Panglima Laot


pagi ini memulai aktivitas dengan mengunjungi masjid raya Banda Aceh. nuansa religus, arsitektur, budaya, pendidikan, sejarah, dan multi pengetahuan bisa didapatkan ditempat ini. wajah aceh masa lalu, keyakinan mempertahankan hak ala aceh yang heroik begitu kental di area masjid Baiturrahman. sebuah bangunan kokoh warisan kolonial yang tidak goyah, meski di getarkan gempa 9,1 skala ristcher. disinilah banyak masyarakat Kota Banda Aceh mengungsi pada saat itu, hingga ke atas kubahnya.

"pintu gerbang Aceh dari sisi yang lain..."

usai mengambil kenangan foto di masjid raya. rombongan kami langsung berangkat menuju lokasi Desa Leungah Kecamatan Lampana Kab Aceh Besar. dengan melewati bukit yang tidak rimbun pepohonannya, dalam dua jam kemudian kami sampai di lokasi. pelukan hangat Panglima Laot Pak Sanusi menyambut kami, begitu juga pak Abubakar, salah satu peserta magang belajar 3 bulan lalu ke Jatim yang pertemuan tentang motivator lokal juga menyambut kedatangan rombonan kami.

ngopi sebentar di kedai kampung pesisir yang seratus persen penduduknya selamat dari tsunami adalah hal luar biasa. ditambah dengan cerita pak Sanusi yang bersemangat, bahwa ketika air surut hingga 100-150 Meter saat itu. masyarakat langsung tanpa dikomando pada berlarian mencari bukit yang lebih tinggi untuk mencari perlindungan diri. wowww!!! desa yang hebat, masyarakat yang berpengetahuan dasyat! mestinya disinilah menjadi pusat pembelajaran tanggap tsunami (demikian Pak Arso spontan melontarkan idenya).

Panglima Laot adalah semacam kordinator di sebuah lok. istilah lok sendiri adalah sebuah pendekatan kewilayahan tiga desa untuk berkordinasi terhadap perkembangan sektor pesisir kelautan yang sejak dulu ada dalam struktur sosial masyarakat Aceh.

Setelah puas menikmati sambutan pembuka di kedai kopi. kami menuju rumah tinggal pak Abubakar yang telah memulai menggali tanah dibelakang rumah dekat kandang sapi. tidak lain ternyata membuat kejutan buat kami, bahwa 60 persen pembuatan instalasi biogas telah dilakukannya. apresiasi penuh kebahagiaan kami berikan kepada sang pelopor biogas di kampoeng leungah ini. wajah berseri pun saya saksikan pada Bilal sang pendamping belajar yang berani mengerjakan program tanpa formalitas dalam cara berelasi dan pengerjaannya bersama masyarakat.

Gus udin yang sedari awal membayangkan kehadiran dirinya dan transfer teknologi alternatif biogas, mulai melakukan simulasi pemasangan perangkat biogas yang telah disiapkannya. pak Abubakar dan ust Zarkasyi dengan serius menyimak dan mempraktekkan tahap demi tahap simulasi. kedua orang inilah yang akan menjadi pelopor di bumi serambi mekkah untuk mereplikasi di desa-desa lain dan Aceh secara keseluruhan.

usai disekitar kandang sapi dan belakang rumah pak abubakar. kami menikmati makan siang yang telah disiapkan oleh keluarga pak abubakar. selanjutnya obrolan yang penuh semangat terjadi setelah makan, adalah cara kami melahirkan ide-ide segar dalam suasana rileks dan penuh keterbukaan informasi atas berbagai pengalaman yang sangat konteks dengan tujuan datang ke Leungah. Gus Udin bercerita banyak tentang manfaat biogas. si Pak Arso menimpali dengan berbagai pengalaman tentang pengalaman di pembuatan alat tangkap, mengolah hasil laut dan potensi lokalnya, juga bagaimana menciptakan peluang dan pasar alternatif produk-produk laut yang tersedia begitu besar di kampoeng Less Bali tempat dia beraktifitas bersama komunitas masyarakat pesisir disana.

Nelayan-Petani Peladang adalah sebutan saya pada masyarakat disini. sebab ditengah kegiatan melautnya, ketika datang angin timur, mereka biasanya berhenti melaut dan menikmati menjadi petani. ide menciptakan alat tangkap, pupuk organik, benih sendiri, mengembangkan potensi lokal lainnya menjadi topik yang membuat segar semua orang yang hadir. termasuk saya begitu menikmati proses interaksi manusia-manusia penuh gairah perubahan dan semangat mencipta hal-hal baru.

mewujudkan negeri kesatuan maritim Indonesia Baru

sebelum pulang setelah 4-5 jam dilokasi. kembali ke kedai kopi waktu datang. si Pak Arso kembali membagi pengalaman dengan menunjukkan teknologi alat tangkap sederhana untuk cumi-cumi. alat ini bekerja untuk memberi cumi sebuah rumah tinggal dan bertelor, kemudian dalam waktu dua bulan ke depan dia bisa dipancing dengan alat pancing sederhana di bulan yang tidak purnama. jadi lebih baik di tanggal awal bulan sabit atau akhir bulansebelum bulan sabit. edan! ide cemerlang dan menyederhanakan pengetahuan untuk menyelamatkan lingkungan, menikgatkan penghasilan ekonomi, dikelola secara bersama kelompok, melahirkan bentuk interaksi sosial yang tiada kenal kemandegan mencipta perubahan.

terima kasih pak sanusi, pak Abubakar, Fajri, Dedy, Ahmad, Arso, Gus Udin yang begitu banyak menginspirasi ide-ide baru dan menambah semangat saya untuk melakukan yang terbaik dan membawa manfaat bgi kehidupan.

ipoel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s