Menulis, Lakukan saja!


sudah pernah menjadi keinginan dalam diri. bahwa mendokumentasikan proses belajar itu adalah penting. dari sekian banyak perjumpaan, sedikitnya dari masa waktu lima belas tahun. saya mengakui ada berbagai kelimpahan kekuatan yang menjelaskan bagaimana perubahan sosial itu sangat dipengaruhi oleh kualitas percakapan dan relasi tiap orang.

menerima peran terbaik sebagai fasilitator pertemuan. menempa saya menjadi pribadi yang terus berkembang dalam belajar mengelola dinamika proses-proses pertemuan. mulai dari pertemuan yang durasinya satu hingga tiga jam, sampai pertemuan yang berdurasi sehari hingga lima hari.

ada pertemuan yang sifatnya mengenalkan sesuatu, ada yang memang di desain sebagai forum mendalami tema suatu hal. juga pertemuan yang diharapkan pada akhir sesi akan melahirkan kesepakatan baru sebuah kelompok. pun dengan pertemuan yang di rancang untuk mentransfer pengetahuan dan ketrampilan tertentu.

my book

dari banyak perjumpaan dengan berbagai kelompok. mulai dari organisasi sosial, lingkungan hidup, hak azasi manusia, institusi pemerintahan, kelompok perusahaan. juga organisasi profesi seperti para pendidik dan guru sekolah. semuanya menjadi bagian dari proses belajar yang indah dan menyenangkan.

terjadi beragam pengalaman dan pemahaman yang menantang diri saya sendiri untuk semakin dan terus-menerus menginovasi apa itu proses belajar. pada satu segu saya percaya belajr adalah proses mencipta. kenapa mencipta? sebab pertemuan yang dirancang untuk sekedar mengulang pertemuan sebelumnya, tentu akan membosankan dan membuat “warga belajar – peserta pertemuan” akan mudah bosan. untuk itulah keberadaan alat bantu pertemuan, metode, alur pertemuan, seni bertanya perlu dijadikan modal dasar seorang fasilitator.

kenapa itu penting? fasilitator ini seringkali dipahami sebagai hal yang sama dengan motivator. padahal sangat berbeda, motivator komunikasi satu arah. sedangkan fasilitator adalah seorang pemudah cara yang mendidik proses, menciptakan alat bantu, melahirkan seni bertanya, mengelola dinamika kelompok dan merancang alur sesi pertemuan. yang semuanya di desain menjadi pengalaman baru bagi warga pertemuan. maka proses memfasilitasi itu adalah sebuah proses belajar yang tanpa mengajari. karena semua orang belajar mengalami #salingsinau. ya sebuah peristiwa dimana dialog multi arah sedang terjadi. fasilitator menjadikan proses pertemuan adalah peristiwa yang menjadi makin efektif dan berkualitas ketika belajar memang berlandaskan kebutuhan dan bukan paksaan.

ketika belajar menjadi kebutuhan. kemudian setiap warga belajar menjadi bagian tak terpisahkan dalam proses #salingsinau dan #salingberbagi dalam sebuah pertemuan. maka otomatis alur pertemuan yang bersifat waktu pendek seperti hanya tiga jam maupun lima hari. itu maknanya sma saja bagi mental seorang fasilitator.

semua ilmu. semua pengetahuan pada dasarnya bisa di pelajari. ketika sesorang telah belajar, kemudian dia mau menggunakan pengetahuannya secara terus menerus maka dia bisa menjadi seorang yang terampil. dan ketika ketrampilan di asah terus-menerus maka dia aka nmenjadi keahlian. keahlian yang di inovasi terus-menerus inilah yang akan menjadikan anda sebagai pribadi akan menjadi maestro.

tahun ini saya sedang merancang untuk menerbitkan satu buku (syukur-syukur bisa langsung dua), satu buku terkait pengalaman mengelola proses pertemuan dan belajar. yang kedua buku tentang keberhasilan komunitas pembahru sosial yang melahirkan inisiatif sosial yang berdampak. tulisan ini adalah bagian dari intisari berjejak, yang saya rekam dari setiap proses perjumpaan belajar. baik bersama komunitas di perkotaan dan perdesaan. mulai dari pengalaman memfasiltasi pertemuan sebuah kelompok di wilayah Aceh (Naggroe Aceh Darussalam) hingga sampai Papua. baik pertemuan yang bersifat mentrasfer skill, merancang rencana strategis, melahirkan pembaruan visi misi organisasi. juga pertemuan yang bersifat menjadi narasumber/pembicara sebuah forum.

dengan kekuatan yang maha memberi kekuatan, dengan dukungan keluarga rasa cinta pda anak dan istri, dengan kasih ibu dan bapak,  para sahabat berkebaikan, kolega jaringan sosial, para suhu dan master kebijaksanaan kehiudupan, para bijak berstari yang telah bersedia menemani proses belajar. tentu ini adalah asset yang berkelimpahan di sekitar saya. semoga buku perdana segera terbit di penghujung pergantian tahun.

“Cak ipoeL akhirnya menulis buku!” ah, itu salah satu kalimat yang sepertinya akan sampai pada para penyuka konser yang pernah saya hadiri dan kelola. oh ya saya kadang suka menyebutnya acara training, pelatihan, presentasi materi menjadi narasumber adalah sebuah proses pertunjukan. karena menyebutnya sebagai konser jauh lebih terasa seger dan asik sejak saya setiap kali menerima tantangan. seperti sore ini saya akan segera menghadiri tantangan untuk ke salah satu wilayah kabupaten di pulau Borneo. berharap dapat yang terbaik saja.

salam dunia cerah, salam kebaikan….

pagi disebuah tepian bendungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s