ReFlecting N FeedBack


SOCIAL BISNIS is NOT ECONOMIC BUSINESS (uang itu hanya dampak atau effect saja dari daya kreatifitas dan pengerahan sumber daya kita..). begitu pun SOCIAL ENTERPRISE is NOT ECONOMIC ENTERPRISE!!! pembangunanisme yang di terapkan di indonesia itulah ECONOMIC Enterprise.. mau diteruskan??! begitulah ringkasan pengalaman seminggu ini di kompetisi CEC [community enterprise Challenge] British Council WAVE II 2011.

membuat perubahan memang tidak ada rumus yag pasti. toh situasi sosial itu dinamis dan penuh ketidak menentuan saat ini. mengelola energi pribadi untuk menjadi pelaku perubahan bayangkanlah menjadi hal yang sederhana. pintu masuknya bisa dengan apa saja.

ada yang menarik saat proses di tempuh dengan SOCIAL ECONOMIC [dari sosial yang akan berdampak ke ekonomi] atau ECONOMIC SOCIAL, dari ekonomi dulu [baca; investasi modal uang] baru di desain untuk berdampak secara sosial. nah jika kita percaya KREATIFITAS adalah hal yang penting, maka tambahkanlah kata DAN di tengah dua kata itu. maka mau mulai dari mana saja boleh. toh Tuhan tidak pernah melarang orang untuk berkehendak dan berbuat baik.

Comunity is Not INDUSTRIes.

inilah menariknya Social Enterpreneur juga bukan maklhuk mesin ekonomi. dia sebenar-benrnya adalah suatu sosok yang hadir dengan menghidupkan kembali perubahan, yang tidak hanya bermakna secara ekonomi. tetapi lebih pada kualitas relasi antar orang dan kualitas relasi antar orang yang tanpa sekat.

contoh paling nyata adalah keberadaan ZAINI HONG [pendiri komunitas hong] yang tahun kemarin mendapat penghargaan CEC BRITISH COINCIL 2010 di tahap semi establish. dia berproses 13 tahun untuk menjadikan PEkarangan Ulin HONG di DAGO PAKAR bandung menjadi arena interaksi “bermain-memainkan permainan” anak-anak. dan menariknya tidak hanya permainan dalam makna yang kosong, tapi penuh estetika-folosofis dan spiritual.

hal menarik lainnya ketika kemarin berjumpa lagi dengan pendiri HONG Community ini, karena dia hadir sebagai narasumber yang berbagi skills dan pengalaman, presentasinya bener2 semakin menguatkan keyakinan saya. social enterprise itu mengurus relasi antar manusia yang lebih berkualitas. tahu sama2, belajar sama2, berbagi pengetahuan, berbagi RASA dan mengjadikan tiap manusia kian jadi M.A.N.U.S.I.A.

Kemudian kemarin (27/07) di sesi hari terakhir kemarin kami difasilitasi sama BRITISH berkunjung ke sebuah lahan yang luasnya lebih dari 150 hektar. yang menyebut dirinya VILLA HUTAN JATI. dan itu dijadikan studi banding Community Enterprise oleh para peserta. tanah seluas itu dikuasai satu orang, lalu orang lain jadi pekerja [bisa jadi mitra], kemudian arealnya ekslusif [ ada pintu gerbang dengan penjagaan]. bahwa pak Budi sebagai penggagas dan pemilik ingin memajukan pangan indonesia dan pro lingkungan.

dengan pemahaman saya, proses ini belum pas dengan spirit komunitas sosial kreatif yang mengambil peran untuk mengubah kualitas relasi antar orang. nah di lahan itu terlihat siapa yang berkuasa dan siapa yang dikuasai? lalu siapa yang memerintah dan siapa yang memerintah? siapa yang membuat perencanaan startegis dan siapa yang dijadikan pelaksana perencanaan? hmmm… belum lagi konon investasinya adalah hingga Rp 70 miliarr. komunitas manakah bisa membuat ini? konsep dan praktek yang tidak Repplicable dan tidak segar sama sekali.

bahwa pak budi orang baik, dermawan, punya misi lingkungan, itu menarik.tapi secara proses pembelajaran untuk spirit komunitas sosial kreatif. ini bukan tempat yang pas..

berbeda dengan yang ciptakan dan dikembangkan oleh HONG, sebagai komunitas terbaik versi majalah SWA tahun 2010 juga dia. bahwa untuk membuat berpikir penting orang sekitar lingkungan rumahnya menjadi perduli pada “dolanan” anak dan bermain dengan TANAH-AIR-UDARA/ANGIN-API di areal kampungny sendiri. itu membutuhkan waktu sekitar 5 tahun.

kemudian untuk membuat orang lain bisa ikut terlibat dalam pergerakan sosial budaya yang akhirnya berdampak secara ekonomi itu, dia butuh diatas waktu 5 tahu. karena ketulusan, keteguhan, keyakinan, kesederhanaan, kebersahajaan, siap berproses dan meyakini relasi antar orang menjadi penting. maka jadilah HONG SEKARANG 2011, menjadi suatu ruang “dunia lain” bagi para turis asing, perusahaan travel, sekolahan dari TK-SD-SLTP-SLTA dan mahasiswa pda berdatangan untuk belajar dan bermain.

ada satu cerita unik yang kemarin dia sampaikan, bahwa ketika kakinya melepuh karena tersiram air panas saat memasak. besoknya orang2 satu kampung pada berdatangan bergiliran menjenguk. “ini mas yang tiada harganya… apa yang bisa membeli ketulusan orang untuk saling membantu..?” begitu ungkap dia pasa saya.

memang gagasan HONG dan ZAINI Alif (begitu nama lengkapnya) telah menjadi “virus” yang menularkan epidemi relasi berkualitas antar orang. dengan membagi mainan dan kebudayaan, dengan mengajak anak2 menikmati dunianya, dengan menginventarisir jumlah mainan anak di seluruh Pulau Jawa dan Nusantara. juga mainan dan permainan anak di beberapa wilayah negara lain, bisa dia mainkan.

Zaini telah menjadi transformator betapa mengubah dunia butuh energy yang sangat “murni” dan berjalan ke “sumber” yang menciptakan segala benda di dunia [baik yang terlihat dan tidak terlihat]. bukan dengan menggunakan pendekatan ekonomi semata!! “bahwa ekonomi hanyalah perkara efek dan akibat”, itulah yang dilakukan oleh komunitas Hong.

selamat berkarya kawan social enerpreneur semuanyaaa….

salam dunia cerah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s