Ananging Ni


Apa yg sudah kamu pahami dan pelajari dari huruf – bahasa belanda ni?” tanya ibu yang diminta jd selir bupati Japara pada putrinya Kartini. 

“Kebebasan bu” jawab kartini singkat. Lalu di tanya lagi sama ibunya “apa yg tidak ada dalam huruf dan bahasa belanda itu Ni?”. Sambil berpikir lama akhirnya “tidak tau Bu”
“Bhakti Ni. Itu yg tdk diajarkan oleh huruf dan bahasa belanda”. Lalu muncullah bayangan lama saat kartini kecil diajari membaca huruf Ha yg di pangkur kemudian huruf Na yg di suku dan huruf La yg di pangku. Maka bisa di baca Trinil. 
“Mereka tidak mengenal dan tidak akan paham makna di pangku Ni”.

Demikian bagian pilem yang paling kuat pesannya pilem kartini adalah di jaman kolonialisme Belanda.
Cerita diatas adalah dialog Ibu dan anak yang di perankan bunda Christine Hakim sama dik Dian Sastro ini nyaris sprti sdg tidak syuting filem. Untuk ini saya bangga bisa menyaksikan akting beliau yg kesekian. selain jd cut nya dien yang juga dahsyat aktingnya bunda christine.
Dialog di tepian telaga yg membahas Bhaktu dan hubungan Ibu dan Anak ini bikin saya meleleh kali kedua. Selain saat Ni memulai menggoreskan kapur di papan tulis ketik mengenalkan huruf A.
Entah melihat goresan kapur yg di slow motion itu seperti menggores bathin bangsa yg pernah sebegini dalamnya menjadi pintar perempuanx adalah suatu dosa.
“Pak kyai.. Adakah kisah dalam alquran yg menyatakan peran ilmu adalah sangat penting?” demikian Ni bertanya. Lalu pak kyai menjelaskan kedudukan surat Iqra. Kemudian diperjelas lah sama Ni.
“Apakah di surat itu dijelaskan membaca itu hanya untuk laki-laki dan tidak boleh untuk perempuan?” dengan tersenyum pak kyai ini menjawab mempelajari ilmu adalah ibadahnya kaum laki dan perempuan.
“Remeng.. Remeng… Raditya kingkin….” lamat-lamat tembang suluk pesisiran ini mengalun menyertai malam demi malam tiga gadis pingitan pendopo Japara.

 
Pada satu sisi film karini besutan hanung yg ini mengambil sisi lain yg menujukkan kuwalitas risetnya. Pun bagaimana Ni perduli pada situasi perempuan di jamannya. Juga dilakukan dg wawancara dan dialog yg berisi penjelasan2 perlunya perempuan belajar, berilmu dan menentukan apa yg ingin di dalaminya.
Saat dia menggali data umur berapa dikawinkan? Kenapa pemahat kayu dan pengukir itu di jaman itu tdk beranu melukis wayang karena takut kuwalat. Tapi stelah dijelaskan. Akhirnya banyak pesanan yg mengalir.
Dari sekian banyak kata dialog dan adegan. Saat kartini menjawab lamaran bupati rembang. Adalah bagaimana dia mau menunjukkan telah berilmu dan menginginkan kebebsan menenetukan nasibnya.
“Kula nuwun Rama.. Saya menerima lamaran kang mas bupati rembang. ANANGING (tapi). Saya mengajukan syarat”
“Katakan apa yg menjadi syaratmu Ni..” dg singkat ramanya menjawab.
Kaping setunggal “saat di pelaminan saya tdk mau mebasuh telapak kaki suami saya. Kaping kalih… Ah saya lupa. Tapi “kaping tigo saya mau dia menjamin saya boleh membuka kelas belajar dan mengajar di pendopo rembang”.
Lalu kaping sekawan “saya mau yu Ngasirah di pindah ke griyo depan bukan di griya belakang”
Itulah bbrp adegan asiek dan kuat. Selain bbrp kejadian bagmna putri pendopo ini bermainya adalah ngerumpi dg panjat tangga kayubdan di tembok pembatas wilayah dalem pendopo. Selain bermain cublek2 suweng yg juga dimainkan oleh kartini, kardinah dan rukmini.
Menjadi tergambar kuat sieh satu diantara yg lain konteks sistem sosial yg berlaku. Ini pilem berhasil menggambarkan hubungan mesra ningrat jawa dg belanda.
Lalu melahirkan pencerahan kartini yg banyak belajar dr buku2 belanda yg di tinggal kakaknya raden Sosrokartono yg fenomenal itu. Juga besaar saat dia membaca buku hylda dan karya stela (feminist).
Dari situlah kartini bersurat dg kakaknyaRM Sosrokartono. Yg juga berperan menjdi faktor pemicu otodidak kartini bisa menulis artikel yg terbit di jurnal antropologi dan bahasa yg diterbitkan kerajaan belanda.
Ananging …. Oeee ciyuuuzs amatt. Saya saraknken buat yg belum nonton. Saya sarujuk buat menyiapkan slayer, saputangan dan bedak buat yg suka bermake up.

Karena betapa anak2 perempuan dan remaja yg di lepas dari bhakti kasih ibunya. Memang mengundang haru dan banyak mengaduk-aduk emosi tanpa ampun.
Seperti pamitnya kartini saat berangkat menerima pinangan bupati Rembang yg menghampiri bu Ngasirah (ibunya). “Kula pamiet nggieh….”
Dengan linangan airmata dan kalimat terbata. menjadi penutup film kartini. 
Saya lirik si alent sibuk dg kue keringnya.

Semeentra bundanya di sebelahnya terlihat sembab.
Sambil menunggu hujan reda, jemari tergoda menuliskan apa yg barusan di liatbsbg cara kami belajar sejarah. Dg menikmati filem besutan hanung B. 

Bahwa perjuangan kartini untuk menjadi setara mendapatkan hak atas pendidikan dijamannya. Memang tidak mudah. 

Betapa libgkaran sosial pendopo ningrat. Sejak di kekerabatan. Himpitan dan tekanan sistem hegemoni bekerja sampai pd struktur yg paling kecil.

Tapi itulah kartini. Yang sudah pengin dipanggil cukup kartini saja. Karena menulis bagi perempuan di jamannya benar2 tidak mudah. Memgingatkan kekejaman julia butterfly yg di peru apa nikaragua. Bahwa perempuan tidak boleh sekolah.

Lalu fiperjuangkan boleh kuliah. Tapi tidak boleh mengambil jurusan hukum karena bisa digunakan untuk membela para marginal.

Tapi itulah perempuan2 tangguh yg selalu dilahirkan oleh jaman. Untuk menjadi terang. Ananging ni jika boleh dapat ilham di jaman kini.

Habis gelap terbitlah terang. Ananging ni habis terang lalu apa? Dan inilah warisan sekaligus tantangan bagaimana jowa kartini yg pembelajar layak mendapat tempat di hati para pembaharu.

Selamat merayakan keabadian dalam meretas karya2 berkebaikan…. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s