Olimpiade


Selamat pagi dunia!

Tadi pagi habis subuh menikmati berita2 olahraga. Karna berita kriminal dan seputar keruwetan kurang menarik buat saya.

spontan muncul kangen menulis di dunia cerah ipoel.wordpress.com ini. Dan ide itu adalah ttg sisi lain olimpiade. Saya salut dg usian bolt yang asli jamaica secara 3th berturut~turut menjadi manusia tercepat di seri 100meter. Dengan catatan waktu 9,63 dia tetap menang sekaligus mempertahankan catatan rekor dunia atas namanya sendiri di beijing 4 tahun lalu dimana dia mencatatkan 9,58 detik. Hebaat!

Kemudian pelari 400meter yg masih berusia 19tahun dari negara yg kurang sering disebut dalam seluruh saluran media informasi. “Pernahkah dan seberapa sering Anda mendengar ada negara bernama Granada?” Di dunia ini. Saya kurang begitu akrab, tapi sejak melihat pembukaan olimpiade tahun ini saya melihat barisan yg hanya beberapa orang dari negeri kecil ini begitu bersemangat dalam dentuman musik penyambutan kontingen.

Nomor2 atletik ini mengusik saya. Para juaranya dari negara kecil yg sering di identikkan dengan negeri kurang berkecukupan. Baik kecukupan ekonomi, hingga yg lain. Jika sdh tdk cukup ekonomi maka seiring daya konsumsi dan asupan gizinya juga rendah. Tapi sadarkah kita jika itu menjadi sebaliknya dalam melihat karunia yg dimiliki manusia~manusia bersemangat.

Satu lagi. Pelari di seri marathon 10KM perempuan yg juga dimenangi pelari hebat dari ethiopia. Sementara negara2 besar ada di belakangnya. Bahkan pelari cewek maraton indonesia berada di urutan ke 84.

Saya jd tertarik kaitan selain indeks ekonomi dan kaitannya dengan ketahanan manusianya. Ternyata secara budaya dugaan saya juga ada kaitan yang langsung pd prestasi2 atletik dari orang pelari ini. Betapa syaraf motorik sejak usia kanak~kanak, kemudian kecerdasan bermain dengan bersenang~senag, tarian dan kegembiraan bisa menjadi pupuk penyuburnya mental para pelari dari negeri2 yg wilayahnya tdk seluas dan sebesar Indonesia.

Tapi negeri hasil “desa mengepung kota” dan yg memperkenalkan longmarch dg ratusan ribu bahkan jutaan massa yg akhirnya melahirkan identitas dan sistem sosial politik ekonomi baru bernama Republik Rakyat China (RRC). Dengan penduduk 1,5 milyar masih bertengger di puncak perolehan medali di susul diurutan kedua amerika serikat. Kedua negara ini penduduknya besar dan sanggup mengirimkan kontingen dalam jumlah besar dan memang atletnya bisa diandalkan.

Jamaica, Granada, Ethiopia. Masih menjadi bangsa tercepat dan bisa mendapatkan emas dari prestasi atletnya. Sementara harus menanggung malu dengan “pertandingan sabun” yg berujung menjadi pemulangan atlet ganda di cabang bulutangkis. Ya karena permainan yg dibuat~buat untuk kalah (mengalah) menjadi tidak menarik ditonton.

Ini jelas2 permainan menjadi tidak lagi “mainmind” yg diperagakan kontingen bulutangkis! Apa mereka tdk bs membedakan mana bermaian~maian dan permainan yg bth kegembiraan. Berhitung strategi untuk menghindari lawan tangguh, jelas2 tdk bisa diterima akal sehat dan semangat MENTAL JUARA jelas tidak mengenal mengalah. Mainkan dengan gembira, nikmati dan rasakan indahnya permainan.

Andai bertemu dengan para pemain itu saya hanya ingin berbagi singkat “Mainlah dengan benar, baru bisa benar~benar bermain”.

Salam dunia ceRah

One thought on “Olimpiade

  1. wah,lama ga menerima tulisan barunga bang ipoel. tulisan kali ini bener2 menjadi perenungan buat kita semua. bukan hanya kasus bulutangkis itu tapi juga negara2 yg jarang kita dengar tadi. saya suka kalimat penutupnya, saya kutip ya ” Mainlah dengan benar, baru bisa benar-benar bermain”.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s