seni bernegosiasi


 

The Art of Negotiotion

negosiasi itu mudah. bisa dimulai dari mana saja, direspon seperti apa saja. dan mau dikelola dengan cara apa saja. sampai pada pada ending yang bagaimana. sebab dia adalah proses dinamis antar pihak. pertanyaannya bagaimana melakukan negosiasi yang berkualitas??

 

semua dipengaruhi oleh multi faktor dari para negosiator. jika negosiasi adalah perkara mau sampai pada kesimpulan apa. sebenarnya bukan kesimpulan yang paling penting. karena dia adalah suatu seni. sebab mencapai dan melahirkan kesepakatan baru adalah bukan tentang kesimpulan. tapi apa yang disepakati dan dijadikan komitnen negosiasi masih akan menjadi proses baru. jadi dia proses. proses mengubah momen dan ketegangan kreatif.

untuk menjadi negosiator yang handal. ada beberapa kiat agar kita siap menjadi seorang negosiator yang handal.

pertama, tetapkan tujuan negosiasi anda. dengan membuat ihtisar tujuan, itu akan membantu memandu kita untuk punya fokus atas apa yang akan dinegosiasikan. tentunya dengan membuat tujuan itu menjadi sesuatu yang diyangkan menjadi “alat perekat” antar pihak meraih kemenangannya.

kedua, kelolah diri anda. nah, ini yang gapnya sangat jauh antara teori dan prakteknya. sebab kecerdasan emosional akan mempengaruhi cara tiap pribadi untuk beradaptasi pada saat situasi negosiasi. untuk ini dibutuhkan ketrampilan. termasuk ketrampilan berkomunikasi. menariknya komunikasi ini sering dibajak dengan apa yang mau dikatakan dan apa yang sedang disampaikan melalui kata-kata. padahal pengaruh sikap kita saat bernegosiasi akan dipengaruhi lebih dari 55 persen tentang perilaku bahasa tubuh kita (non verbal). tidak cukup mengandalkan argumentasi, artikulasi pengucapan kalimat demi kalimat. maka berlatih dan berlatih, berpraktek dan berpraktek, kemudian mengenali inti positif dari tiap pengalaman bernegosiasi akan memudahkan kita untuk mengenali pola negosiasi masing-masing pribadi.

ketiga. dibutuhkan tidak hanya keberanian, tapi kepekaan menyimak. kenapa itu penting? banyak orang dalam berkomunikasi akan fokus pada apa yang dia pikirkan. sementara tanpa disadari kadang itu membuat keberadaan orang lain yang di hadapan kita menjadi seolah-olah “semu” kehadirannya. karena Anda terlalu sibuk dengan apa yang sedang anda pikirkan dan mau anda katakan.

kepekaan menyimak adalah sebuah kesadaran fisiologis manusia. mengapa? kita diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. disitulah bagaimana tantangan menjadi peka menyimak dihadirkan. lalu bagaimana kita bisa menyimak dengan mudah? gampang. ada tiga hal yang sering menjadi kecednerungan tiap orang dalam menyampaikan pesan percakapannya. (1) akan menyampaikan apa yang sedang di pikirkannya, cirinya biasanya ini adalah tentang analisis; (2) kalimat yang disampaikan adalah berupa kekuatirannya, cirinya adalah ungkapan katanya akan bernada bertanya dan menyelidik? bahwa kita harus menjelaskannya menjadi makin mudah dipahami; (3). menyampaikan apa yang menjadi harapannya, bahwa ekspektasi dari sebuah perjumpaan komunikasi adalah perjumpaan antar kehendak. sehingga keterwakilan rasa kehadiran sang negosiator akan mengemuka sebagai pesan…[hai… saya hadir lho….]. itu mudahnya untuk mengganti eksistensi sang negosiator.

dengan mengkluster makna komunikasi berbasis apa pesan pentingnya pihak lain. maka kita di tantang untuk mengenali inti positif dari apa yang disampaikan baik non verbal maupun verbal. maka negosiasi akan menjadi proses yang mudah. bahwa kesediaan untuk membuka hati, membuka pikiran dan mebuka semua indera kita dalam bernegosiasi. bisa membantu kita menjadi diri yang terbuka. siap untuk melakukan negoasiasi tanpa dicampuri perasaan kuatir. nikmati saja prosesnya.

seni yang juga luar biasa penting dalam bernegosiasi adalah. seni bertanya! sebab bertanya itu bisa menunjukkan seberapa keren kita akan mengelola proses negosiasi. bahkan ada cerita dari seorang kawan, yang kebetulan keluarganya ada yang menjadi seorang pejabat diplomatik. katanya “jika antar diplomat itu sudah saling berjumpa, maka yang dilakukan adalah bisa dengan saling menunggu untuk siap-siap menyimak apa yang akan di sampaikan satu pihak. sementara pihak lain bersiap dengan mengajukan pertanyaannya. bsia pertanyaan yang bersifat faktual, melahirkan opini dan mengutarakan suatu prinsip tertentu.

dengan memaknai negosiasi sebagai seni. maka berani membuatnya kian menarik dalam proses. maka prinsipnya, dia bukan sekedar situasi tawar-menawar, karena negosiasi adalah bukan tentang selalu pada kesimpulan seperti apa. tetapi dia bisa menjadi suatu alur “main mind”. ya bermain pikiran yang disatukan dengan semangat kesiapan berkomunikasi agar tiap pihak menjadi penting.

di dunia ini tidak ada resep apalagi rumus pasti tentang melakukan negosiasi. dan dia bukan ketrampilan mewah yang menjadi keahlian kaum tertentu. semua bisa menjadi negosiator yang handal. bahkan tiap situasi-situasi kecil keseharian kita terjadi banyak peristiwa negosiasi. entah seorang anak yang meminta “sangu” pada orang tuanya. bisa utusan kelompok suatu kelompok tani yang sedang memperjuangkan hak-haknya, buruh yang sedang menginginkan standar hidup minimumnya, dan bagaimana program masa depan kemajuan sebuah kota akan dikomunikasikan kepada warga kotanya.

“sudah menjadi menjadi takdir manusia, jaringan sel dan syaraf otaknya di desain untuk menjadi penting merasa terhubung dengan manusia yang lainnya.” Demikian Daniel Golleman dalam Social iltellegence.

maka mari mengelola ruang hidup sosial kita menjadi ruang percakapan berkualitas. bernegosiasi tanpa henti untuk melahirkan solusi-solusi baru dan inisiatif baru yang berkontribusi atas relasi manusia yang lebih manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s