Biogas Kuala Kiran


mencipta energy bahan bakar alternatif dari kotoran sapi

mencipta energy bahan bakar alternatif dari kotoran sapi

Desa Meunasah Raya Kuala Kiran, Kab Piddie Jaya. disitulah rumah tinggal Ustadz Zarkasyi yang pernah saya temani belajar seminggu waktu di Trawas dan kunjungan lapangan biogas ke Desa Srebet Kota Batu. Hebat! itu kata yang paling pas buat semangat dan kerja cepatnya membangun instalasi biogas yang 75 persen dilakukannya. mempelopori masyarakat di desanya untuk merdeka dari energy konsumtif dan komersial demi kebutuhan memasak. maka dia mereplikasi energy Biogas dari kotoran sapi. hal ini dia peroleh saat saya pertemukan dengan Gus Udin (anak kyai yang serba bisa dan belajar dari membaca alam yang meluas).

dalam kunjungan yang tidak sampai satu jam. kemudian melihat biogas secara langsung dalam waktu 25 menit dan berdiskusi tanya jawab dengan pemuda Desa Srebet. rupanya secepat itu dia menyerapnya. sungguh kecerdasan dan semangat untuk melawan ketergantungan bahan bakar sedemikian besar.

Dirumahnya yang mungil dia tinggal dengan istrinya dan anaknya yang belum genap setahun. keberadaan kebiasaan masyarakat Desa ini yang melepas sapi (tidak dikandangkan) membuat kotoran sapi berceceran dimana-mana, demikian juga di Lhoong kemarin.

setalah bercakap-cakap dan kangen-kangenan sebentar. kami langsung melihat konstruksi biogas yang telah dia bangun. kehadiran para tetangga yang terdiri dari ibu-ibu (ada 7 orang yang hadir) yang juga penasaran tentang “bagaimana kotoran sapi bisa menjadi bahan bakar”. bersyukur saya ketika gus udin membawa sketsa gambar konstruksi yang mampu membantu secara teknis. ditambah dengan interaksi yang lama dengan pengetahuan ini maka saya menceritakan pengalaman Desa Srebet dan apa saja multi manfaat biogas dari kotoran sapi.

khusus untuk kawasan desa ini dan sekitarnya. kotoran sapi bisa diharapkan tidak lagi berceceran. karena bisa mendapatkan bahan bakar gratis. selanjutnya kotoran yang telah keluar sendiri dari sisa olahan, dalam waktu yang tidak terlalu lama dengan bantuan sinar matahari bisa menjadi pupuk organik yang luar biasa. taburkan pada tanaman sekitar halan rumah dan jadikan taman sayur-mayur organis (bayam, sawi, kangkung, tomat, terong, cabe dan lainnya), maka tidak perlu lagi membeli pupuk penyubur tanah. otomatis belanja bahan bakar bisa di gunakan untuk kebutuhan lainnya. dan kita tidak lagi tergantung meskipun bahan bakar minyak harganya terus menerus naik atau hilang dari peredaran. belum lagi dalam pengembangannnya energy ini juga bisa menjadi bahan bakar pembangkit listrik tenaga diesel. demikian saya membagi cerita.

apakah tidak bau pak? demikian pertanyaan dari salah satu ibu-ibu. tentu saja tidak. apakah tidak menimbulkan dampak “meledak misalnya”, tentu saja tidak dan ini bisa kita kontrol. bagaimana dengan jangka waktu (bisa menghasilkan bahan bakar untuk berapa lama), bisa dari jam 5 pagi sampai jam 5 sore jika dinyalakan terus menerus (ini pengalaman yang di Kota Batu).

usai berbagi cerita dan berdialog secara segar. kami lanjutkan melihat tambak ikan hasil inisiatif kelompok dari bapak-bapak yang mampu mengembangkan perikanan (bandeng, mujaer). dikelilingi pohon kelapa yang begitu banyak, membuat oborlan dibawah pohon kepala sambil menikmati air kelapa muda beserta daging buah kelapa muda, membuat dahaga menjadi terobati.

sebuah pertemuan asyik tanpa formalitas. membawa kami pada obrolan jika telah panen apalagi yang mau dikembangkan. bagaimana mengemas, bagaimana memberi nilai tambah sebuah produk ditempat lokalnya, bagaimana membuat pakan sendiri untuk pertambakan ikan milik masyarakat? adalah beberapa hal yang menjadi obrolan santai yang membuat wajah bapak-bapak berseri-seri.

sebelum pulang kami sempatkan melihat pesisir dan dampak ombak besar pinggir pantai pasca tsunami. wah senang rasanya mampu melalui hari kedua ini. desa yang kami kunjungi ini jaraknya 5 jam dari kota banda aceh. melewati gunung, lembah Seulawah yang berkelok-kelok, membuat keasyikan tersendiri selama perjalanan. terima kasih buat isnpirasi di kuala kiran yang telah saya dapatkan.

semoga perjalanan besok ke Lengah, makin banyak yang bisa saya pelajari dari masyarakat disana pasca Tsunami dengan berbagai temuan dan inisiatifnya menjalani hidup dengan penuh semangat.

ipoel

3 thoughts on “Biogas Kuala Kiran

  1. PERMISI BOS NUMPANG BERBAGI PENGALAMAN.SY UDAH BUAT BIOGAS PAKE DRUM BEKAS.EMANG NYALA,TAPI TRUS MATI TRUS SY NYALAIN LAGI TRUS MATI LAGI ….BEGITU SETERUSNYA.SEPERTI DITIUP ANGIN TAPI GAK ADA ANGIN.KALO BOS TAHU MOHON INFONYA.TRIMS.

    Suka

    • hi ivan yb……….. maap ya baru bales… terima kasih dah mampir ke blog Dunia cerah

      biogas yg pakai drum itu, sangat di pengaruhi volume gas jadi yang di masak oleh bahan dasarnya. nah jika tekanannya terlalu kecil, maka dia “byar pett” artinya nyala sebentar lalu mati lagi. ibarat membuka kran air yang pakai tandon air, dia sebenarnya tandonnya hanya isi sedikit air, lalu ketika kran kita buka, maka yang keluar air sebentar lalu mampettt… hehehehe……… itu yang bisa saya share. bakal kuat jika dari tempat nampung bahan “penghasil gas metan” itu agak besar, lalu ada penampung semacam tandon, lalu dari tandonnya ini yang kemudian di alirkan ke saluran terakhir “semacam kompor” untuk membakar aliran gasnya….

      salam dunia cerah,

      ipoel

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s