Journey Duwet Krajan


========== saling sinau bersama warga Desa Duwet Krajan
Kec. Tumpang Kab Malang……….. (bagian 1) =============

seniman pertemuan sedang beraksi dalam rembug bersama warga

seniman pertemuan sedang beraksi dalam rembug bersama warga


“saya memilih jari kelingking. alasannya adalah karena dari yang kecil inilah bisa ada yang besar. maka hindari untuk meremehkan yang kecil”. demikian ungkapan suasana hati pak Mul saat berbagi tentang pilihan jari yang mewakili suasana hatinya sebelum pertemuan putaran lanjutan seri pertemuan bertumpu pada kekuatan di Desa Duwet Krajan.

seminggu ini saya memang sedang menjalani misi menjalin persahabatan dan saling sinau dengan masyarakat di Desa dengan ketinggian 1200DPL. dengan kelimpahan apel, jagung, pisang, buncis, mata air – sumber, hawa sejuk dan seni budaya yang khas sebagai bagian dari masyarakat tengger.
ajakan dan tantangan dari sahabat baik untuk diminta membantu proses penelitian dalam rangka menyusun master plan “program pemberdayaan masyarakat daerah penyangga – PMDP” di kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger semeru.

sejak awal saya melihat ada nuansa program beginian di level institusi pemerintah yang diselenggarakan pada akhir tahun adalah bagian dari cara menyerap anggaran. tapi sejak diajak teman baik saya yang menyukai dunia konservasi, advokasi dan lingkungan hidup ini menjadi fasilitator dalam serial program ini saya sampaikan : “mari kita ubah saja prosesnya menjadi melampui dari sekedar urusan project dan administrasi”.

maka kita jadikan ini sebagai tantangan untuk membumikan proses membangun komunitas bertumpu pada kekuatan dengan kekuatan fasilitasi. syukurlah saya berhasil meyakinkan sahabat ini dengan menyediakan diri untuk totalitas menjadi bagian penting dari prosesnya.

maka dibuatlah kerangka acuan kegiatan, time line dan alur programnya sebagai cara menghasilkan dokumen program pemberdayaan yang murni dari masyarakat kelompok sasaran. saat tiba sesi memulai untuk masuk ke Desa yang menjadi tujuan. kamimenyepakati semua di awali dulu degan proses “kulo nuwun” (permisi dengan segala jerendahan hati). tentu sambil menjelaskan maksud dan tujuan secara ringkas serta jelas. hasilnya dua desa yang menjadi tujuang menyambut baik dan memebrikan jadwal pelaksanaan.

tibalah sesi melakukan sosialisasi efektif. itu istilah yang muncul secara administratif yang disukai oleh institusi formal pada umumnya. asiknya sahabat saya yang suka dengan hal2 kemasyarakatan mengusulkan ayo diubah saja spanduknya jangan sosialisasi efektif, tapi “rembug bersama warga” sebagai judul besar tahap sosialisasi ini pada level pelaksanaannya.

membuka sesi dengan memperknalkan diri secara jelas. dibantu pembawa acara multi talent seperti mas didik jengjing yang asli kera Ngalam dan host beken di kota arema. suasana langsung mencari dalam waktu singkat. proses opening yang berhasil merebut perhatian dan mencairkan suasana. selanjutnya sesi fasiltiasi pada topik tentunya menjadi makin mudah buat saya. saya selalu percaya opening adalah saat2 yang menentukan energy belajar pada suatu proses pertemuan memberi pengaruh besar pada tahapan selanjutnya.

memulai dengan spirit “percaya pada kelompok” bahwa mereka selalu punya solusi atas situasinya. maka fasilitator memang benar2 ditantang untuk sekedar menjadi pemandu proses, mencipta alat bantu dan membantu semua orang tetep fokus pada tujuan. pada sesi rembug bersama warga ini saya gunakan alur 4M (menghargau apa yang ada, menggali apa yang mungkin, menyepkati apa yang harus dikerjakan, dan melahirkan inovasi baru). temuannya saat sesi menghargai apa yang ada.

benar bahwa peristiwa pemberdayaan itu di masyarkat tidak butuh di ceramahi, karena memang sudah ada beragam program dan kegiatan yang pernah mereka alami. tugas fasiltator adalah membuat para warga belajar bisa mengenali dan memahami pola bagaimana sebuah program pemberdayaan itu dikerjakan hingga berhasi menurut penilaian mereka atas pengalaman sendiri. inilah yang disebut bagaimana mengubah sebuah pengalaman menjadi batu pijakan belajar.

sesi rembug ini akhirnya sampai pada tahap Menggali apa yang mungkin.. dimana bursa ide dan harapana semua orang sya minta di tuliskan dalam sebuah lembar kertas untuk kemudian di rekap, diberi penjelasan, di dialogkan mana saja yang sama dan dipilih mana saja yang benar-benar mau di pilih sebagai agenda utama membangun Desa secara sosial budaya dan pendektan ekonomi yang bersambungan dengan masa depan ekosistem kawasan konservasi. hasilnya, smua orang merasa idenya mendapat ruang.

bagaimana ide2 itu bisa muncul sepenuhnya dari warga? saya cukup menggunakan seni bertanya (1) apa program pemberdayaan yang diinginkan? (2) siapa kelompok penerima manfaat khusus yang mau di jadikan sassaran khusus? (3) bagaimana memulainya? pertanyaan ini sangat membantu tiap orang menunjukkan keunikan dan kesediaannya untuk menjadi pencetus ide dan gagasan atas masa depan kampung mereka sendiri.

menginjak masuk sesi yang ketiga (menyepkati apa yang harus)… hawa dingin makin terasa di Desa ini.. dan dirasa pertemuan cukup dulu. maka acara di sepakati untuk dilanjut pada sesi diskusi sesi per dusun. kebetulan desa duwet krajan ini dusunnya ada tiga…..

( B.E.R.S.A.M.B.U.N.G. ) ……… ke bagian 2😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s