Mbah Mo


Di Kira Gampang Jadi Mbah Mo?

Baru liat simbolnya saja sudah gampang genut dan heboh. Lalu main tuduh sana sini dengan ancam sweeping serta main sita buku bacaan. Ah…. Memalukan!!

Kalau kekuatan gagasan ditanamkan pada keyakinan itu semudah memproduksi aksesories. Maka tidak perlu lah itu sekolah, kursus, try out, pelatihan dan aneka cara meningkatkan pengetahuan di kerjakan.

Gagasan internasionalisme sebagai landasan gerak dan berpikirnya gerakan sosial ekonomi politik di dunia. Memang tidak ada yg baru.

Sebagaiana sebuah kata mutiara yng pernah disanpaikan syaidinna Ali RA. “selama dibawah matahari dia tidak lagi baru”.

Khilafah gagasan internasionalisme. Majapahit dan nusantara pd jamannya juga gagasan internasional. Komunisme gg hadir sebagai antitesa kapitalisme juga hadir sebagai gagasan internasional.

Islam, kristen, budha, hindu dan semua ajaran agama keyakinan samawi juga berkeyakinan sebagai gagasan peradaban dunia (internasional).

Pendidikan kaderisasi militansi;
Belajarlah sampai ke negeri china (hadits nabi saw). Saat itu dikatakan tentu bukan tanpa landasan logis dan pemahanan sejarah yang utuh. Apalagi seperti nabi.

Kerjasama lintas parpol di Inonesia dg partai komunis china sejak bbrp tahun lalu. Menarik di simak sebagai seiring sejalan perkembangan negeri china hari ini yang berhasil membuat lompatan jauh ke kedepan sesuai visi PKC di era awalnya.

Memfokuskan pada program pendidikan dan kaderisasi. Kemudian program pemerintah saat menutup diri dari dunia internasional dg ketat di 20tahun pertamanya (1949 – 1969). Fokusnya pada bidang pendidikan. Revolusi kebudayaan, sistem pendidikan, manajemen sekokah, kesejahteraan guru, krakter kurikulumnya dll.

cangkul tani

Si Tani penggembala sapi;
Pada sekitar awal tahun 2000 saat bekerja di isu tata kelola hutan, pertanian, mata air, dll. Saya bertemu dg banyak pelaku sejarah.

Sebut saja lelaki keriput kulitnya yang masih tangguh mencangkul di sawah ini namanya mbah mo. Saya bersyukur pernah berkenalan dan belajar dari baagimana dia memaknai hidup.

Saya waktu itu di minta lari sama smua keluarga saya. Tapi saya tidak melakukannya. Karena saya tidak merasa bersalah melakukan apa2.

“Hampir bertahun2 saya tinggal di desa pacet dan saya serinf pergi ke daerah claket dan trawas. Disitu dulu banyak petani miskin dan tanah2nya dikusai perusahaan perkebunan.”

Nah itu skitar 1956 klo tidak salah. Lalu sampai skitar tahun 1965 itulah saya memang bergabung di organisasi bernama Pemuda Rakyat. Untuk bergabung ke organisasi ini melalui tahap pendidikan khusus. Lalu praktek pengalaman atas ilmu yang du dapat di pendidikannya.

Lalu Organisasi ini menugaskan saya masuk ke daerah claket dan trawas. Dengan menyamar sebagai penggembala dan pencari rumput saya berhasil mengenal bbrp warga disana.

Dulu di celaket itu ada perkebunan besar (mungkin yg skr di pecah2 jd villa dan area kebun perhutani itu).

Saya bangun organisasi dengan rekrut pemuda. Lalu kami lakukan reklaiming saat isu land reform. Hampir dua lokasi petaninya berhasil dapat lahan garapan.

Tapi sampai peristiwa meletus di tahun 1965 itu saya blm pernah ikut pendidikan jadi PKI. Apalagi di resmikan sebagai angggota dan menjadi kader PKI. Sampau saya berpikir dan sempat bertanya pada pengurus PKI tingkat kecamatan. Kenapa sieh susah sekali jadi anggota resmi dan kader PKI? Begitu mbah mo bercerita…

lalu saya pun menyela dan bertanya menimpali “iyaa mbah yaaa kenapa kuq tidak mudah??” padahal kan skr partai itu sampai membagi2 amplop, beras, baju dan uang tuk menjangkau pemilihnya?

Disitulah nak saya juga blm dapat jawabannya sampai skr. Lalu kenapa saya yang hanya pemuda kampung yg belajar berorganisasi, belajar menanam bersama, mengelola lahan garapan bersama dan mengembangkan diri bersama di skitar tahun 1960an itu kuq jadi salah yaaa??

“Mbah mo…. Paling kurang banyak pemuda yg panjenengan rekrut dan latih. Juga kurang luas tahap membangun organisasinya. Sehingga kenapa jenengan tidak pernah dapat KTA apalagi ditetapkan kader PKI.” itu sergah saya sambil sot tahu… Heheee…

Tapi kenapa mbah mo sampai ikut di penhara dan tanpa pengadilan bersama ratusan dan ribuan yg lain yaaa di kab mojokerto….???

Dari cerita ini. Setidaknya saya belajar memahami sejarah masy dan perjalanannya di desa lereng gunung welirang ini.

Bahwa kesadaran berorganisasi dan igin mewujudkan cita2 pwmbukaan UUD 1945 di skitar tahun 1950an itu sdh sedemikian maju. Berorganisasi sejak muda, menemani sahabat lintas kampungnya yg punya masalah agraria juga kesulitan ekonomi dengan caranya. Mengajaknya belajar dan berorganisasi. Menjadi jiwa dan semangatnya .

Lalu semua seolah menjadi sedemikian sulit dan menakutkan dg trauma mendalam ketika reformasi di awal2 pun itu tetap menakutkan buat yang pernah jadi korban di PKIkan. bahwa organisasi tani, pemuda di kampung paska 1965-1998 itu kemudian semua menjadi tumpul dan jinak. karena injakan sedpatu lars popor bedil aparat yang di persenjatai.

diskusi dikit, sudah di gerebek. kumpul2 bicangkan kenyataan hidup. beso knamanya di daftar, lalu di panggil dan tidak kembali. atau jika kembali maka bagian tubuhnya ada yang cacat permanen. lalu inikah yang akan kalian banggakan sebagai pengagum dan pelaksanaan dila2 dalam Pembukaan UUD 1945 alenea yang terakhir? dan inikah adagium “sik penak jamanku toohhh?”. bodoh dan menjadi goblok di negeri ini memang tidak murah tapi bisa gratisan seperti yang sedang di pertontonkan sekarang.

aneka peraturan dan undang-undang. di baca di perdebatkan saat merumuskan, tapi tyidak pernah di laksanakan. atau jika di laksanakan maka di selewengkan dan di pelintir dengan sesuka hati pembuat tafsirnya. palagi jika tafsirnya penguasa. mau kembalai ke jaman serba apa pun kebenaran itu versi penguasa. mau nulis dan nerbitkan buku harus dapat restu dan ijin penguasa? semua serba di lihat sebagai ancaman. mau sampai kapan dengan penu hrasa takut dan ancaman seperti itu???

Mbah mo… terimakasih sudah membagi makna hidup. dan kenapa manusia sebagai makhluk sosial penting bersolidaritas dan berorganisasi. sebab orang miskin itu selain punya kekuatan menahan rasa lapar, senjatanya yang paling besar adalah solidaritasnya.

seiring usiamu yang makin menua….. Semoga tenang dan damai disana. Terimakasih sudah berbagi cerita pada si penunggang kuda besi yang belajar pada petani pinggir hutan waktu itu….. #tabik

Salam satoe seroepoet…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s