memaknai belajar


Belajar Tanpa Tapi!

Memasuki hari-hari liburan bagi para siswa didik sekolah adalah kesenangan tersendiri bagi mereka. Begitu juga menjelang proses seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) perguruan tinggi adalah ujian tersendiri yang butuh pengorbanan. Pendidikan pada niat baiknya, semua ingin mencerdaskan anak manusia dan mampu peka serta memiliki kelembutan empati atas kenyataan di sekitarnya dan masa depannya.

Merefleksikan kecerdasan dan talenta manusia perlu memakai pemahaman yang meluas, sebab mereka semua bisa belajar dari pengalaman hidup dan berbagai informasi. Lantas kenapa pemerintah masih “dengan sombong” mengukur kecerdasan dengan seleranya sendiri, mengesampingkan kecerdasan yang membedakan pada generasi kita?

Bisa jadi paradigma pembelajaran, pengalaman tidak pernah direfleksikan untuk menggali makna baru, melahirkan tindakan baru dan menjadi pengetahuan baru. Sebab unas memang bukan satu-satunya alat menakar tingkat kecerdasan anak manusia. Dan ingatkah kita jika tahun kemarin (2007) sebanyak 3.602 pelajar SMK seJatim tidak lulus. Apabila ditambah dengan jumlah ketidaklulusan pelajar SMA dan MA, ini berarti 10.177 pelajar tidak lulus (Kompas, 15/6/2007). Pertanyaannya apakah mereka layak di stigma “bodoh”? Jawabnya tidak! Sebab setiap orang punya kecerdasan yang membedakan.

Apa yang di alami Arian Saputra, siswa SMAN 21 Surabaya yang selama tiga tahun selalu dapat ranking 1-5 itu dinyatakakan tidak lulus karena nilai matematikanya jeblok 2,67 saat mengikuti Ujian Nasional (unas). Padahal Arian memiliki kecerdasan lain, bahasa Indonesia 8,80 dan Bahasa Inggris 9,20 (Surya 20/6).

Meminjam hasil penelitian Sandy Mac Gregor, penulis buku piece of mind, bahwa isi otak manusia pada dasarnya sama saja, ada 10 milyar sel otak yang bekerja di tiap orang. Sedangkan untuk orang jenius hanya memanfaatkan 5-6 persen otaknya. Lantas yang 94 persen untuk apa, para ahli belum tahu sampai sekarang. Setiap orang mampu merekam 800 kata per menit, tetapi yang mampu di ucapkannya sekitar 120 kata permenit.

Jenius bukan bawaan, tetapi dia proses latihan/pembelajaran. Utamanya pembelajaran dalam proses mencipta, bukan download learning dan ujian 3 (tiga) pelajaran. Memaknai Belajar Saat ini butuh re-desain membangun citra diri kaum muda, tidak cukup hanya dengan logika tetapi empati, tidak cukup dengan linear tetapi simphony, tidak cukup dengan arah tujuan tetapi mengenali makna. Sehingga belajar bisa menjadi spiritualitas, bukan mengejar komoditas nilai prestasi sekolah dan akademis saja. Inilah sinyal yang diberikan Daniel H. Phink dalam A Whole New Mind, bahwa tidak cukup dengan informasi tanpa belajar analisis yang meluas (feelling, thinking, acting).

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan belajar adalah proses mencipta pengetahuan, yakni mengeluarkan warga belajar dari zona nyamannya untuk di dorong lebih terbuka pada hal-hal baru. Penting untuk menciptakan relasi belajar yang saling percaya diantara warga belajar. Sekarang jika kita refleksikan. Apakah memang di sekolah-sekolah yang menyiapkan generasi masa depan itu, suasana belajar membuat mereka nyaman dan menyenangkan?

Betulkan mereka tidak pernah mendapat stigma bodoh, pemalas, nakal dan berbagai konotasi negatif yang terlontar oleh lingkungan di sekitar mereka? Sebab jika ini yang terjadi. Maka sugesti ketidakmampuan akan mengalir di memori bawah sadar seseorang. Sekarang saatnya, relasi “trust” para pengajar mulai mengenali pribadi unik warga belajar yang dihadapinya bukan lagi sebuah gelas yang seolah-olah butuh di isi karena kosong. Sebab otak itu memang bukan gelas, tetapi otak merupakan bara api, jadi berilah tantangan, stimulus ”hembusan angin”, kesempatan berproses untuk menciptakan dan mengenali makna dari pengalalamanya, agar mereka bisa melahirkan pengetahuan baru.

Untuk semua calon siswa, mahasiswa, mari mengenali kekuatan terbaik Anda masing-masing dan tidak perlu risau buat yang dinyatakan tidak lulus oleh unas di negeri ini. Masih ada masa depan yang bisa dirancang, diyakini dan diraih sejak sekarang.

Segera kenali pengalaman hidup anda yang paling luar biasa dan coba rasakan kembali dengan kekuatan apa itu anda lakukan? Lalu untuk para wali siswa/mahasiswa selamat menggunakan kejernihan hati dan pikiran Anda untuk tidak keliru pilih tempat belajar bagi anak-anak Anda. Segera seleksi dan berdialoglah dengan menggunakan hak mendapat informasi, memantau dan mengevaluasi proses belajar di institusi tempat anak-anak anda ditempa menjadi generasi penerus peradaban manusia.

Selamat menanti dan menikmati liburan dan merayakannya, karena itulah kenangan yang secara pribadi bagi saya sangat membanggakan saat tidak pergi sekolah. Selanjutnya selamat melahirkan tindakan baru, pengalaman baru dan pengetahuan baru. Mulailah belajar tanpa tapi!

Identitas Penulis ;

Nama : R. Saiful Ashadi

Jabatan : Fasilitator Kreatif Perusahaan Innovasi Sosial Dunia Cerah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s