Outliers – kisah dibalik sukses


” bahwa ternyata genius dan bakat” bukanlah faktor penentu dari kesuksesan seseorang. ada beberap hukum lain yang jarang dikenali orang. yakni hukum mencintai pekerjaan dan hoby. juga hukum “cerdas mengelola kesempatan”. nah jika begini lantas apakah ada hubungannya test IQ, EQ, ESQ, LQ dan segala macemnya???

 

 Outliers: Rahasia di Balik Sukses, Malcolm Gladwell,

Outliers: Rahasia di Balik Sukses, Malcolm Gladwell,

Penerjemah: Fahmi Yamani, Gramedia Pustaka Utama, 2009Karena novel -dan, bahkan buku kumpulan tulisan dari blog pun- banyak yang kemudian berakhir di layar lebar, maka tak ada salahnya sesekali membaca buku macam Outliers karya Malcolm Gladwell ini.

 

Buku semacam ini barangkali sampai kapan pun tidak akan pernah kau saksikan versi filmnya. Ah, tapi aku tahu, kau akan segera bilang: aku bukan orang bisnis, jadi ke laut ajalah segala macam buku kisah sukses. Jangan apatis dulu. Kau pikir aku peduli dengan cerita orang tentang bagaimana mereka jadi kaya raya? Tapi, coba deh, sedikit buka hati dan pikiranmu. Buku ini justru “meralat” secara cukup mendasar pandangan dan keyakinan orang selama ini tentang satu kata yang dipuja-puja: sukses.  

 

Dengan agak congkak tapi benar, penulis buku ini mencibir pada kisah-kisah tentang “orang yang bangkit dari nol”, serta mereka yang konon sukses bukan karena warisan atau faktor orang tua melainkan keringat sendiri. Menurut mantan reporter bisnis Washington Post ini, berbagai penjelasan tentang kesuksesan seperti itu tidak ada artinya. Dengan mantap dan meyakinkan (karena didukung ilustrasi yang detail dan jlimet) dia menegaskan bahwa orang-orang tidak bangkit dari nol. “Kita berutang sesuatu pada orang tua dan dukungan orang lain,” kata dia. Orang-orang yang sukses, simpul staf The New Yorker yang sebelumnya menulis buku best seller The Tipping Point ini, adalah penerima berbagai keuntungan yang tersembunyi, kesempatan yang luar biasa dan warisan kebudayaan yang membuat mereka bisa belajar dan bekerja keras, serta menghadapi dunia ini dalam cara yang tidak bisa dilakukan orang lain.  

 

Kesimpulan semacam itu membuat kita lega dan gembira, sekaligus pesimis. Lega dan gembira, karena sukses ternyata bukan monopoli orang-orang miskin tapi sedikit pintar dan ambisius, yang dengan kerja kerasnya berhasil keluar sebagai pemenang di antara orang-orang lain yang hidup sezamannya. Pesimis, karena di sini secara eksplisit terdapat campur tangan dari “takdir”. Bahkan, tempat dan kapan kita tumbuh besar memiliki pengaruh yang cukup besar, dan kebudayaan tempat kita dibesarkan berikut warisan yang diturunkan oleh para pendahulu kita membentuk berbagai pola keberhasilan kita dalam cara yang tidak bisa kita bayangkan.

 

Namun, masih ada kabar gembira antara dua rasa yang bertolak belakang tadi: gembira atau pesimis, makna dari kesimpulan Gladwell itu tiada lain adalah, sukses (atau gagal) itu sesuatu yang bisa dilacak logikanya. Ingat pelajaran biologi waktu SMP? Ada istilah “ekologi” untuk sebuah organisme. Pohon tertinggi di hutan menjadi yang tertinggi bukan karena ia tumbuh dari biji yang paling gigih, melainkan karena tidak ada pepohonan lain yang menghalangi sinar matahari, tanah di sekelilingnya subur, tidak ada kelinci yang mengunyah kulit kayunya ketika masih kecil, dan tidak ada tukang kayu yang menebangnya sebelum dewasa.  

 

Jika buku-buku tentang kisah sukses lain lebih banyak bicara tentang “bibit yang bagus”, maka buku ini bicara tentang “sinar matahari yang menghangatkan bibit itu”. Juga, tentang tanah yang menjadi tempat tumbuh akar-akarnya, serta para kelinci dan tukang kayu yang bisa (dan “harus”) dihindari oleh sang bibit. Pendek kata, ini bukan buku tentang pohon yang tertinggi, tapi tentang hutannya. Oleh karenanya jangan heran (dan bersiap-siaplah untuk agak sedikit bosan) jika menjumpai kisah-kisah yang cukup aneh (yang dijelentrehkan panjang lebar berlarat-larat), misalnya tentang tim olahraga hoki atau pilot-pilot pesawat komersil.

 

Anda juga akan bertemu dengan (kisah-kisah tentang) musisi rock, seperti apa kesamaan The Beatles dengan Si Bill Gates??? juga pohon keluarga para pengacara dan pembuat program perangkat lunak. Mereka adalah para outlier, orang-orang yang melakukan hal-hal di luar kebiasaan.

 

Dengan membongkar rahasia mereka, Gladwell menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sangat salah tentang cara kita melihat dan menilai kesuksesan selama ini.

 

Penasaran kan? Makanya baca hehehe….

 

salam anget hepi,

 

sumber :

Diambil dari Note Mumu Aloha di Facebook: http://www.facebook.com/note.php?note_id=84818919485

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s