Kalimat itu


​Berbisik Kepada Terimakasih

Menyimak ceritanya, juga berbagi cerita bapaknya telah berkegiatan apa yg terbaru. 
Berdialog dengan saling mengajukan pertanyaan2 saling sinau sprti “kenapa permainan tradisionalnya di Trowulan?”. Membuat saya berpikir sejenak. *karena dapat tempat yang mau kerjasama disitu* …. Ya sesederhana itu 

Lalu mulai bercerita lagi tentang cerita terbaru. Rencana ikut kompetisi menyanyi di sekolahnya. “Bagainana jika ku ikut lagi?”. Begitu tanya kakak jihan pada saya.
“Ya ikut saja. Dan ikuiti dengan segenap dan sebesar perasaan kakak sendiri mendapatkan kesenangan dengan bernyanyi” saya coba beri pendapat.
“Nah itu. Tetapi kadang di kultun itu bbrp pesan yg disampaikan menyanyi itu bisa menjadi penyebab orang lupa dan lalai pada dunia yg lain?”. Kakak jihan mengajukan pendapat yg lain.
“Ouw. Begitu pesannya. Menyanyi itu seperti ilmu pada umumnya. Saat digunakan untuk kebaikan dan menebar manfaat. Ya semakin bagus, selain buat diri si penyanyi” saya tambahkan sedikit perspektif.
Masuk menjelang suasana dhuhur saya beranjak keluar sbntar. Lalu membungkus nasi putih, kuah kare (tanpa rajungan). Dg lauk cumi goreng kesukaannya dan ikan bakar kerapu. Dilengkapi es teh khas kesukaannya.
Saat tiba kembali di beranda tempat perjumpaan. Bersama-sama kami mulai membuka bungkusan makan siang. Seusai sesuap nasi masuk…. Tiba2 dia berucap dengan tatapan mata yg berbeda.
Satu bagian kalimat yg membuat saya bahagia adalah “terimakasih yah, sdh bawa jajan, buah dan makanan”. Demikian kakak memberi apresiasi dg bahaasa jiwa penghargaan.
Buat saya uni sangat menyejukkan selain bahagia. Saat banyak di luar sana kehilabgan apresiasi pd hal2 kecil yg di saksikan dan alami setiap hari. Jiwanya kini telah makin belajar.
Ah kata terimakasih ini. Mengingatkan saya oada seorang penyajak jalanan yg memikih selera penyuka “kopi diatas got”. Bbrp hari lalu di seblah terminal bus antar kota. Kami berjunpa sesaat. Lalu dia berbagi ttg sebuah judul buku yg segera terbit judulnya “SURAT KEPADA TERIMA KASIH”.
Anda tidak perlu penasaran. Tapi cukup dirasakan saja kekuatan judulnya.
Melihat jam menjelabg ashar. Saya bilang kepadanya tuk berpamitan balik. Demi melanjutkan putaran perjalanan selanjutnya. Satu kecupan sayang di keningnya. Menjadi cara kami melanjutkan cerita masing-masing.
Jaga diri. Makin menikmati proses belajar, banyak baca buku, tetap baik sama teman dan berbagi apa yg bisa brrmanfaat ya kak….. 
Selamat sore dunia!
Pantura berbau amis darah hewan qurban…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s