ReVisioning Pemuda


Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 2008 ini memasuki usianya yang ke 80. Nilai yang disandangnya dalam perspektif historis bisa dipotret dari beragam sisi. Meski seringkali dimensi heroisme, patriotisme dan perlawanan atas penjajahan di era kolonial pada tahun 1928 dipilih jadi momentumnya. Tetapi yang menarik adalah dari buku-buku sejarah yang ada, ternyata kebanyakan pemuda yang terlibat dalam sumpah pemuda 1928 adalah ”kaum muda terdidik” atau anak-anak sekolahan. Hal itu bisa dilihat dengan keterlibatan Pemuda Soekarno, Tan Malaka, Hatta, Syahrir, Mas Marco, WR Soepratman, RM Tirto Adhisuryo dan yang lainnya. Dengan kepekaan sosial dan kelembutan empati atas manusia disekitarnya. Mereka melahirkan banyak gagasan besar dan menunjukkan sebuah citra diri pemuda visioner demi Indonesia masa depan!

Bolehkan kita menyebut bahwa tulang punggung karakter dan masa depan bangsa sangat dipengaruhi oleh sistem pendidikan? Yang didalamnya termasuk cara belajar, cara mengelola tempat belajar, merelasikan siswa didik dengan tempat belajar. Begitu juga keluarga siswa dengan manajemen sekolah. Tetapi juga sebenarnya yang paling penting adalah orientasi bagi pendidikan itu sendiri sedang di desain untuk apa? Mencetak manusia cerdas, pintar yang egois? Atau manusia unggul yang melihat situasi sosialnya bagian dari proses belajarnya untuk menciptakan kelahiran pengetahuan baru?

Sangat mengesankan dibalik peristiwa sejarah dan politik tentang ikrar pemuda tahun 1928. Ternyata secara pribadi mereka memiliki apa yang disebut oleh Daniel Golleman dalam bukunya Social Intellegence (kecerdasan sosial, 2007). Bahwa hal dasariah yang tersingkap dari disiplin ilmu dan dunia manusia adalah bahwa kita memang tercipta untuk saling berhubungan. Inilah yang menuntun pengertian tiap orang untuk menjawab masyarakat kolektif macam apa yang mampu kita bangun-dan apa sebenarnya yang sungguh-sungguh penting dalam kehidupan kita masing-masing? Dan terbukti, dengan kelembutan empati dan kepekaan sosial atas kenyataan di sekitarnya dan masa depannya. Pemuda-pemuda yang berikrar di tahun 1928 menjadi sedemikian berkarakter.

Merefleksikan kecerdasan dan talenta manusia perlu memakai pemahaman yang meluas, sebab semua anak manusia bisa belajar dari pengalaman hidup. Lantas kenapa pemerintah masih “dengan sombong” mengukur kecerdasan dengan sedemikian sempit, mengesampingkan kecerdasan yang membedakan pada generasi kita? Bisa jadi paradigma pembelajaran, pengalaman tidak pernah direfleksikan untuk menggali makna baru, melahirkan tindakan baru dan menjadi pengetahuan baru. Sebab ujian nasioal memang bukan satu-satunya alat menakar tingkat kecerdasan anak manusia.

Tapi ingatkah kita jika tahun ini sebanyak 3.602 pelajar SMK seJatim tidak lulus. Apabila ditambah dengan jumlah ketidaklulusan pelajar SMA dan MA, ini berarti 10.177 pelajar tidak lulus (Kompas, 15/6/2007). Ini baru di Jatim, belum seluruh Indonesia. Pertanyaannya apakah mereka layak di stigma “bodoh”? Jawabnya jelas tidak! Sebab setiap orang punya kecerdasan yang membedakan. Apa yang di alami Arian Saputra, siswa SMAN 21 Surabaya yang selama tiga tahun selalu dapat ranking 1-5 itu dinyatakakan tidak lulus karena nilai matematikanya jeblok 2,67 saat mengikuti Ujian Nasional (unas). Padahal Arian memiliki kecerdasan dan talenta lain pada kecerdasan bahasa. Lihat saja Bahasa Indonesia 8,80 dan Bahasa Inggris 9,20 (Surya 20/6)..

Belajar hakekatnya adalah proses mencipta pengetahuan, yakni memberikan tantangan pada warga belajar keluar dari zona nyamannya dan di dorong lebih terbuka pada hal-hal baru. Penting untuk menciptakan relasi belajar yang saling percaya diantara sesama warga belajar. Sekarang, jika kita refleksikan. Apakah memang di sekolah-sekolah yang menyiapkan generasi masa depan itu, suasana belajar membuat mereka nyaman dan menyenangkan? Betulkah mereka tidak pernah mendapat stigma bodoh, pemalas, nakal dan berbagai konotasi negatif yang terlontar oleh lingkungan di sekitar mereka? Sebab jika ini yang terjadi. Maka proses selanjutnya bisa menjadi sugesti ketidakmampuan akan mengalir di memori bawah sadar seseorang (tidak percaya diri).

Kenapa bukan dukungan, kesempatan, menemukan kaitan belajar dengan hal-hal innovatif. Seperti yang dilakukan Antonio Banderas, dalam film Take The Lead. Mengisahkan kenyataan pemuda “yang dianggap tidak berprestasi dan nakal di sekolah”, dia kenalkan pada tarian Tango yang dipadukan dengan jingkrak-jingkrak saat mereka mendengar musik hip hop. Akibat kreasi dan antusiasmenya mereka mengharumkan nama sekolah. Prestasi dikelas mereka menjadi lebih baik dan mampu menjuarai kontes tari Tango se kota. Antonio mengenalkan makna tarian ini pada awalnya dengan cara mengendalikan emosi, menghormati sesama, sopan santun, keramahan dan keagungan estetika yang berpadu dengan semangat pada diri para pemuda saat dengar musik hip hop mampu membantu dia menciptakan pengetahuan baru dalam metode belajar.

Saatnya mengembangkan apa yang ada pada pengalaman setiap pemuda untuk ditantang menemukan kekuatan terbaiknya dan mengenali dengan cara apa dia melakukannya. Tetapi sayangnya kita sering meremehkan kekuatan sentuhan, senyuman, kata-kata manis, telinga yang bersedia mendengar, pujian tulus atau perhatian yang paling kecil, padahal kesemuanya punya potensi untuk mengubah kehidupan.

Re Imagine

Pada sebuah perjalanan riset kecil yang penulis lakukan saat memfasilitasi proses training/pelatihan dan perjumpaan dengan para pemuda, khususnya ”mahasiswa”, dibeberapa perguran tinggi Indonesia. Seringkali penulis melontarkan pertanyaan sederhana kepada mereka. Mengambil responden yang baru masuk kuliah semester satu atau dua, mereka yang akan skripsi dan mereka setelah skripsi dan tinggal menunggu wisuda. Penulis mengajukan; apa yang mau anda lakukan dan anda ciptakan dimasa depan setelah lulus kuliah?”.

Jawaban mereka rata-rata adalah; tidak tahu! Atau paling baik adalah mencari pekerjaan, bukan menciptakan pekerjaan bagi dirinya. Saya jadi bertanya-tanya, apanya yang keliru dalam metode belajarnya mereka koq jadi gagap memandang masa depannya? Sedang mereka yang mau skripsi dan tinggal menunggu diwisuda, juga tidak menemukan refleksi yang mengesankan bahwa mereka telah menempuh proses belajar minimal 3-4 tahun, bahkan lebih. Bukankah mereka setiap hari dididik, diberi tugas, diceramahi? Apakah ini akibatnya ketika tidak berproses untuk menciptakan pengetahuan dari pengalaman terbaiknya. Sehingga pemuda jadi defisit gagasan dan citra dirinya kosong. Intinya defisit ide dan tidak mempunyai vision atas masa depannya.

Re Framing

Saat ini butuh re-desain membangun citra diri kaum muda, tidak cukup hanya dengan logika tetapi empati, tidak cukup dengan linear tetapi simphony, tidak cukup hanya serius dalam rutinitas tetapi juga bermain, tidak hanya arah dan tujuan tetapi mengenali makna. Sehingga belajar bisa menjadi spiritualitas, bukan mengejar komoditas nilai prestasi sekolah dan akademis. Inilah sinyal yang diberikan Daniel H. Phink dalam A Whole New Mind (berfikir meluas dan Baru),

Hal ini bisa kita mulai dengan menggunakan bermacam alat bantu dan menjadikan suasana belajar adalah hal yang mengasyikkan. Kita tidak perlu takut apalagi terus mendikotomi, belajar adalah belajar, bermain adalah bermain. Karena bisa kita padukan dalam menemukan antusiasme setiap manusia dalam proses belajar. Bahwa kita mesti percaya dan mengenali adanya multi kecerdasan (kecerdasan majemuk) anak-remaja-orang lain saat menjadi warga belajar dalam tiap proses belajar, setiap orang selalu punya kecerdasan yang membedakan.

Sebaiknya menjadikan proses belajar efektif bagi semua warga belajar, adalah dengan keterlibatan penuh warga belajar, pengalaman semua orang adalah bernilai. Menjadi manusia seutuhnya dalam proses belajar dengan seluruh indera orang diaktifkan dalam belajar. Jadi tidak hanya berfikir dan bergerak (apa bedanya dengan robot). Tetapi belajar harusnya melahirkan antusiasme, saat hati dan otak beresonansi melahirkan energy belajar. Maka belajar telah masuk ke jagad spiritualitas belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan yang senantiasa memanusiakan manusia.

Sehingga di tahun-tahun selanjutnya saat kita memperingati Sumpah Pemuda dan menyosngsong hari-hari baru. Kita berjumpa dan bangga pada prestasi-prestasi mengesankan dari para pemuda idaman bangsa yang cerdas secara sosial untuk menjadikan negeri ini berkarakter, berdaulat, berdaya saing, unggul dan selalu bermanfaat bersama keagungan insaninya. Demikianlah. Bagi mereka yang berpendapat bahwa kecerdasan sosial mirip dengan kecerdasan umum yang diterapkan pada situasi-situasi sosial kita akan lebih baik berfikir sebaliknya: mempertimbangkan bahwa kecerdasan umum itu sekadar merupakan turunan dari kecerdasan sosial, meskipun kecerdasan umum itu dihargai begitu tinggi oleh budaya kita. Manusia memang unik.

Penulis :

Ridho Saiful Ashadi

Aktif di Associate Facilitator Vibrant Inspirit dan Convernor WALHI Institute

Email : ipulsuroboyo@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s