Scooter Bapak


“Selalu belajar bersyukur …… memang terlalu banyak yang bisa di syukuri. bahwa mode itu cenderung proses yang berulang, hanya ada penambahan disana-sini.

image

dulu (skitar 1997-2001) sebelum scooter kembali menjadi beken seperti jaman skr dengan goyangan musik uuuyyeeeeee….

yaaahhh….. waktu itu saya sudah berklinong-klinong buat ke kampus, ke teman-teman lama di pagesangan, kedurus, sidoarjo.

juga ke lokasi kawan2 buruh yang memilih saling sinau sambil jual koran bulanan di kawasan pabrik di sekitar Gunung gangsir pasuruan, advokasi ke ujungpangkah gresik, serta  ke pacet saat awal2 mengenal sodara FPR (forum perjuangan Rakyat Pacet).

bahwa sedulur2 ini memilih berjuang mereklaiming (merebut kembali) tanah leluhurnya di desa Sendi – diatasnya desa pacet yang seluas 200Ha.  

banyak cerita. banyak kesan dan proses belajar menjadi pembelajar yang mengajarkan waktu itu. bahwa mengelola kekuatan sosial masyarakat yang yakin dengan perjuangan bisa dilakukan dengan banyak pendekatan.

Membangun tim solid, membuat organisasi, membuka diakusi terbuka, melakukan investigasi vegetasi tanaman produktif. menelusuri jejak-jejak tempat tinggal di dalam hutan. kemudian menyusun pemetaan kawasan wilayah kelola.

Hingga menelusuri jejak pohon keluarga, siapa saja yg pd tahap2 awal bermukim dan hidup disitu. Sampai skr telah melahirkan keturunan berapa banyak dan siapa saja. Semua bs diketahui dg jelas silsilah dan datanya.

semua pelaku waktu itu yakin bahwa hutan adalah ruang hidup, ya ruang untuk laboratorium, ruang untuk berkembang secara sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan.

Idenya bahwa menjadi Desa dalam hutan itu bisa tanpa merusak kawasan. dan itu terbukti sampai sekarang.

saya masih ingat semua peristiwa itu terjadi skitar tahun 2000-2002. dan ketik  sayakemana-mana ditemani dengan scooter hasil minjam gantian makai yang dimiliki bapak.

terima kasih ya pak….. anakmu memang suka bertualang sejak kecil dan muda. tapi ya disitulah saya makin belajar dari kata-kata bapak, bahwa berkelilinglah untuk mengenal kehidupan. sekaligus engkau akan belajar makna hidup.

satu kalimat bapak saat saya usia SMP, di obrolah tengah malam waktu menjaga kambing-kambing yang dipersiapkan untuk dijual yang mau menyukuri hari raya kurban.

“belajar menghadapi tekanan itu seperti air yang di kantongi dalam plastik nak, jika di biarkan begitu saja. maka engkau tidak akan kemana-mana. maka ambillah plastik berisi air itu dan tekanlah sekuat tenaga. saat pecah itulah si air akan mengalir dan menemukan jalannya…..”

itulah kalimat yang waktu disampaikan tidak begitu saya pahami makna sesungguhnya betapa itu sangat bernilai hingga kini sering saya kutip saat berjumpa dg sedulur2 dan sahabat yg lagi curhat.

Semua nasehat baik. Apalagi ketika pada perjalanannnya kemudian dan hingga kini telah menemukan kebenarannya sendiri ketika saya makin terlibat dalam dunia advokasi [pembelaan sosial] bersama kelompok-kelompok masyarakat marginal di lintas kota dan kabupaten.

terima kasih ya pak….. dan masih belum usai dialog malam itu. disampaikan pula betapa penting berorganisasi dan saling mengenal dengan orang lain dalam bekerjasama.

dan baik kedua yg masih saya ingat adalah ketika di malam yg lain bapak membagi perumpamaan. Bahwa ditiap-tiap kumpulan manusia itulah akan lahir para pemimpin.”jikalau ada seribu bebek, maka dia hanya bebek belaka yang mengikuti arah jalannya satu ekor bebek di depannya. dan tidak pernah bisa melahirkan kekuatan, meski bisa bersuara dengan riuh rendah ketika mereka lapar.

tapi coba kenali harimau yang untuk mengaum baru bisa di tahun keduanya. dan satu ekor saja harimau di tengah ribuan bebek. engkau bisa bayangkan sendiri. mana yang lebih bisa mengubah keadaan dan menjadikan reaksi”.

weiiihhhh…….  kalimat seorang anak “ngarit dan angon wedhus” yang tidak lulus SD. kebetulan sekolah bapak saya ini hanya sampai kelas 3 SD saja. tapi jejaknya pada rasa ingin tahu.

Hal itu terbukti dengan semangat  belajarnya mengalahkan teman-teman seusianya di kampung. Salah satu yang nampak ketika saya main kerumah kawan bermain saya, tidak saya jumpai buku-buku sebanyak koleksi punya bapak saya.

padahal mereka rata-rata pemborong bangunan dan mapan secara ekonomi sejak saya masih kecil sampai kini bahkan.

sementara bapak yang terlahir dari sepasang petani tangguh yang ahli menganyam bambu [almarhum kakek saya] dan tiap hari ke sawah yang tidak lulus SR (sekolah rakyat) waktu itu.

sahabat….  inilah cerita scooter dan bapak saya yang kebetulan sering saya pakai. semoga ada yang bisa menjadi manfaat buat pagi ini.

selanjutnya ingin saya mengisahkan tersendiri bagaimana Ibu membagi kebijaksanaannya dan mencurahkan kasih sayangnya pada si bocah yang suka bluron di sungai….

Harta dan semua kemewahan fisik pd akhirnya bisa habis dan lapuk oleh jaman. Tapi ilmu dan kebijaksanaan. Dia jauuuh lebih panjang dari dari batas usia hidup si pelaku kebijaksanaan.

#salam dunia ceRah…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s