Ayat-ayat suporter bola


Indonesia masih dalam impian. Yaa kita berbeda menjadi kuat itu masih blm merasuk ke seluruh sendi kehidupan sebagai bangsa.

image

"Karena tidak ada manusia yang sempurna atas manusia yg lain.."

Menyimak tragedi demi tragedi. Bagaimana atas nama sentimen dan rasa bangga pd identitas dukungan klub bola. Lalu saling membenci dan berujung membunuh. Tentu saja memperparah karut marut dunia persepakbolaan.

Entitas supporter memang bisa sangat berbeda dengan manajemen klub dan duni pembinaan-pengembangan olahraga.

Ada banyak nyanyian, meme, stiker, poster, aneka editan sotosop dan catatan blog serta group yg tidak hanya salinf menghina. Tapi sudah mewujud kebencian. Serta sedemikian menjadi sikap terbuka yg sangat fasis dan rasis (kelompok kami lah yg paling superior dan benar atas segalanya).

Bukan kejadian baru. Berharap pada pemerintah apalah daya. Berharap pada tokoh klub bola apalah kerjanya. Berharap pd pejabat daerag apalah programnya. Dan berharap pada siapalagi dengan apalah apalah dan apalah ….

“Kejadian minggu kemarin di sragen yang menewaskan dua suporter arema karena di keroyok suporter pendukung persebaya united”. Tentu akal sehat sedang di jungkirkan dalam bentuk “kegoblokan kolektif” demikian meminjam istilah sahabat saya di FB @anwar doank.

Saya pun menyebutnya “apapun nama klub bola yg kamu sukai dan nama organisasi suportermu. Jika ada temanmu menyaksikan suporter lain terbunuh akibat pengeroyokan dan dia menjadi bangga. Maka segera periksakan dia ke Rumah Sakit Jiwa”. Karena benih2 psikopat dan ketidakwarasan sedang menampakkan dirinya disitu.

Okeylah. Korban sudah sejak puluhan tahun lalu. Konflik dan upaya perdamaian simbolik sdh dilakukN tokoh2 suporter, rekonsiliasi dan mencairkan suasana antar pemain dan klub pejabat daerah nasional pernah di lakukan. Tapi rivalitas bonek arema. The jack dan viking. Seolah belum mereda.

Sekarang pendekatan apa yg mungkin dilakukan? Waktunya berpikir sebaliknya.

Ya coba saja geser zona ketegangan identitasnya menjadi ketegangan kreatif.

Bahwa dari dulu suporter ini tdk ada yg merekrut, melatih, merawat dan mendidiknya. Bahkan memberdayakan dalam ruang kreasi sosial yg tetep jd suporter keren diluar lapangan bola.

Pertanyaannya. Kuq bisa mereka terus lahir dan teregenerasikan?? Sudah jadi hoby yang merasuk ke tulang sumsum identitas wilayah (bisa jadi). Gak kera Ngalamn kalau ga mencintai Arema. Gak Suroboyo temenan kalau gak bobek. Pun demikian dengan the jack. Pasoepati dan viking tentunya.

Lalu apa yg bisa diambil sebagai inti positifnya? Bahwa sepak bola tanpa  supporter itu seperti lautan tanpa ombak dan sayur tanpa lauk beserta sambalnya.

Berpikir sebaliknya yang lain adalah. Hampir sedikit sekali inisiatif memunculkan “kecerdasan-kebaikan kolektif”, jika mencari kata sebaliknya dr istilah sahabat saya itu.

Mau yang seperti apa? Ketika elitnya dunia sepakbola sdg dijamah para mafia. Ketik kebijakan bola dan pemilik klub sdh semata2 dikelola dengan pendekatan bisnis yg mengakumulasi modal.

Maka saatnya para suporter sendiri, baik suporter tua maupun muda perlu membangun budaya menerim perbedaan dan memperbanyak informasi kecerdasan kolektifnya.

Contohnya seperti apa? Seperti foto dua bocah yang bergandengan tangan dan berpoto bareng itu.

Bisa juga persahabatan indivudual arek suroboyo yg punya keluarga di malang lun sebaliknya. Bisa dan berani berpose dg uniform dan jersey seperti itu juga.

Bahkan jika ada komunitas antar suporter mau main bola barenf. Entah di lapangan kecil sperti futsal maupun lapangan turnamen. Bagus juga itu dibudayakan. Tapi caranya yg arema pakai kostum bonek dan yg bonek pakai kostum arema selama main. Jika usai acara pengin bertukar secara permanen. Yaa alhamdulillah….

Bukankah teriakan rasis saja jika di eropa dan belahan bumi yg lain itu sdh mengundang sangsi. Kenapa merendahkan dan saling membenci seolah tanpa pernah di sanksi jik psrtandingan disini? Silahkan dinilai sendiri betapa struktur dan kebijakan serta penegakan hukum tdk bermakna penting.

Sekomplek itulah situasinya. Sekarang sieh saya membayangkan lahirnya persaudaraan sosial antar suporter. Yang dimulai dari individu per individu. Kalau ke kasembon lagi saya mau pakai kaos bonek dan sahabat saya yg lunya jersey arema bisa dipakai lalu kita pose bareng. Saya bonek dan saya arema. Dan kami tetap bersahabat. Bahkan kami punya minat membangun indonesia dengan hal2 kecil di lorong kesunyian.

Saya menduga jika itu di upload. Maka para maniak itu akan membully dan meminta penjelasan. Tapi jika kecerdasan kolektif tidak dimunculkan. Maka berarti kita memang sedang sama2 menggelapkan situasi tanpa solusi apapun.

Ayooo yang punya teman, sahabat, keluarga, jaringan komunitas lintas wilayah yg penuh rivalitas beraksi dan bergeraklah.

Cukup pakai jersey dan kabarkan pada manusia yg sedang tersesat itu kembali menjadi Indonesia. Kembali menjadi manusia yg saling bersahabat, bermain, belajar, berbagi dan berkarya untuk kebaikan.

Saya senggol para sahabat muda dan kreatif Arema untuk menjadi pelopor. Yang bonek jika seperti um grandonk yg jd kumendan bonek garis hijau tdk bersedia. Biarlah  para bonek tua yang lain yg akan memulai.

Suporter bola indonesia bersatulah!!
Indonesia memanggilmu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s