Lhoong


Akhirnya datang ke Aceh juga. demikian sambutan Bu Ar yang menyambut kedatangan rombongan kami (bilal, Arso, dedy, Ahmad dan Gus Udin, serta saya) di rumahnya. dengan suasana senang penuh kehangatan Bu Ar dan Pak Hasan sang suami, memberikan pelukan bahagia. terima kasih sudah datang dan ini tentunya patut kami syukiri. begitu ujarnya.

Daerah Lhoong sekitar dua jam di tempuh dari Kota Banda Aceh. setelah melewati sepanjang garis pantai yang tiga tahun lalu di datangi ombak besar tsunami setalah goyangan gempa 9,1 skala ritcher. kini telah berdiri rumah-rumah, usaha, kehidupan dan pembuatan infrastruktur bergambar aneka bendera nama organisasi, donor, yayasan. mulai dari lokal, nasional hingga internasional.

berpikirlah sebaliknya! Ciptakan Makna Baru!

berpikirlah sebaliknya! Ciptakan Makna Baru!


setelah menikmati makan siang yang di masak khusus oleh keluarga Bu Armanusa kami bersiap ke aula tempat ngumpul untuk berbagi cerita. namun sebelum memulai saya sempatkan melihat pemandangan langsung bekas-bekas rumah, jalan, jembatan yang pernah diruntuhkan oleh Tsunami akhir tahun 2004.

pertemuan berbagi cerita yang menyenangkan dihadiri sekitar 30 orang. dibuka oleh pak hasan, kemudian dilanjut dengan si Arso (Prof, Dr, ahli kelautan) dan Bapak Angkat, demikian Pak Hasan menyanjungnya. otomatis saat memulai pembicaraan Arso langsung menyatakan itu tidak betul, tapi Pak Hasanlah yang menjadi ayah angkat selama belajar tentang pesisir, kelautan dan perikanan saat di Bali bulan Mei 2008.

saya tertarik dengan penjelasan Arso. bahwa dia bahagia mendapat saudara baru di Bumi Aceh. dan saat ini yang dibutuhkan menjalani kehidupan baru adalah semangat saudara-saudara saya yang disini, katanya. Selanjutnya Gus Udin menyampaikan cerita kampung biogas dan bagaimana memulai hal itu yang berawal dari satu unit biogas hingga akhirnya sekarang lebih dari 200 unit mampu dikembangkan oleh kelompok masyarakat. ditambahkan pula tentang aktivitas terkininya tentang pohon kebijaksanaan. menarik karena symbol pohon kebijaksanaan adalah pohon kelapa. dan di Aceh ini banyak sekali. ibarat setiap orang adalah pemimpin maka jadilah semua bagiannya mempunyai manfaat, laiknya pohon kelapa. mulai dari akar, batang, daun, buah, dan semua bagiannya bisa dimanfaatkan untuk kehidupan.

tiba giliran saya. saya buka dengan salam dan perkenalan diri tentunya. selanjutnya saya menceritakan mobil yang mogok karena bocor bannya. yang akhirnya bisa mengganti ban, bukan karena mengandalkan dongkrak untuk menaikkan mobil terangkat agar ban bisa di copot. tetapi lebih pada bagaimana mobil terangkat dan ban bisa diganti. karena seringkali dongkrak adalah segalanya. jadi berfikirlah sebaliknya.

selanjutnya saya ajak masuk pada discovery dengan model appreciatif inquiry. tiga menit sebelum giliran saya, tiba-tiba saya tergerak untuk memnggambar tangan dengan duplikasi tangan saya sendiri yang sebelah kiri dengan spidol di balik kertas putih yang telah terpakai. selanjutnya semua orang saya minta untuk memilih setiap jari yang ada digambar sesuai pilihan yang menarik hatinya.

rata memilih telunjuk, beberapa lagi jempol, kemudian dua orang memilih jari manis dan satu orang memilih jari tengah. lalu saya lanjutkan sebuah metode probing, dengan menggali cerita mendapatkan kekuatan. bahwa apa saja yang anda rasakan pasca tsunami kalo kita artikan pengalaman paling JEMPOLan? apa yang bisa menjadi PETUNJUK (untuk jari telunjuk), apa yang paling Manis setelah Tsunami? dan Apa yang menarik dari posisi jari tengah jika dikatikan denan situasi pasca Tsunami?

Apa yang saya dapatkan benar-benar membahagiakan. karena mereka semua bukan larut pada masa lalu, tetapi secara langsung mendapatkan kekuatan, bahwa saat setelah tsunami tiada lagi beda miskin dan kaya, dan itu pengalaman manis. yang paling jempol dan bagus selama pasca tsunami adalah kami benar-benar belajar menemukan semangat, sehingga kita mendapatkan petunjuk untuk segala hal. Wow!! Edan, terima kasih telah mengajari saya da teman-teman yang datang kekampung ini untuk mendapatkan makna baru.

setelah sesi matching dan opening. kemudian saya mulai memperdalam makna tangan. untuk mendapatkan pengertian ala masyarakat? maka mereka pun menyebutnya bahwa dengan tangan kita bisa mengerjakan banyak hal. baru setelah ini saya cerita sedikit tentang pengalaman dimasa lalu dan masa kecil dikampung halaman terkait belajar dari kenyataan. sesi clossing saya tutup dengan memaknai tangan dengan meminta bantuan Gus Udin menumpahkan air dari gelas kemasan air minum ke tangan saya yang mebentuk posisi seperti sedang meminta sesuatu. setelah itu saya minum air putih ditangan saya secara langsung seperti saat orang islam melakukan Wudlu’. Bukankah memang dengan kedua tangan kita tetap bisa minum sebelum gelas, sedotan, dan aneka alat bantu di gunakan untuk mewadahi dan meminum air? terima kasih.

saya senang saat menyaksikan begitu berseri-seri wajah semua warga masyarakat yang hadir ditempat ngumpul ini. kebahagiaan yang besar bagi saya saat menemukan energy berjumpa yang memang bermanfaat bagi orang lain. apalagi di tempat ini, pada saat tsunami 90 persen warganya menninggalkan dunia lebih cepat dari yang sekarang masih hidup.

asyiknya belajar secara langsung. indahnya menyampaikan sesuatu dengan cara santai dan menyederhanakan apa yang mau kita sampaikan. karena pada saat acara telah usai dan kami berjalan menuju rumah bu Ar, beberapa warga masih berdialog dan melontarkan kata-kata “tadi pilih jari yang mana”. amboiiii….., senengnya mendengar kesan belajar singkat yang membantu mereka makin ceria dan semangat dalam menemukan pertanyaan baru atas kenyataan hidupnya.

besok saya bersama rombongan akan berangkat ke daerah Kuala Kiran, katanya disini termasuk wilayah Sigli atau Piddie kalo tidak salah. dan ini merupakan basis perlawanan masyarakat Aceh saat sebelum terjadi perjanjian Damai GAM dan pemerintah RI tahun 2005. tunggu saja ceritanya dan pengalaman baru yang akan kami dapatkan dari para pembaharu sosial yang percaya adanya peradaban lebih baik.

Ipoel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s