Sabun Pensil Kertas


Solomon Northup. seorang korban penculikan yang pada tahun 1841 di USA waktu itu masih terjadi jaman kegelapan dalam perbudakannya. berjuang menuntut sistem perbudakan dan penculikannya. kalah di pengadilan, kemudian menerbitkan buku “Tweleve Years A Slave”.

buku inilah kemudian menginspirasi sutradara Steve Mcqueen memvisualkannya dalam layar lebar yang sejak mendengar musiknya suasana syahdu dan menyayat-nyayat perasaan. sisi gelap amerika dengan segala rangkaian penguasaan manusia atas manusia. yang menurut para pemilik budak hasil jual belinya dari sesama penjual budak. melihat film ini saya teringat akan kisah perubdakan di jazirah arab yang filmnya pernah saya tonton. seperti yang di ksiahkan dalam pribadi billal bin rabbah. bagaimana abad 600 masehi itu di jazirah arab juga berlangsung sistem kegelapan [begitu kisah yang sejak masih madrasah ibtidaiyah] dulu diceritakan oleh para guru sekolah.

kisah pada film ini dimulai dari sebuah keluarga Solomon Northup yang piawai memainkan biola dan hidup tentram berubah dalam waktu semalam. ketika Solomon menerima tawaran dua orang yang mengaku sebagai pesulap ulung untuk main kolaborasi dalam pertunjukan sulapnya. dengan ketrampilan musikalnya pada biola di tawari gaji 1 dollar perhari dan tambahan 3 dolla r per minggu dengan kontrak selam sebulan.

usai menerima tawarannya. solomon bersama dua orang yang mengajaknya baru 3 hari kemudian dia paham kalau dia diculik dan di jebak usai jamuan makan ketika di tuangi anggur hingga membuatnya mabok. dan besoknya dia sudah dalam posisi kaki serta tangan di rantai di sebuah ruangan pengap.

darik satu tuan ke tuan lainnya. dari perkebunan satu ke perkebunan lainnya. perjalanan panjang dan berbagai kisah kekerasan dialaminya. di beberapa adegan saya sendiri tak kuasa untuk tidak memalingkan muka ketika penyiksaan para orang2 yang diperbudak oleh para tuan dan nyonya ini menerima ukuman apapun. tidak hanya penyiksaaan karena memanen kapas yang terlalu sedikit dari target harian. tapi untuk yang perempuan juga harus siap melayani tuannya untuk dibangunkan tengah malam agar bisa memuaskan nafsu sexnya.

ditengah film ada peristiwa ketika solomon tergerak pikirannya untuk menuliskan surat kepada keluarga dan temanya. pada saat mendapat kesempatan mengambilkan paket2 kebutuhan nyonyanya di toko langganan untuk mendapatkan benag, kertas dan alat perlengkapan rumah. di tengah jalan dia menyelipkan satu kertas yang diambilnya untuk menuliskan suratnya.

harga satu kertas ini terlalu mahal. ketika di perjalanan dia mencoba untuk berbelok dari jalan biasanya. ternyata menjumpai dua orang yang berkulit yang sama dengannya sedang bersiap menghadapi akhir dari nafas hidupnya. sudah berada dalam tangan di ikat dan di lehernya dikalungkan tali yang siap ditarik oleh para penghukumnya [entah salah apa]. sambil mendengar erangan dan adegan ini saya tidak kuasa untuk menatap layar.

sedih. ngeri. sekaligus mengajak belajar. dialog2 satir penuh kedalaman makna dari rasa putus asa dan mengelola harapan antara solomon dengan patsey [budak perempuan] yang dengan memelas meminta agar satu permintaannya untuk menjadi harapan terbaiknya bisa dilakukan oleh solomon agar dia membantu patsey untuk mengakiri hidupnya dengan meneggelamkan di danau.

ahhh….. betapa di film ini selain penguasaan manusia atas manusia. juga digambarkan bahwa para tuan dan nyonya itu bukan lagi percaya yang berkulit hitam di hadapannya adalah manusia. tetapi mereka menyebutnya sebagi property [peralatan] yang bisa di perlakukan semaunya.

seperti itulah ketika suatu pagi patsey ditemukan tidak berangkat ke kebun dan baru siang dia kembali. sontak ketika sejak diketahui tidak ada tuduhannya adalah melarikan diri. dengan tuduhan ini maka kalimat apapun menghadirkan cambukan hingga kulit punggung mengelupas. padahal yang sebenarnya adalah “saya tidak lari. tapi saya sedang memelas kepada nyonya di sebelah blok sebelah sana [perkebunan terdekat dari blok tempat dia perbudak] untuk mendapatkan ini. hal ini ku lakukan karena aku sudah tidak tahan dengan bau badanku sendiri”. begitulah patsey memberikan pejelasan singkat. begitulah mahalnya harga sebutior sabun yang di dapatkan patsey. seratus cambukan untuk sebutir sabun demi melawan bau badannya.

selain sabun. pensil kertas huruf dan kata yang bisa dibaca serta dituliskan dalam seseorang sedang menjadi manusia kehilangan kebebasan [diperbudak] maka itu merupakan sebuah dosa dan bersiaplah menghadapi hukuman. sebab bisa membaca dan menulis itu adalah kutukan bagi seorang [maaf; negro], begitu digambarkan dalam film ini sebagai kesalahan besar.

perjuangan solomon northup ini adalah kisah nyata dari buku yang di tulisnya sendiri. hingga dimana dia mati, kapan tanggalnya dan di kuburkan dimana dalam perjalanannya kemudian tidak ada yang pernah tahu. hal itu setelah dia bebas dari perbudakan karena pertolongan seorang tuan yang pernah dia ikuti, berhasil dia kirimi surat berkat bantuan salah satu rekannya bernama Bass yang dari kanada yang juga di perbudak oleh tuan terakhirnya. usai membantu solomon sepertinya si bass juga hilang dari muka bumi.

setelah bebas karena solomon berhasil berkirim surat [tentu berkat pensil dan tinta dari buah arbey]. dia kembali pada keluarganya. setelahnya dia dalam kisah nyatanya dia bergabung dengan gerakan obolisi untuk perjuangan kebebasan dari perbudakan. banyak melakukan ceramah dan pembebasan budak di kereta api bawah tanah pad ajamannya. itulah yang dituliskan dalam barisan tulisan di layar begitu film ini selesai.

Anda mau lihat utuhnya dan mengenali kekejaman abad kegelapan di AS pada tahun2 1841-1900an. ini layak menjadi referensi. maka bener2 sejarah memang ketika seorang obama yang skr bisa menjadi presiden di AS. bahwa keadilan memang tidak pernah jatuh dari langit. tetapi selalu melalui proses perjuangan dan didalamnya mengundang resiko serta pengorbanan.

tepian bendungan,
12 Juni 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s