Social Intellegency


Masyarakat Wirausahawan Sosial

Lembaga pendidikan harus melahirkan lapangan kerja bukan hanya pencari kerja. Demikian pernyataan pengusaha real estate Ciputra. Bahwa menurutnya jumlah entrepreneurship telah disempitkan dalam bidang bisnis semata (Kompas, 25/10/2007). Padahal kenyataannya manusia terdidik di Indonesia telah jutaan jumlahnya. Tetapi koq generasi wirasusahanya hanya 0,18 persen dari jumlah seluruh penduduk Indonesia?

Lantas apa yang perlu diperbaiki ketika tidak hanya bisnis yang menjadi tujuan dalam berwirausaha? Relasi antar masyarakat manusia yang secara sepenuh hati tiada pernah berhenti untuk memperbaiki dunia yang kita butuhkan. Hal itu tidaklah sulit jika semua orang melakukan hal luar biasa untuk menemukan spirit menjadi social entrepreneur (wirausahawan sosial). Untuknya diperlukan kesadaran, minat, keyakinan, ide baru dan segar, serta melahirkan tindakan innovativ yang terus dikembangkan.

Tetapi sayangnya jika entrepreneur bisnis jumlahnya sudah 400.000 menurut pak Ci, wirausahawan sosial versi Ashoka Indonesia jumlahnya belum sampai 1000 orang sejak tahun 1980-an hingga sekarang. Wirausaha sosial berbeda dengan pembaharu sosial apalagi wirausaha ekonomi, dia melampaui dan lebih dari itu. Sebab yang dilakukannya lebih punya manfaat dan ketahanan jangka panjang untuk kelahiran budaya melahirkan hal-hal baru dan berkesan dalam hidup dengan sesama. Bahwa dia adalah pelaku penentu perubahan (Change Maker). Dimana inilah yang akan menjadikan seseorang dan tatanan sosial menjadi punya karakter. Demikian istilah David Bornstein dalam bukunya yang berjudul ”mengubah dunia” (Insist 2006).

Pentingnya Kecerdasan Sosial

David Golleman, dalam Social intelegency (kecerdasan sosial, 2007) menyatakan dengan jelas. Inilah hal paling dasariah yang tersingkap dari kehidupan manusia, bahwa kita memang tercipta untuk saling berhubungan. Selanjutnya dia menambahkan kalau “diri sosial”, rasa identitas yang kita bentuk ketika melihat diri kita sendiri dalam cermin relasi kita. Menurutnya adalah seperti “kecerdasan sosial yang disempurnakan” sebagai sasaran tunggal kemajuan sosial, bersama dengan hubungan baik dan pengertian timbal balik yang lebih baik sesama manusia. Karena responsivitas otak menuntut agar kita menyadari bahwa bukan hanya emosi namun juga biologi kita digerakkan dan dibentuk, apa pun hasilnya, oleh orang lain-dan pada gilirannya, agar kita mengambil tanggungjawab bagaimana kita memengaruhi orang lain dalam hidup kita.

Wajar jika kemudian mempertanyakan kenyataan kita untuk kemudian kita harus berani membuat impian baru tentang masa depan masyarakat manusia Indonesia. Diberi ikan atau kail? Adalah pertanyaan ”sempit” yang sering digunakan untuk memerangi kemiskinan. Padahal dengan itu juga akan melahirkan tukang mancing saja kalau kail. Sebaliknya jika diberi ikan akan melahirkan sikap pragmatisme yang menunggu sesuatu tinggal dikerjakan. Bukan menciptakan!

Tetapi seharusnya adalah menemukan kekuatan ”citra diri” terbaik masyarakat, libatkan mereka mengenali dengan kekuatan apa melakukan itu? Apa yang menjadi inspirasi kehidupan hari ini dan apa yang ingin diciptakan dimasa depan? Pasti akan jawaban yang luar biasa gagasannya. Selanjutnya kita tinggal membangkitkan antusiasmenya untuk memperkuat image, dream, vision masa depannya secara appreciative. Ya sebuah gambaran masa depan yang dirancangnya untuk tidak memilih ikan atau kail, sebab harusnya mereka memiliki industri perikanan secara kolektif. Jika ini yang diimpikan, didesain, dilakukan, didukung oleh stake holder lainnya maka masyarakat akan menjadi pelaku utama perubahan sosial ekonomi yang bukan berada dipinggiran lagi. Yakni menjadi penjual ikan.

Selayaknya relasi kita dengan mereka adalah bukan untuk menyebut kemiskinan dari sekedar keterbatasan situasi ekonominya. Sebab jika ini yang dipahami, sebenarnya kita sedang menjadi seorang guru yang menjustifikasi seorang murid yang memang harus menimba ilmu hanya dari sang guru, bukan pengalaman terbaik si murid itu sendiri. Berilah mereka tantangan mengenali dengan kekuatan apa dia melakukan pengalaman terbaiknya. Sebab kenyataannya yang terjadi pada kebanyakan generasi kita saat ini adalah defisit ide/gagasan. Hal ini bisa disebabkan oleh banyak hal, tetapi yang utama adalah dia tidak mengenali citra dirinya dan masih perlu peningkatan menciptakan visioning. Bisa dimulai dengan diberi tantangan untuk mengenali makna hidupnya.

Spirit Innovator Sosial

Seperti yang telah dilakukan oleh M. Yunus peraih nobel perdamaian tahun 2006 di bidang ekonomi. Seorang dosen perguruan tinggi di Bangladesh, yang mempunyai kepekaan sosial dan kelembutan empati luar biasa bisa kita jadikan pelajaran berharga. Bahwa sebelum dia meraih nobel, dia memang seorang wirausaha sosial (social entrepreneur). Tidak salah jika di tahun 1990-an fellow Ashoka International memilihnya jadi fellow. Selama 30 tahun dia berkeyakinan dan gigih menumbuhkan biji kecil yang akan jadi pohon besar. Ini berbeda dengan kebanyakan para cerdik cendekia “akademikus” yang saat ini bertebaran di sekolah, kampus dan lembaga pendidikan formal/non formal. Orang seperti M.Yunus memang langka. Ditengah banyak orang sibuk memperebutkan kekuasaan, memperkaya diri, konsumerisme, serakah, pragmatis, mengkomoditaskan pengetahuan dan kekayaan. Dia memilih menjadi orang ”abnormal” selama 30 tahun untuk menentang arus dengan semua kesabaran, segala kerendah hatian, tidak ingin populer/terkenal. Bahkan dengan pilihan sadar dia ”gauli” si miskin, untuk makin belajar tentang akar kemiskinan.

Jadi bukan semata urusan menajemen pengelolaan keuangan yang dia kembangkan dalam mengawali dan mengembangkan Grameen Bank, meskipun itu tetap penting. Tetapi ada hal yang lebih esensi selain ketrampilan memanaj lembaga keuangan. Filosofi terdalam dari yang dilakukan M.Yunus adalah pada kepekaan dan sensifitasnya pada si miskin serta kelembutan empatinya. Yang dipraktekkan dalam tindakan yang penuh kerendah hatian dan kegigihan dalam perjalanannya membantu si miskin.

Setelah ia menyaksikan orang miskin di desa-desa berjuang lolos, bertahan dari kelaparan yang telah menewaskan ribuan orang. Dia berikrar dalam dirinya : ”sebagai akademisi saya merasa berdosa ketika banyak orang sedang sekarat di desa-desa dan jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori ekonomi yang katanya elegan. Saya mulai membenci diri saya sendiri, karena bersikap arogan dan menganggap diri saya bisa menjawab persoalan itu (kemiskinan). Kami Profesor Universitas semuanya pintar, tetapi kami sama sekali tidak tahu mengenai kemiskinan disekitar kami. Sejak itu saya putuskan kaum papa harus menjadi guru saya!” Demikian kutipan sambutan M. Yunus waktu menerima nobel perdamaian dunia (Kompas, 13/10/2006).

Penulis : Ridho Saiful Ashadi

Fasilitator di Perusahaan Innovasi Sosial LaLu KeTiKa

Alamat /HP/Email : Surabaya, 081.5509.3589 /  ipulsuroboyo@gmail.com

2 thoughts on “Social Intellegency

  1. benar mas apa yang panjenengan tulis. kita itu krisis citra diri sehingga kita tidak mampu bangkit untuk melawan kondisi yang ada. selama ini paradigma yang kita pakai seringkali salah dan menjebak kita kearah kemandegan. trima kasih telah memberikan penyegaran dan ide yang baru dan berbeda.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s