baca “samll is beautiful” tulisan si Schumacer. dalam buku ini tentang pandangan hidup kemulyaan yang tidak mengoptimumkan proses produksi, tetapi lebih pada optimumisasi konsumsi. artinya begini, jika memang manusia memang butuh baju untuk menutupi tubuhnya, lantas kenapa mesti dengan dipotong-potong dan aneka motif yang berliku untuk membentuk jahitannya. padahal makin di potong-potong dan dibuat rumit, maka benang, waktu, tenaga dan energy yang akan digunaknnya akan semakin banyak. Pertanyaannya; Lalu kenapa baju tidak dibuat sederhana, dijahit pinggirnya kain agar si benang tidak mudah terurai lalu kenakanlah laiknya “para biksu” atau pakaian ihram kalo di naik hajinya orang islam, atau pakaian Mahatma Gandhi semasa hidupnya? maka bisa dipercaya kebutuhan makan pun sepertinya akan tidak terlalu banyak, karena energy yang dikeluarkan juga sedikit.

dengan begitu maka waktu yang digunakan untuk sebuah baju tidak akan lama, energy akan sedikit, dan waktu untuk melakuan hal yang lain juga tidak tersita. mulai dari cara berileksasi dan berdoa atau memenuhi aktivitas yang membahagiakan yang lainnya bagi manusia. sehingga manusia bisa menjadi pelaku keseimbangan yang makin mengenali makna hidup dalam keseimbangan, kelestarian dam perdamaian.

Lalu Haris menimpali dengan cerita ini : ” pada sebuah situasi ada seorang direktur perusahaan yang kaya raya. tidak heran karena semua waktu dan tenaga yang dia dapatkan dihabiskan untuk memenuhi produktivitasnya, siang-malam, malam-pagi kerja lembur untuk menyiapkan tabungan masa depan dan rencana masa “tua”, begitu kalimat akrab yang sering kita dengar. Pada suatu ketika dia menyalurkan hoby mancingnya di danau yang indah. secara tidak sengaja dia ketemu dengan pemancing yang lain. Maka menyapa dan berkenalanlah si Direktur kaya ini, “hai pak, sudah lama memancing disini?”. jawab si bapak pemancing “sudah pak!”. Lalu direktur bertanya lagi “kalo hobi memancingnya sejak kapan?”, kontan pemancing menjawab : “sudah dari sejak dahulu pak sejak remaja bahkan masa kecil “. :Lalu sang direktur melanjutkan lagi “lalu pekerjaan bapak selain memancing?”. Wah tidak ada pak, ya memancing ini kegiatan saya!, begitu ujar si pemancing. Tiba-tiba si pemancing ganti bertanya pada Direktur : ” kalo bapak selain memancing apa kegiatannya dan sudah berapa lama melakukan itu?”. “wah saya direktur perusahaan yang tidak perlu saya sebutkan jenis usahanya pak”. O….. dengan mengangguk-angguk si bapak pemancing melanjutkan lagi pertanyaannya : “kalo kegiatan memancing ini sejak kapan Anda melakukannya?”. jawab direktur : “baru saat ini pak saya memulai memancing.” dengan terkejut dan rasa penasaran sipemancing ganti melanjutkan pertanyaannya : “jadi Anda bekerja sekian lama hanya untuk memancing saat ini pak?”. begitu pertanyaan sang pemancing pada si Direktur kaya raya dengan polosnya. “wah, jadi memancing Anda ini begitu mahalnya ya pak Dir…? bahkan sampai harus menunggu bertahun-tahun?”. mereka sama-sama diam dan tiba-tiba sipemancing menutup pembicaraan itu dengan sebuah ungkapan “saya sih setiap hari memancing dan inilah sarana hidup saya, bukan tujuan hidup saya pak!”

inilah jaman ini. banyak orang memenuhi cara untuk bersantau saja harus mengumpulkan masa kerja terlebih dulu untuk kemudian bersantai dan bermain. padahal bekerja-belajar-bermain itu bisa jadi satu. iya coba bayangkan saja, kalo si pemancing itu menebar 100-200 pancing setiap hari dan dia mendapatkan 40 kg ikan yang siap jual dan dimasak setiap hari. tentu bukan miskin dia?!!

tersenyumlah selagi masih bisa tersenyum dan jangan terlambat untuk tersenyum. hehehe……..

ipoel

2 thoughts on “Memancing Tujuan

  1. ipoel….semakin sy membaca tulisan anda, sepertinya anda suka menyimak satu kejadian kecil (situasional/prosedural) dalam sebuah proses tertentu sebagai obyek permasalahan untuk menyingkap penyelesaian global sifatnya.Selamat untuk anda yang berani membuka hati dan menuangkannya dalam kata-kata serta membagikan kepada khalayakpembaca.Kalo itu serial drama, mungkin tulisan anda semacam bentuk rollplay,cerita sekilas dengan berusaha mengungkap kedalaman makna dan keluasan pemecahan permasalahan.Sah-sah saja yang demikian.
    Bahwa hidup dan permasalahannya tidaklah sesederhana apa yang terpampang dihadapan mata.Seperti bernafas, bagi orang normal hal itu adalah otomatis/rutin dan hanya ritme metabolisme tubuh.Namun bagi orang yang menderita asha, bernafas secara normal, katanya adalah sebuah kelegaan atau semacam kebahagiaan. Kelegaan apa atau kebahagiaan yang mana,hal ini tidak akan dapat dipahami oleh orang-orang yang tidak mengidap ashma bahkan dokter-dokter ashma sekalipun yang dapat mengungkapkan dengan melihat fakta formal seperti hasil rontgent/EKG dsb.Dari fakta memang akan terbaca permasalahannya, tapi tidak akan ada alat yang dapat mengungkapkan bagaimana nyeri/rasa sakit/sesak di dada si pasien saat ia bernafas.
    Ipoel…hidup ini misteri untuk diungkapkan maknanya, selamat menjadi manusia yang peduli

    Suka

  2. terima kasih telah membaca dan membagi cara memaknai kebahagiaan…. setuju hidup adalah misteri. maka mari kita gunakan seni segala kemungkinan untuk makin membuat orang lain bahagia.

    bahagia memang beda dengan ksenangan. Kata Dalai Lama, bahwa bahagia itu ada di kedalaman jiwa, sementara kesenangan itu diluar “seringkali” karena tempat dan batas-batas wilayah. bahagia tidak terbatas…..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s