imagine


REVOLUSI ITU MENCIPTA!

kata itu adalah ciptaan Tan Malaka, revolusioner yang tajam, kritis dan berani mengambil sikap untuk melahirkan gagasan Republiken pada jamannya. dan dia adalah penulis buku MADILOG (materialisme dialektika Logika) yang menjadi inpirasi kaum pergerakan Indonesia pada jamannya. apakah sekarang sudah tidak bisa menjadi inspirasi. tentu masih bisa dan sebaiknya ditambah dengan pengetahuan yang lain.

belajar-bergerak-berpikir-belajar tiada henti

https://ipoel.files.wordpress.com/2008/06/barisan-rakyat-melawan.jpg?w=300

tadi malam saya menghadiri acara mimbar bebas yang diselenggarakan oleh sebuah embrio pergerakan yang menghidupkan romantisme “perubahan yang gagal” pada tahun 1998. ya gerakan reformasi. di Surabaya ada namanya ASPR (arek suroboyo pro reformasi). dan huruf R belakangnya kini diganti dengan Revolusi.

seiring dengan kompleksitas dan ketidakmenentuan situasi ekonomi yang merupakan sosialisme bagi si kaya, artinya yang kaya makin kaya dan si miskin makin miskin secara ekonomis. hal ini ditandai dengan beberapa hal kecil “keresahan” yang udah masuk ke tengah pasar, di ladang pertanian, di dek kapal ekonomis, digerbong kereta ekonomi dan meja makan masyarakat. begitu kata angga (dosen Fisip unair) semalam yang menjadi narasumber yang dipanel dengan saya plus Pak Tjuk K.Sukiadi (aktivis GMNI tahun 1960-an) dan Mas Danu (aktivis buruh gaek di kota Surabaya).

gagasan revolusi apa, bagaimana, kenapa mesti revolusi berkembang menjadi bahan diskusi mimbar yang dihadiri oleh tidak sampai 50 orang. meski spanduk yang dibentang untuk solidaritas umum di depan gedung DPRD Surabaya sejak pagi sudah ratusan jumlahnya yang di corat-coret para pendukung. Tentu bukanlah utopia dan mau meratapi kemandegan gerakan yang tidak kemana-mana tetapi mengusung gagasan REVOLUSI. tetapi ya inilah yang penting, berani memulai, ini merupakan awal untuk menciptakan!

awalnya gerakan ASPR 2008 ini merupakan respon atas kenaikan harga BBM. dan kebetulan semalem saya di dapuk untuk menyampaikan Politik Migas. tentu tidak jauh beda dengan yang saya tulis di webblog  saya ini terkait category Energi kita dan Tulisan Sinau. ya, kenaikan itu hanya salah satu dampak ketidakbecusan (kebangkrutan tepatnya) dalam mengurus bahan bakar. karena sebenarnya yang kita hadapi kompleksitasnya ruarrr biasa!

kembali gagasan revolusi. kalo buat saya tidak terlalu pusing untuk merumuskan apa makna kerja-kerja dan tindakan revolusioner. saat kita berani menciptakan pengalaman dengan cara kita dan memulainya dengan berbeda itu adalah awal dari revolusi. tentu makin menarik ketika dikerahkan pada kelahiran inisiatif Lokal yang kritis, tetapi tidak ultra lokal. tetapi lokal yang multi lokal dalam melahirkan inisiatif sosial baru yang lebih berorientasi pada keadilan sosial.

Semua pemikiran dan dunia ini sangat sederhana, hanya tafsirnya saja yang membuatnya seolah-olah besar (demikian Pram menulisnya dalam Bumi Manusia). Lalu kenapa kita tidak bisa memberikan tafsir sendiri yang lebih membuat kata Revolusi itu menjadi punya makna ala kita. dan bukankah revolusi sistemik untuk mengganti sistem itu sendiri bukan jaminan bahwa kita akan keluar dari situasi yang lebih baik. Karena sistem itu sendiri cenderung mengalami kemandegan, sebab dia cenderung statis. meski mark memahaminya bahwa sistem sosial itu dinamik, artinya selalu berubah dan bergerak karena situasi sosial itu sangat dipengaruhi oleh situasi cara berproduksi, tatanan ekonomi dan politik.

kalo saya sih Revolusi itu bukan mengganti. tetapi lebih pada berpindah dari satu titik ke titik yang lain. jadi kalo memang tidak seperti saat ini, lalu apa? lalu ketika kita percaya perubahan itu bisa diciptakan, maka berimajinasilah. sebab imajinasi itu tidak terbatas sementara pengetahuan itu terbatas (by: einstein). mirip halnya dengan sumpah pemuda 1928 yang di inisiasi sebagian besar para pemuda belum genap 25 tahun itu adalah kekuatan imajinasi. saya tidak hanya melihat faktor sosial politik dan ekonomi era itu yang memicu kelahiran sumpah pemuda. tetapi lebih pada karakter (citra diri) pemuda era itu, tentang memerdekakan diri sendiri dulu dari ketakutan untuk mengimpikan hal baru. dan benar adanya saat itu kan memang belum ada “Bangsa Indonesia, Bahasa Indonesia, Bahasa Indonesia”. tetapi imajinasi mereka sudah sampai pada itu dan emosi, sikap, perilakunya dikerahkan untuk mewujudkan itu.

jadi perubahan itu bukan seberapa besar sumber daya dikerahkan untuk mewujudkannya, persis jumlah yang sedikit dalam sumpah pemuda itu. tetapi lebih pada sebesar apa emosi dan kekuatan dikerahkan untuk mewujudkan cita-cita itu. ciptakan perubahan dengan caramu! itu penutup sesi materi saya dalam dialog mimbar bebas semalam.

ipoel

One thought on “imagine

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s