LAKARe Impian


Kampoeng LAKARe
“Lakare Ngunu Yo Ngunu, Lakare Ngene Yo Ngene”

Ungkapan tageline diatas adalah identik dengan istilah dan sesebutan lokal di pinggiran kota surabaya. bahwa Lakare itu dalam pengertian istilah di sekitar sini adalah “jika memang atau kalau memang bisa saja jika saja”.

Vision Board ala jaringan  Sahabat Kampoeng

                                                   Vision Board Kampoeng Lakare Impian

istilah LAKARe. pernah suatu ketika saya berjumpa dengan beberapa sahabat di Bali. pas saya sedang asyiek ngobrol, lalu teman saya mengucapkan kata lakare kepada temannya yang baru datang. saya semula menebak nebak dan penasaran ingin segera bertanya. apa arti kata “LAKARe” dalam percakapan dia barusan. akhirnya sepulangnya dari pertemuan. kami sempatkan untuk menyeruput kopi dan saya tanyakan apa arti kata Lakare ketika dia bercakap dengan sahabatnya tadi? “artinya darimana mas. itu ketika ditanyakan kepada orang yang baru datang atau datang belakangan ketika orang lain sudah pada berkumpul”. demikian teman saya yang berasal dari kabupaten Klungkung menjelaskan.

tetapi kata Lakare bisa juga berarti “asalnya darimana” ketika digunakan untuk menanyakan jejak sebuah benda. misalnya “sepatu Lakare atau Lakare Sepatu” (kalau tidak salah begitu pengucapannya) colek bli gung dan Dek Gus. ;d ;d smile emotikon

nah kampung saya yang bernama Lakarsantri. saya sedang tidak berusaha menebak-nebak untuk memaknai kata Lakare dan Santri. jika pakai pendekatan bahasa disini bisa jadi ada yang suka mengartikan “asale seko santri”.

tapi ada juga yang menyukai pengartiannya santri jaman dulu artinya itu tidak sama dengan arti santri jaman sekarang. bahwa kalau jaman sekarang santri itu adalah murid-murid di sebuah pondok pesantren. atau yang menjadi asuhan para guru yang di sebut Kyai (orang yang dituakan). tapi ada yang menyebut asal kalimat sebutan santri itu adalah bagi mereka yang memang sedang menjadi “cantrik” yang bermakna asuhan para begawan pada jaman kerajaan majapahit dan sebelumnya. saya masih ingat di kampoeng ini memang ada sebuah candi. dan menurut riwayat beberapa penelitian ahli bahwa candi itu memang menjadi penanda jika untuk sebuah penghormatan kepada orang yang di hormati, dia bisa juga menjadi sebuah penanda peristiwa bersejarah pada jamannya. baik yang terkait perjanjian maupun mengenang sebuah peristiwa besar.

lalu untuk meresmikan dan meletakkan bangunan candi itu juga tidak bisa sembarangan sewaktu-waktu. karena yang dianggap bisa menegabsahkan adalah kehadiran para brahmana pada jaman itu. bisa juga candi itu adalah sebuah penanda pusat adanya semacam pengembangan ilmu pengetahuan dan melakukan tugas pendidikan pada kawasan wilayah yang sekitarnya. ibaratnya jika jaman masyrakat santri jaman sekarang adalah disitu semacam musolla atau masjidnya.

sekarang. Lakarsantri telah bergeser dari keberadaan masyarakat petani penggarap, hingga menjadi masyarakat kontraktor. perlahan ada yang sebagian masih bertani dengan model subsisten (menanam sekedar untuk melanjutkan kenangan dan mencukupi kebutuhan bertahan hidup dan tetap tidak cukup).

tantangannya masy Kampoeng Lakar ini mau menjadi yang seperti apa? tentu tidak akan ada satu jawaban yang cukup. tetapi saya percaya bahwa setiap nama kampung selalu memiliki “keajaiabannya sendiri-sendiri”. maka menjadikan nama kampoeng itu sebagai pintu masuk berpijak melahirkan inisiatif kebaikan adlaah salah satu ihtiarnya. Tidak harus sama persis… tapi saya mengimpikan lahirnya masyarakat kreatif yang saling sinau, saling bersahabat dan saling berbagi.

ada joglo (arena berkreasi) yang tidak hanya untuk tempat berteduh. tapi disitu Visi telah ditanamkan, misi sudah siap di kembangkan. Bahwa Sanggar Sahabat Kampoeng bisa segera mewujud, dimulai dari komunitas kreatif yang ada. siapa saja komunitas kreatif itu? siapa saja yang bersedia berkelompok dengan minat bakat yang ingin saling di tumbuhkan dan diasah terus menerus….

saling sinau, saling bersahabat, saling berbagi. untuk apa??? untuk bersama-sama menjadi bagian dari masyarakat kreatif. kenapa ini penting? karena generasi kampung urban ini sudah kehilangan “pacul dan aritnya”. skr sudah berganti dengan keyboard, layar monitor, mouse, senar gitar, tustel, kamera video, sound, alat2 kunci pembuka mur baut serta aneka olahan produk kreatif yang beradaptasi pada jaman.

Kampoeng LAKARe melahirkan Kampung Kreatif yang bertumpu pada kekuatan Komunitas Kreatif. dari satu gubug pojok sebelah pembuangan sampah semua ini berawal. memang butuh getaran “kegilaan” bagaimana memaknai itu semua menyimpan kekuatan tersembunyi. bahwa menjadi berkumandang itu tidak perlu berisik sebagaimana tumbuhnya serumpun padi, demikian Tan Malaka pernah berujar semasa hidupnya.

di joglo Kampoeng LAKARe inilah maunya multi komunitas bisa berinteraksi dan terus saling sinau-salingbersahabat-dan saling berbagi. ini memang gagasan kecil dan sederhana. tapi tanpa kolaborasi multi pihak dan adanya pelaku dalam rajutan tim kreatif sulit bisa menjadi mewujud. menularkan energi kebaikan itu memang akan menghadapi multi tantangan dan sekaligus melahirkan dukungan. Toh kalimat dan nama semua kampung itu juga sebuah gagasan imajinasi pada jamannya, dan sebagai warga kampung tidak ada yang keliru untuk ikut menghidupkannya dengan imajinasi ala kita masing-masing untuk mengkumandangkan gagasan perubahan dari hal sederhana yang bisa kita lakukan.

dengan adanya klinik bermain, klinik menari, klinik drama, klinik musik, klinik potografi, klinik cinema, klinik dolanan tradisional, klinik perkusi, klinik saling sinau pengembangan ketrampilan. ditambah akses internet, di sertai tumbuh kembangnya komunitas seniman kampung yang melestarikan seni budaya tadisi. di padu dengan klinik desain grafis, klinik menulis – literasi, serta mengasah ketrampilan kewirausahaan. inilah isi dari Kampoeng LAKARe dengan jejak yang jelas untuk melahirkan Kampoeng Kreatif.

sekedar berbagi visi bagaimana menjadi merdeka sejak dari kampoeng, ditulis sambil menikmati cahaya kelembutan sang Dewi Malam yang beranjak pulang menjemput pagi…. ;d
‪#‎sebelahbendungan‬, 2 mei 2015

ipoel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s