makna kemiskinan


perubahan itu mencipta - re imagine

perubahan itu mencipta - re imagine

realitas itu dibentuk persepsi. kata-kata merubah dunia. itulah level satu dalam mempraksiskan Appreciative Inquiry yang saya selami beberapa waktu….

mencipta dunia cerah sebenarnya

mencipta dunia cerah sebenarnya

semalam diskusi dengan dua teman baik. Salahuddien (alumni pondok karangasem paciran sepanjang masa) dan Zaki “siswa paling mbeling jaman SMA yang selalu dikenang para guru terkait kecerdasannya”, sekarang dia menjadi wartawan Radio DW jerman dan menetap di Jakarta. saya terkesan berdiksui kehidupan dengan mereka sambil menikmati “dadar jagung” buatan si Ayu istri  solahuddien.

Saya berbagi tentang mereframing memaknai kemiskinan. bahwa kita itu ibarat cermin jjika ketemu dengan orang lain yang sering disebut oleh banyak orang si miskin. kalo kita menyetuji cara pandang ini, maka saat kita ketemu si miskin, sebenarnya kita lah yang akan menjadi pendosa untuk membuat energi si miskin menjadi makin gelap.

bagi saya kemiskinan itu merupakan kemiskinan ide dan kreatifitas saja, sehingga berdampak pada apa yang saya sebut hal biasa (rutinitas) dan mengulang peristiwa kemarin hadir pada hari ini, lusa dan begitu terus tiap hari.

jika Anda percaya kaya “harta” sebagai salah satu ukuran sukses dalam hidup, maka ini hanya dampak saja dari kreatifitas dan kerja keras seseorang biasanya. Jika Anda percaya faktor “lucky-keberuntungan” maka saya tidak. tapi energi kita sendirilah yang mampu menghadirkan kekuatan seni melihat masa depan. maka tentu saja kaya harta saja tidak cukup mewakili masa depan sukses kebutuhan dasar manusiawi.
pernahkah Anda melihat semut seukuran LALAT? tentu saja seukuran begitu sesorang cendeerung akan menyebut semut itu besr sekali (beda dari semut ukuran rata-rata). sebaliknya jika kita melihat anak sapi sebesar kambing kurban, padahal umur si sapi itu seudah dua tahun. maka saya menduga Anda akan menyebut sapi koq kecil?? inilah wajah keterbatasan persepsi dan pikiran kita, juga makna atas sesuatu hal di dunia ini. inilah analaog yang bisa saya pahami sebagai level kedua memandang dunia.

nah. miskin dan kemiskinan. memang menarik menjadi tema kehidupan. lalu bagaimana hidup bahagia penuh damai yang Anda bayangkan?? ini akan mebantu anda untuk tidak memikirkan kenapa ada kemiskinan. juga koq orang miskin tidak beranjak dari “nasibnya”. inilah kekeliruan memandangnya.

saya jadi teringat pengalaman pernah melatih sekitar 20an kaum muda yang ngakunya spesialis organiser komunitas dalam pelatihan gerakan sosial baru. pada sesi pelatihan hari kedua, saya berikan tantangan untuk sesi malam melakukan dialog dengan kelompok juga individu yang sering di sebut miskin. atau mereka yang di identikkan dengan masyarakat miskin. tugas mereka adalah mencari pengertian dan makna miskin menurut mereka.
menarik. temuan esoka hari dari 5 kelompok yang berjalan-jalan di kota surabaya ini. satu kelompok bercerita ketemu pemulung yang punya 3 anak dan dia bilang ternyata tidak miskin, tetapi cukup menghidupi keluarganya. begitu juga yang bertemua dengan penjual kopi kalilima, anak 3 dan yang dua orang telah lulus sekolah sma. yang juga di akhir percakapan dia ditanya “apakah ibu miskin?”, jawab si ibu: “tidak. saya cukup”.

Lalu apa yang bisa dipetik dari dua pengalaman ini?? tentu saja dalam reframing itu mengubah makna dan memandang dunia dari sisi yang lain. bagi saya, orang-orang ini adalah orang penuh tanggungjawab, kedua mereka adalah manajer yang handal. buktinya mampu mengelola “cashflow” yang didapat secara harian hingga menjadi cukup dan menghidupi keluarganya. jika telah ketemu makna baru semacam ini, maka tugas pencerah selanjutntnya adalah mendialogkan seni melihat masa depan. maka ubahlah pertanyaannya, maka si orang ini akan punya tantangan baru pada hidupnya. bagaimana hidup sukses menurut anda? apa yang ingin anda saksikan 3 tahun lagi pada Anda dan keluarga? mengapa itu penting? dan seterusnya. inilah level 3 dari melahirkan makna baru kemiskinan.

mengurus dan mengelola kemiskinan dengan cara baru, bukan pendekatan sosial klasikal “pertentangan”, maka kita tidak akan terlalu banyak berdiskusi dan memandangnya semata-mata dari teori-teori strukturalisme.

jika mau belajar dari Grameen bank dan si Yunus yang meraih nobel perdamaian dunia. maka menarik juga, ketika yunus menyebut : “sudah menjadi sifat dan karakter dasar manusia itu punya daya survival yang tinggi”. artinya setiap orang miskin itu bukan tidak tahu cara tentang bagaimana menjalani hidup. maka hindarilah mendownload mereka untuk melejitkan prestasi hidupnya dengan pendekatan memandang pertentangannya “kenapa ada yang kaya dan miskin”. karena itu adalah mirip cerita Semut seukuran lalat dan sapi seukuran anak kambing tadi.
Jadi setiap orang telah punya cara menyelesaikan apa yang menjadi tantangan hidupnya. tugas kita adalah menularkan energi yang “meledak kuat” bahwa sukses, bahagia dan damai itu bisa dinikmati oleh setiap orang dengan mengubah cara memaknainya. ini bonus untuk menambahi perspektif.

anda tidak setuju? silahkan yakini yang anda yakini dan terapkan solusi Anda dengan sungguh-sungguh. selanjutnya teruslah berpraktek dan mengembangkannya! ini cara saya untuk tidak memandang kemiskinan sebagai kebencian, karena mengelola hal ini tidak cukup dengan energi kemarahan. inilah alternatif lain menurut saya! (ipoel).

2 thoughts on “makna kemiskinan

  1. kalau kemiskinan itu hanya berada dalam wilayah persepsi, itu benar satu sisi.tapi itu tidak menyelesaikan akar masalahnya.mungkin kita mempersepsi yang berada di kolong jembatan itu miskin, padahal bisa jadi mereka cukup bahagia hidup demikian.wong mereka hanya diuntungkankan oleh sebuah sistem. tidak adanya akses informasi.tidak bisanya akses untuk memperoleh pembiayaan dari lembaga keuangan atau lainnya. apa yang dilakukan yunus dengan gramen banknya adalah memberi akses bagi mereka untuk mendapatkan modal.

    Suka

  2. assalamualaikum…
    afwan sebelumnya, saya seorang siswa dari MA, saya ingin menanyakan tentang kemiskinan masyarakat yang berada di negara kita, apa sebabnya, dan bagaimana cara mengatasinya… sesuai dengan hukum Islam, apa yang harus kita lakukan…
    syukran…
    wassalam.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s